Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

17 Jun 2017

Towards Zero - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 16:14 0 comments


Judul : Towards Zero / Menuju Titik Nol
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 304 halaman
Alih Bahasa : Windrati Selby
Sampul : Staven  Andersen
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Apa hubungan antara percobaan bunuh diri yang gagal, tuduhan pencurian yang keliru terhadap siswi sekolah, dan kisah romantis seorang petenis terkenal? 
Untuk pengamat biasa, mungkin memang tak ada hubungan apa-apa. Hingga kemeriahan pesta yang diadakan di rumah seorang janda tua di Gull’s Point berakhir dengan kematian. 
Dan tampaknya, semua itu bagian dari rencana pembunuhan yang rapi.



“Saya suka cerita detektif yang bagus. Tetapi, mereka selalu mulai di tempat yang salah! Mereka mulai dengan pembunuhannya. Padahal pembunuhan itu merupakan akhirnya. Cerita itu dimulai jauh sebelumnya, kadang-kadang bertahun-tahun sebelumnya dengan segala macam sebab dan peristiwa yang membawa orang-orang tertentu, ke suatu tempat tertentu, pada suatu waktu tertentu, di suatu hari tertentu” –Mr. Treves.

Novel karangan Agatha Christie ini benar-benar sesuai dengan penjabaran dari Mr. Treves. Cerita dimulai berbulan-bulan sebelum pembunuhan terjadi. Jika pembunuhan terjadi di musim panas September maka awalnya dimulai sejak musim dingin Januari.

Sesuai dengan sinopsisnya, cerita dimulai dengan percobaan bunuh diri dari Andrew MacWhirter yang sayangnya berhasil digagalkan oleh sebatang pohon yang tumbuh di tebing, tempat ia menjatuhkan dirinya. Dia digambarkan sebagai laki-laki yang kehilangan banyak hal karena ia hidup terlalu jujur. Tapi kata perawat yang selalu menceramahinya di rumah sakit, orang yang pernah mencoba bunuh diri tidak akan melakukannya lagi. Dan sepertinya itu benar, karena pada akhirnya ia dapat bangkit dan dapat memberikan anugerah pada Inspektur Battle di kemudian hari.

Cerita kali ini memang tidak menampilkan tokoh detektif Hercule Poirot atau Miss Marple. Yang ada hanyalah Inspektur Battle, salah satu sahabat Poirot di Scotland Yard. Awalnya ia harus menyelesaikan urusan anak bungsunya yang dituduh melakukan pencurian. Malangnya, anaknya itu memang memiliki kekurangan yaitu dirinya akan merasa kalau dialah pelakunya jika ditekan terus menerus. Tapi, sebagai seorang polisi, dia tahu anaknya tidak bersalah. Dan berkat tingkah anaknya jugalah, ia pada akhirnya dapat menangkap pelaku pembunuhan yang gilanya bukan main.

Tak lengkap rasanya jika tidak ada kisah romansa di novel karangan Agatha Christie. Dan kali ini, ia memberikan kisah cinta sebagai dasar sebuah pembunuhan. Kisah ini berpusat pada Nevile Strange, petenis tampan yang digilai banyak wanita. Dia diceraikan istri pertamanya, Audrey Strange, kemudian menikahi wanita yang lebih muda 10 tahun darinya, Kay Strange. Jika Audrey adalah wanita yang tenang, lemah lembut, dan penuh sopan santun, maka Kay Strange adalah kebalikannya, kecantikannya dan vitalitasnya yang membuat Nevile mencintainya.

Tiba-tiba saja Nevile mempunyai sebuah gagasan untuk mempertemukan istri pertama dan keduanya di rumah ibu asuhnya sekaligus berlibur di sana. Rumah yang biasanya tenang itu harus menerima ketegangan dari dua wanita itu hampir selama dua minggu. Bukan hanya Nevile yang dicintai oleh dua istrinya yang berlibur di sana. Ada Thomas Royde yang sangat mencintai Audrey sejak kecil, rela pulang dari Malaya dan berniat melamar gadis pujaannya itu. Kay yang memang sangat cantik memiliki seorang teman laki-laki yang akan mengikutinya kemana pun ia pergi yaitu Ted Latimer, laki-laki itu menginap di hotel dekat rumah ibu asuh Nevile, bahkan terkadang ia ikut makan malam dan makan siang di sana.

Hingga akhirnya pembunuhan itu terjadi. Si korban adalah sang tuan rumah alias ibu angkat Nevile yang bernama Camillia Tressilian. Selama hampir 12 tahun lebih, ia tinggal dengan sepupu jauhnya, Mary Aldin ditemani pelayan-pelayannya yang setia. Inspektur Battle yang kebetulan ada di sana yang menangani kasus ini bersama dengan keponakannya yang merupakan inspektur di daerah itu.

Sejak awal, semua tuduhan dan bukti-bukti mengarah ke satu orang yaitu Nevile, dimulai dari sidik jari di tongkat golf hingga bercak darah di jasnya. Tapi, belajar dari pengalamam membaca buku karangan Agatha, semua bukti-bukti itu pasti hanya tipuan untuk pembaca. Akhirnya kita akan mencari-cari tersangka yang lain, dimulai dari semua orang yang menginap di rumah itu dengan menyingkirkan Nevile sendiri, yaitu Audrey, Kay, Aldin, Thomas, hingga Ted.

Mungkin kita akan berpikir bahwa Audrey-lah si pelaku. Karena sejak awal cerita, dia digambarkan sebagai wanita pendendam yang menggunakan topeng malaikat di wajahnya. Satu-satunya motif yang terpikirkan mengenai pembunuhan ini adalah warisan tapi tak ada satupun dari mereka yang kekurangan uang. Hingga akhirnya motif kebencian itu mulai terlihat. Pembunuhan ini diperlukan untuk membuat Nevile menjadi tersangka kemudian ditambah bukti-bukti lain yang bermunculan, semuanya mengarah pada Audrey.

Saat Battle akan menangkap Audrey, dia mulai ragu karena ia merasa melihat ekspresi anak bungsunya di wajah Audrey, wajah orang yang mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Kemudian datanglah Tuan MacWhirter membawa sebuah anugerah kepada Battle ditambah sebuah kebenaran yang diungkapkan Thomas kepada Battle. Kebenaran mengenai kisah dibalik perceraian Nevile dan Audrey.

Perceraian itu terjadi bukan karena Nevile yang mencintai Kay, tapi terjadi karena Audrey berselingkuh dengan Adrian. Semua itu ditutupi dengan rapi oleh Nevile. Jadi, sudah terlihat jelas bukan Audrey yang menyimpan dendam pada Nevile melainkan sebaliknya.

“Pembunuhan itu sendiri merupakan akhir dari ceritanya. Itulah Titik Nol-nya. Kematian Lady Tressilian kecil artinya dibandingkan dengan tujuan pokok pembunuhnya. Pembunuhan yang saya maksudkan adalah pembunuhan Audrey Strange.” –Inspektur Battle.

Wah, hebat sekali kan rencana pembunuhannya. Dengan meninggalkan bukti-bukti palsu mengenai dirinya sendiri, ia hampir berhasil mengirim mantan istrinya ke tiang gantungan. Tapi rencananya berhasil digagalkan berkat kesaksian MacWhirter walaupun sesungguhnya kesaksian itu bohong, untuk pertama kali dalam hidupnya, MacWhiter berbohong demi menyelamatkan seseorang.

Yahhh ... terima kasih untuk Nevile, berkat dirimu semua kisah cinta ini mulai melihat titik terang. Audrey akhirnya menikah dengan penyelamatnya, Andrew MacWhirter. Thomas akhirnya sadar bahwa ia lebih mencintai Aldin daripada Audrey. Dan mungkin saja Kay dapat melupakan suaminya yang hanya memanfaatkannya itu dan mulai membuka hatinya pada Ted yang selalu setia dengannya.



10 May 2017

The Architecture of Love - Ika Natassa (Review)

Posted by Unknown at 14:26 0 comments


Judul : The Architecture of Love
Pengarang : Ika Natassa
Tebal : 304 halaman
Desain Sampul : Ika Natassa
Ilustrasi Isi : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron's You've Got Mail hingga Martin Scorsese's Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai "karakter" yang menghidupkan cerita.
Ke kota itulah Raia, seorang penulis mengerjar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.
Raia menjadikan setiap sudut New York "kantor"-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percapakan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.
Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.


Saat pertama kali membaca sinopsis buku ini, yang pertama kali terpikir itu adalah mengenai Raia, si penulis yang kabur ke New York, karena masalah putus cinta sehingga membuat dia tidak bisa menulis kembali. Kemudian dia bertemu dengan River yang akan memberikan cinta baru sehingga dia bisa menulis kembali.

Tapi nyatanya buku ini menceritakan konflik yang lebih dalam dan lebih dewasa untuk dipikirkan. Raia bukan hanya sekedar putus cinta dan River bukanlah obat yang mampu membuat dia menulis kembali. Mereka berdua hanyalah dua orang yang sedang melarikan diri dari masa lalu masing-masing, dan tersesat di New York. Tanpa sengaja bertemu dan mulai menghabiskan waktu bersama. River dengan buku sketsanya dan Raia dengan laptopnya.
“Why do you let me come with you? I mean, we were strangers. Why did you let me follow you around?” –Raia. “Because you’re as lost as I am, Raia. And in a city this big, it hurts less when you’re not lost alone.” –River.

Raia bukan hanya putus cinta biasa tapi dia ditinggalkan oleh suami yang dicintainya sejak SMA karena sang suami tidak suka dengan pekerjaan Raia. Sedangkan River masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena ia sudah ‘membunuh’ istrinya. Ia berharap suasana New York yang selalu bising dapat mengalahkan suara-suara hinaan yang muncul di kepalanya setiap saat, sampai akhirnya ia sadar bahwa caci maki itu mulai tak terdengar setiap ia sedang bersama Raia. Raia sendiri berharap New York dapat membuatnya menulis kembali sampai akhirnya ia bertemu dengan River yang mengajarinya bahwa setiap gedung di kota itu memiliki cerita. Semua gambaran setiap gedung didiskripsikan dengan begitu apik, setiap kata mengalir dengan indahnya belum lagi ditambah dengan sketsa gedung yang terselip di antara ribuan kata.

“You can see any buildings or simple things like mailbox on the street, and you can find and make up stories from it, right?” –River.
Tapi, bukan River yang membuat Raia menulis kembali karena saat mereka berpisah, Raia masih bisa tetap menulis. River memutuskan untuk menjauhi Raia karena ia takut wanita itu terluka saat tahu bahwa ia masih sangat mencintai mantan istrinya. Raia juga menjauh karena dia tidak ingin mengalami patah hati lagi.

Rasa rindu dan cinta yang River rasakan bukan omong kosong, ia pun tahu kalau Raia merasakan hal yang sama terhadap dirinya. Semua kenangan mereka selama di New York dimulai dari kegiatan berbisik-bisik di Whispering Gallery, jalan-jalan di Flatiron Building, Woolworth Building, The Ansonia, 100 Eleventh Avenue, Paley Park hingga menemani Raia mencari buku di New York Public Library membuat River tidak bisa menahan diri lagi. Ia yang pertama kali mendatangi Raia dan menyatakan perasaannya kepada Raia hanya dengan tiga buah kata ‘Aku mau kamu.’

“People say that Paris is the city of love, but for me, New York deserves the title more. It’s impossible not to fall in love with the city like it’s impossible not to fall in love in the city.” –Raia.
Nyatanya kisah Raia berakhir sama seperti kalimat pembuka di buku terbarunya.

Buku karangan Ika Natassa ini memang bisa membuat terhanyut di dalamnya, tak hanya mengenai hubungan Raia-River yang dimulai dari orang asing menjadi teman hingga kekasih, kita juga bisa melihat ikatan persahabatan antara Raia dan Erin yang begitu erat. Ikatan antara Raia dan ibunya yang akan membuat kita terenyuh membaca setiap dialog mereka. Dan tak ketinggalan bagaimana kesabaran ibu River menghadapi anaknya yang masih trauma dengan masa lalu. Semuanya dikemas dengan begitu apik, manis, dan sangat menghibur.

Death on the Nile - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 14:11 0 comments


Judul : Death on the Nile / Pembunuhan di Sungai Nil
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 352 halaman
Alih Bahasa : Mareta
Desain & Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Dia terbaring miring. Sikapnya wajar dan tenang. Tapi di atas telinganya ada sebuah lubang kecil dengan bekas darah kering di sekelilingnya.
Kemudian pandangan Poirot tertuju pada dinding putih di depannya dan ia menarik napas dalam-dalam. Dinding putih bersih itu dikotori oleh huruf J warna merah kecokelat-cokelatan yang ditulis dengan gemetar.
Poirot membungkuk di atas mayat gadis itu dan dengan hati-hati mengangkat tangan kanan si gadis. Salah satu jarinya bernoda merah kecokelatan.


Drama pembunuhannya hebat sekali! Dirancang sedemikian rupa biar semua orang ikut bingung. Belum lagi ada masalah pencurian dan pemalsuan permata yang tambah bikin bingung.

Tapi Poirot emang selalu baik sama pasangan-pasangan tertentu. Dia mengampuni Tim dari masalah pencurian dan pemalsuan permata dan akhirnya hidup bahagia bersama kekasihnya, udah lama saling suka tapi keduanya diem terus sampe akhirnya Poirot yang bertindak biar mereka bersatu.

Terus buat pasangan pelaku utama yang sempat terpisah gara-gara rencana mereka akhirnya mereka bisa bersatu kembali di Neraka. Ya, selamat menempuh hidup baru aja di sana, ini semua berkat Poirot yang gak bilang kalo Jackie sebenarnya punya dua pistol. Yah, akhirnya mereka bunuh diri sebelum masuk penjara.

Di novel ini, kayaknya Poirot seharusnya bukan buka jasa detektif, tapi buka jasa perjodohan aja wkwk... ada tiga pembunuhan yang terjadi di atas sungai Nil, tapi ada tiga pasangan yang akhirnya bahagia di alamnya masing-masing berkat Poirot.

Curtain: Poirot's Last Case - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 12:17 0 comments


Judul : Curtain / Tirai
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 320 halaman
Alih Bahasa : Dra. Gianny Buditjahja
Desain & Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Penampilan TERAKHIR Hercule Poirot.
Lima pembunuhan di tempat berbeda, dengan motif berbeda.
Hanya satu kesamaan: X.
X terlibat dalam kelima pembunuhan itu dan berada di sekitar lima tempat itu ketika pembunuhan terjadi.
X-lah otak kelima pembunuhan itu.
Tapi dengan licik dia berhasil menghindar dari kecurigaan orang.
Kelima pembunuhan itu begitu sempurna.
Sekarang X berada di Styles.
Berarti tak lama lagi akan ada pembunuhan di sana.
Baru kali ini Poirot menemukan lawan yang seimbang.
Sayangnya Poirot sudah tua. Jantungnya sudah lemah.
Memang otaknya masih tetap tajam. Tapi fisiknya sudah uzur dan jantungnya bisa berhenti berdenyut setiap saat.
Tinggal menunggu waktu.
Dan waktunya yang singat itu mungkin takkan cukup untuk bisa menyeret X ke pengadilan.


Novel Agatha yg ini entah kenapa rasanya ribet sekali. Harus ngebayangin adanya si X yang menyebabkan 5 pembunuhan. Dan sekarang di sebuah Villa, ada si X di sana, Poirot dengan seenaknya nyuruh Hasting buat mencegah pembuhan itu tanpa tahu siapa X yang dimaksud. Berhubung novelnya make sudut pandang orang pertama Hasting, saya yang baca jadi ikut gregetan + pusing kayak Hasting.

Daripada si X, sebenarnya saya lebih tertarik dengan semua hubungan tokoh-tokoh yang ada di novel ini. Terutama hubungan Hasting & anak bungsunya, Judith. Dan ternyata Nortonlah si X, sebenarnya udah kerasa sih soalnya dia tukang hasut, hampir aja Hasting bunuh orang gara-gara dia, yang baca 'kan jadi ikut takut, masak 'aku' bunuh orang sih? Yah walaupun banyak sih tokoh 'aku' punya Agatha yang jadi pembunuh, tapi gak harus digambarkan dengan gamblang kayak gini, kan? Tapi untungnya ada Poirot, Hasting dikasi obat tidur sama dia.

Yosh, masalah X sudah beres, tapi gak ada yang bisa menghukum dia soalnya dia gak terlibat di dalam pembunuhan secara langsung bahkan dia gak punya motif, dia cuma suka aja ngontrol orang buat ngelakuin pembunuhan. Tapi akhirnya dia ditemukan meninggal di kamarnya dan dinyatakan bunuh diri. Cuma Hasting aja yang tahu kalo sebenarnya Norton dibunuh orang dan pembunuhnya adalah Poirot sendiri, di situlah twist-nya, Poirot yang selalu mengagung-agungkan nyawa manusia akhirnya mengambil jalan membunuh X agar tidak banyak nyawa yang hilang karena si X.

Dan di sinilah akhirnya Poirot meninggal dunia, sehari setelah kematian X, dia meninggal di tempat tidurnya karena serangan jantung. Laki-laki itu sengaja ngejauhin obatnya biar waktu dia kena serangan, dia bisa langsung meninggal, sedih banget pas baca suratnya Poirot. Berakhir deh petualangan Poirot di Novel ini.

Sad Cypress - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 10:28 0 comments


Judul : Sad Cypress / Mawar Tak Berduri
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 352 Halaman
Alih Bahasa : Ny. Suwarni A.S.
Desain & Ilustrasi Sampul : Staven Andersen
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Wajah Elinor memerah. "Akankah Anda tanyakan pada saya --apakah saya yang telah membunuh Mary Gerrard?"
Poirot bangkit. Cepat-cepat ia berkata, "Saya tidak akan menanyakan apa-apa lagi pada Anda. Ada beberapa hal yang saya tak ingin tahu...."
Namun bahkan Hercule Poirot pun kadang-kadang membohongi dirinya sendiri. Sebenarnya ia ingin, ingin sekali tahu.


Selama membaca novel Agatha Christie, biasanya saya jarang banget berhasil nebak pelakunya, soalnya suka gonta-ganti seiring berjalannya cerita. Tapi tebakan saya selalu bener kalo masalah 'ini suka itu' atau 'pasti nanti ini akhirnya sama itu'. Kalo bagian itu selalu bener haha  >.<

Kayak bukunya yang ini, jelas-jelas di awal sudah dibilang Elinor itu udah tunangan sama Roderick dan mereka bakal nikah. Mereka juga saling mencintai. Tapi saya biasa-biasa aja sama pasangan ini. Nah, beberapa halaman berikutnya muncullah tokoh Dr. Lord, langsung aja mikir, "Dokternya ini kayaknya cocok sama Elinor." Padahal Dr. Lord belum ada interaksi sama Elinor, dokter itu baru cuma ngomong beberapa kalimat doang sama pasiennya dan saya langsung pengen biar si Lord aja sama Elinor.

Coba tebak? Akhirnya si Elinor emang sama Lord. Gini nih nasehatnya si Poirot ke Lord, 
"Dia mencintai Roderick, tapi apakah artinya itu? Denganmu, dia bisa berbahagia..."
Btw, novelnya Agatha yang ini, walaupun gak ada adegan romantisnya tapi gak tau kenapa serasa romantis banget hahaha...


Cat Among the Pigeons - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 09:58 0 comments


Judul : Cat Among the Pigeons / Kucing di Tengah Burung Dara
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 384 halaman
Alih Bahasa : Ny. Suwarni A.S.
Desain & Ilustrasi Sampul : Staven Anderson
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Suatu larut malam di sekolah asrama, dua guru menyelidiki lampu yang menyorot misterius dari Paviliun Olahraga ketika seluruh penghuni lainnya terlelap. Di antara tongkat-tongkat olahraga, mereka terantuk mayat seorang gadis yang tidak terkenal yang tertembak pada jantungnya.
Sekolah itu heboh ketika "si kucing" menyerang lagi. Sayangnya, seorang murid perempuan bernama Julia Upjohn tahu terlalu banyak. Terutama, dia tahu bahwa tanpa bantuan Hercule Poirot, dia akan menjadi korban berikutnya.


Pada awalnya mengira kalau novel ini hanya akan bercerita seputaran sekolah perempuan saja. Eh? Ternyata tidak! Ini dimulai dari revolusi dan permata yg hilang! Dan Bob si pilot Raja Ali itu pinter banget. Coba dia masih hidup, mungkin cocok sama Julia, kan Bob yang nyembunyiin permatanya, terus Julia yang nemuin, jodoh banget. 

Ngomong-ngomong, si Ann itu memang rada mencurigakan sih dari dia cerita soal ibunya, terus waktu Adam cerita ke dia kalo Poirot mulai menyelidiki semua ibu dari staf di sekolah, kok dia tenang-tenang aja? Tuh, bener kan dia tersangkanya!

8 May 2017

Antologi Rasa - Ika Natassa (Review)

Posted by Unknown at 18:57 0 comments


Judul : Antologi Rasa
Pengarang : Ika Natassa
Tebal : 344 halaman
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


KEARA

We're both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe. How can we be so different and feel so much alike, Rul?
Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuat aku jatuh cinta, my dear, dan aku di sini terbaring menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu.
Three years of my wasted life loving you.

RULY

Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa bahwa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, "Pak, istrinya sudah sadar," dan bahwa gue bahkan tidak berniat sedikit pun untuk mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.

HARRIS

Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, "Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love."
That's probably as close as I can get to hearing that she loves me.


Ya sesuai dengan judulnya, novel ini memang penuh rasa.

Semua rasa tercampur aduk di setiap lembar novel ini. Sudut pandang yang terus berubah-ubah semakin membuat kita bisa meresapi semua perasaan karakternya. Ikutan frustasi bareng Harris sama perasaannya ke Keara dan harus rela dicuekin sama cinta matinya itu selama setahun. Ikutan galau bareng Keara sama perasaannya ke Ruly tapi di satu sisi dia punya Panji yang cinta ke dia, belum lagi perang dinginnya ke Harris dan gimana rasa cemburunya dia ke Denise. Dan buat Ruly yang entah kenapa masih cinta mati ke Denise padahal Denise udah punya suami, sampai akhir kayaknya dia gak sadar ya kalau Keara cinta mati ke dia. Walaupun akhirnya Keara sempet pacaran sama Ruly tapi akhirnya mereka putus. Ruly balik lagi ke dunia fantasinya berharap suatu saat nanti Denise bisa ngeliat dia dan Keara gencatan senjata dengan Harris terus memilih liburan ke Singapura, tempat di mana dia memulai perangnya ke Harris.

Nice story, konfliknya terasa nyata banget ^^

Divortiare - Ika Natassa (Review)

Posted by Unknown at 17:37 0 comments


Judul : Divortiare
Pengarang : Ika Natassa
Tebal : 328 halaman
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


"Jadi lebih penting punya Furia baru daripada ngilangin nama mantan lo dari dada lo?"
Pernah nonton Red Dragon? Aku masih ingat satu adegan saat Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins melihat bekas luka perluru di dada detektif Will Graham (Edward Norton), dan berkata, "Our scars have a way to remind us that the past is real."
Tapi kemudian kita tiba di satu titik ketika yang adaa hanya kebencian luar biasa ketika melihat tatto itu, and all you wanna do is det rid of it. So, then you did.
Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar.
Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn't want to.


Saat pertama kali membaca sinopsinya, sebenarnya merasa agak sedikit malas karena temanya mengenai perceraian, mungkin nanti akan ada terlalu banyak air mata dan melodrama. Tapi tebak apa?

Ternyata novel ini keren banget! Ini terlalu jauh dari melodrama! Sekali masuk ke dalamnya, seakan sudah tidak bisa keluar kembali. Pembawaannya ceritanya juga sangat bagus, kita bahkan bisa merasakan kegundahan yang dirasakan Alexandra saat ia harus memilih antara menikah dengan Denny atau tetap menjadi janda. Memang akhir ceritanya gantung, tapi tenang saja, ada novel lanjutannya ya....

A Very Yuppy Wedding - Ika Natassa (Review)

Posted by Unknown at 15:25 0 comments


Judul : A Very Yuppy Wedding
Pengarang : Ika Natassa
Tebal : 288 halaman
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


The life of business banker is 24/7, dan bagi Andrea, bankir muda yang tengah meniti tangga karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all. Namun di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So she should be smiling, right?
Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.


Awal mulai membaca novel ini, saya merasa agak bosan ... mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Alurnya terkesan cepat dan setiap adegannya singkat-singkat, bagusnya setiap adegan langsung to-the-point tapi lama-kelamaan hal itu membuat agak bosan. Alhasil novel ini akhirnya hanya menjadi bahan bacaan sebelum tidur, sehari hanya dibaca 10 halaman, padahal biasanya bisa habis baca dua novel dalam sehari kalau sedang semangat.

Tapi dari halaman 200 (sisanya hanya 82 halaman), barulah mulai ada rasa menggebu-gebu untuk segera menyelesaikan novel ini, mulai terbawa dengan emosi karakternya. Akhirnya mulai suka banget sama hubungannya Andrea dan Adjie. Adegan yang paling greget itu saat Andrea kabur dari rumahnya padahal besok dia akan menikah dengan Adjie. Dan gregetannya semakin menjadi-jadi saat akhirnya Adjie membawa Andrea pulang ditambah dengan percakapan mereka di mobil yang begitu dalam tapi ... CUT!

Tiba-tiba saja dipotong argghh ... rasanya digantungin, lagi seru-serunya terus dipotong dan tidak ada penjelasan lagi. Dan akhirnya mereka bahagia. Tapi secara keseluruhan, novel ini menghibur. Dan harus saya akui kalau di beberapa halaman mendekati akhir, saya nangis membayangkan Andrea yang menderita habis, SAKIT!

Girls in the Dark - Akiyoshi Rikako (Review)

Posted by Unknown at 14:41 0 comments


Judul : Girls in the Dark / Ankoku Joshi
Pengarang : Akiyoshi Rikako
Tebal : 279 halaman
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Nona Aubree
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : Kana Otsuki
Ilustrator : @teguhra
Penerbit di Indonesia : Penerbit Haru


Sinopsis


Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi ....

Bagi yang ingin mengganti suasana hati dari bacaan novel romansa atau remaja lainnya, mungkin novel bertema misteri ini cocok untuk dibaca. Misterinya tidak seberat novel misteri karya Agatha Christie, tapi efeknya lumayan membekas. Pembawaan novel ini juga berbeda dari novel-novel pada umumnya, rasanya seperti kita dibawa ikut masuk ke ruangan, tempat 'para tokoh' ini berkumpul.

Dari awal membaca, saya sendiri sudah curiga kalau yang 'rusak' itu Itsumi sendiri. Berhubung dia bersekolah di sekolah perempuan dari kecil, kecurigaan saya bertambah. Dan saya sendiri agak sedikit kaget saat tahu kalau laki-laki yang 'dekat' dengan Itsumi ti guru sastranya sendiri ... belum lagi sahabatnya yang ternyata jauh lebih serem daripada Itsumi.

N or M? - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 11:36 0 comments


Judul : N or M? / N atau M?
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 280 halaman
Alih Bahasa : Mareta
Desain & Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit di Indonedia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Sebagai mata-mata terkenal, Tommy dan Tuppence Beresford terlibat dalam salah satu kasus mereka yang paling membingungkan di tengah ketegangan awal Perang Dunia II.
Dua agen Hitler yang paling dipercaya berada di Inggris. N adalah laki-laki ... M adalah wanita. Keduanya pakar yang hebat dalam penipuan ... dan pembunuhan.
Di pondokan terpencil di tepi pantai, dengan penghuni-penghuni yang kelihatan tak berdosa, Tommy dan Tuppence mencium jejak rencana jahat yang melibatkan spionase, penculikan, dan pembunuhan.

Kali ini bukan Hercule Poirot atau Miss Marple yang akan menjadi detektif tapi ada Tommy dan Tuppence, pasangan mata-mata yang sangat romantis.

Aduh, mungkin karena tema buku yang berisi perang ditambah mata-mata, penyadapan, penculikan dan lain sebagainya, rasanya agak sedikit sulit ditangkap. Ceritanya seperti kita sedang bermain petak umpet tapi entah siapa yang sedang diajak bermain, intinya sulit. 

Dan akhir cerita ini menjadi kurang greget karena saya sudah berhasil menebak siapa mata-mata Jerman di sini. Kedoknya mudak ditebak karena di Indonesia sudah banyak yang berkedok seperti itu, tapi masalahnya tidak sebesar menjadi mata-mata ... hanya masalah pengemis yang memang suka 'membawa anak orang lain' untuk menjadi kedoknya.


Taken at the Flood - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 11:14 0 comments


Judul : Taken at the Flood / Mengail di Air Keruh
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 352 halaman
Alih Bahasa : Ny. Suwarni A.S.
Desain & Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Gordon Cloade tewas dalam serangan udara di London. Dia tidak meninggalkan surat wasiat, dan kekayaannya yang besar jumlahnya jatuh pada istrinya yang masih muda, Rosaleen.
Tetapi kepada lima orang telah dijanjikan bagian dari kekayaan itu--lima orang yang sangat membutuhkan uang. Nah, mereka baru bisa menerima bagian mereka apabila Rosaleen meninggal sebelum mereka.
Ada lima orang yang punya motif kuat untuk membunuh. Dan terjadilah pembunuhan yang kejam.
Tetapi bukan Rosaleen korbannya.


Sejak awal membaca, sebenarnya sudah mulai curiga kalo Rosaleen itu bukan Rosaleen yang asli. Dan kalau dilihat-lihat tema novel ini agak mirip dengan tema novel 'A Murder is Announced'. Sama-sama ada penyamaran demi keuntungan pribadi. Demi uang, David itu membuat adiknya seolah-lah masih hidup dengan membuat orang lain menjadi adiknya.

Hal yang membuat bingung di sini adalah motif pembunuhannya. Ada tiga kematian, satu kecelakaan, satu bunuh diri dan satu pembunuhan. Si David yang dari awal sudah terlihat jahat, kemudian manis di tengah-tengah, eh, ternyata kembali lagi ke awal, dia memang jahat dari lahir!

Murder on the Orient Express - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 02:15 0 comments


Judul : Murder on the Orient Express / Pembunuhan di Orient Express
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 360 halaman
Alih Bahasa : Gianny Buditjahja
Desain & Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Tertahan salju di Pegunungan Balkan, para penumpang Kereta Api Orient Express dikejutkan oleh berita mengguncangkan bahwa salah seorang dari mereka telah dibunuh secara keji pada malam sebelumnya.
Dihadapkan pada masalah yang harus ditangani lebih cepat daripada langkah kaki si pembunuh dalam usahanya untuk menyelamatkan diri, Poirot tak mempunyai waktu lagi untuk berdiam diri.


Terjadi sebuah pembunuhan di kereta api Orient Express yang sedang terjebak salju, korbannya ditikam sebanyak 12 kali. Dari segala petunjuk di kamarnya, diketahui kalau korban merupakan tersangka yang berhasil kabur setelah membunuh si kecil Daisy Amstrong sehingga membuat keluarga Amstrong hancur dalam kesedihan. Ada 13 tersangka yang berada di gerbong yang sama dengan si korban. Biasanya, pertanyaan yang diajukan adalah:
"Siapa satu orang pembunuh yang terdapat di antara 13 orang itu?"
tapi pertanyaan yang diajukan Poirot:
"Siapa satu orang yang tidak bersalah di antara 13 orang itu?"

Ternyata mereka adalah komplotan yang menyimpan dendam terhadap kematian Daisy Amstrong, semuanya memiliki hubungan dengan keluarga Amstrong. Mereka saling membuat alibi untuk melindungi satu sama lain. Satu orang yang tidak bersalah adalah bibi dari Daisy yang ada di antara 13 orang itu. Dan akhirnya Poirot sepakat untuk menutup kasus itu dengan mengatakan bahwa pembunuhnya kabur dari kereta.

Waw, kasus di novel ini luar biasa keren >.< di lembar-lembar akhir, baru sadar kalau saya ditipu oleh semua kesaksian mereka. Novel ini juga yang menginspirasi salah satu episode dari anime Detective Conan.

Appointment with Death - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 01:52 0 comments


Judul : Appointment with Death / Perjanjian dengan Maut
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 272 halaman
Alih Bahasa : Indri K. Hidayat
Desain Sampul & Ilustrasi : Satya Utama Jadi
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Mengenal Mrs. Boynton sama saja dengan membencinya. Impian cinta seorang pemuda telah dihancurkannya menjadi mimpi buruk dan kepedihan. Seorang gadis cantik jelita dibuatnya hampir gila. Dua kakak beradik belia dikurungnya dalam jerat mengerikan. Tak puas-puasnya ia memenuhi nafsunya untuk membinasakan.
Kini Mrs. Boynton telah tiada. Belum pernah Hercule Poirot merasakan simpati semacam itu terhadap seorang pembunuh. Dan belum pernah pula ia dibuat sebingung dalam kasus ini. Setiap orang mencurigakan, sementara setiap geraknya dibayangi cemooh licik si penjahat.


Ada 2 anak laki-laki, 2 anak perempuan dan 1 menantu perempuan. Kelima orang itu terkurung dalam penjara yang dibuat oleh ibu mereka. Satu-satunya cara melepaskan diri adalah jika ibu mereka mati. Dan itu benar-benar terjadi. 

Mereka berlima saling melindungi satu sama lain, membentuk sebuah rantai kebohongan yang tak berujung. Dan tanpa mereka sadari, kebohongan mereka telah berhasil menutup pintu kebenaran hingga hampir membuat sang pembunuh bebas dari tuduhan.

Bukan hanya Poirot yang kesulitan mencari pembunuh di novel ini, para pembaca pasti dibuat semakin bingung dengan setiap kebohongan demi kebohongan yang terucap dari kelima anak Nyonya Boynton. Bagi yang akan membaca, siap-siap dibuat pusing yaa ^^

Ordeal by Innocence - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 00:34 0 comments


Judul : Ordeal by Innocence / Mata Rantai yang Hilang
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 360 halaman
Alih Bahasa : Ny. Suwarni A.S.
Desain & Ilustrasi Sampul : Staven Andersen
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis


Jacko Argule dituduh membunuh ibunya dan dipenjarakan. Di penjara dia meninggal.
Dua tahun kemudian, muncul orang tak dikenal yang menghancurkan kedamaian dalam rumah tangga Argyle. Bisakah orang asing ini menemukan mata rantai yang hilang dalam kasus Jacko? Apakah Jacko memang dihukum atas pembunuhan yang tidak dilakukannya?
Lalu kalau bukan Jacko yang membunuh ibunya, siapa pelakunya?


Novel ini bagus banget, bukan hanya misterinya saja yang bagus tapi kisah romansanya juga memiliki peran penting dalam kisah penuh tipu muslihat di sini.

Tina yang mencintai Micky tutup mulut karena dia berpikir Micky adalah pelakunya. Sedangkan Micky berusaha keras mengatakan kepada Tina bahwa dia bukan pelakunya karena dia tahu mereka saling mencintai. Sampai akhirnya kebenaran pun terungkap walaupun Tina harus masuk rumah sakit karena ditikam. Akhirnya Micky bersatu sama Tina, walaupun mereka saudara tetapi mereka hanyalah saudara angkat. Pasti ada surat-surat yang harus diurus, tapi ya terpenting mereka bahagia ^^

Kemudian ada Hester, si manis yang hampir dicurigai oleh semua orang, bahkan tunangannya sendiri mengatakan kalau Hester itu pelaku pembunuhan, dia bahkan menyuruh Hester mengaku dan dia akan melindungi gadis itu selama-lamanya. Tapi, kenyataannya bukan Hester-lah pelakunya. Hester akhirnya meninggalkan tunangannya dan lebih memilih Dr. Calgary yang sejak awal percaya terhadapnya. Walaupun umur mereka terpaut jauh, tapi mereka saling mencintai.


1 Aug 2014

Ten Little Niggers - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 17:50 0 comments
Sepuluh Anak Negro adalah salah satu judul buku karangan Agatha Christie. Beberapa hari yang lalu, saya baru aja selesai membaca buku yang satu ini dan seperti biasa ceritanya memang selalu mengejutkan ^^




Sinopsis



Sepuluh orang diundang ke sebuah rumah mewah dan modern di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Walaupun mereka masing-masing menyimpan suatu rahasia, mereka tiba di pulau itu dengan penuh harapan, pada suatu sore musim panas yang indah.

Tetapi tiba-tiba saja terjadi serentetan kejadian misterius. Pulau itu berubah menjadi pulau maut yang
mengerikan. Panik mencekam orang-orang itu ketika mereka satu demi satu meninggal… satu demi satu.


Desas-desus Pulau Negro dan Tuan Owen



Latar tempat dari novel ini adalah Pulau Negro. Semenjak dimulainya cerita, ada begitu banyak desas-desus perihal Pulau Negro ini. Alasan pulau ini disebut Pulau Negro adalah karena bentuknya yang menyerupai orang Negro. Pada mulanya, pulau ini hanyalah pulau yang dipenuhi karang dan tebing terjal. Sampai pada akhirnya pulau itu dibeli oleh seorang milyuner Amerika yang gila berperahu
layar, yang kemudian membangun sebuah rumah mewah dan modern di pulau kecil itu, di seberang pantai Devon. Akan tetapi istri ketiga milyuner ini rupanya tidak suka berperahu dan akhirnya rumah dan pulau itu pun dijual. Beraneka ragam pemberitaan mewah muncul di koran-koran. Kemudian keluarlah berita bahwa rumah itu telah dibeli oleh Tuan Owen.

Setelah itu timbullah gunjingan dan bermacam desas-desus. Pulau Negro sebenarnya dibeli
oleh Nona Gabrielle Turl, bintang film Hollywood yang tenar. Dia ingin tinggal beberapa bulan di sana tanpa publisitas. Ada pula yang menyatakan bahwa pulau itu dibeli oleh seorang bangsawan. Ada yang berbisik-bisik pulau itu telah dibeli untuk berbulan madu oleh Lord L muda. Bahkan ada yang berkata pulau itu telah dibeli Angkatan Laut untuk mengadakan percobaan-percobaan rahasia. Dan karena desas-desus inilah Pulau Negro menjadi berita hangat di kalangan masyarakat.

Hingga akhirnya terungkap bahwa pembeli pulau itu adalah Tuan Owen. Tuan pembela kebenaran yang mengirim surat ke sepuluh orang asing agar menginap di pulaunya itu. Surat-surat atas nama Owen atau atas nama teman lama dikirim. Si penerima tanpa curiga mengikuti ajakan surat-surat yang mereka terima, bukan hanya karena berita-berita perihal Pulau Negro tapi mereka juga dapat berlibur gratis tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Dan tak ada satu pun yang menolak. Sebenarnya mereka semua diundang ke sana agar mereka menerima hukuman atas kejahatan yang mereka lakukan, itulah tujuan Tuan Owen, si pembela kebenaran.

Setelah kesepuluh orang itu sampai di sana, mereka terjebak dalam badai dan tak bisa kembali ke pulau seberang. Semua mimpi buruk itu terjadi begitu cepat. Perlahan-lahan kedok si Tuan Owen mulai terungkap. Mereka sadar mereka telah ditipu karena sejak awal Tuan Owen itu tidak pernah ada. Nama itu hanyalah sebuah permainan kata. Inisial pria gila itu di salah satu surat adalah U. N. Owen atau bisa disimpulkan UNKNOWN alias 'TAK DIKETAHUI'. Sejak awal Tuan Owen itu tidaklah ada.


Si Sepuluh Anak Negro dan Kejahatan Mereka


Lawrence John Wargrave

Wargrave adalah seorang hakim yang baru aja mengakhiri masa kerjanya. Suatu hari, ia menerima surat dari teman lamanya yang bernama Constance Culmington. Sudah hampir delapan tahun ia tidak bertemu dengan temannya itu. Di suratnya itu temannya mengajak Justice untuk berlibur ke Pulau Negro agar mereka dapat bernostalgia dan bercerita tentang masa-masa lampau. Tentu saja itu sangat menyenangkan. Dan Tuan Justice akhirnya pergi ke pulau Negro.

Sebagai seorang hakim, Wargrave pasti setiap saat menjatuhkan hukuman kepada semua penjahat. Tapi ada satu kasus yang sering dibicarakan orang-orang. Kasus tentang Edward Seton. Banyak yang mengatakan bahwa Wargrave sengaja membimbing agar para juri memutuskan Edward bersalah padahal sebenarnya dia tidak bersalah. Banyak yang mengatakan Wargrave melakukan hal itu karena ia membenci Edward. Edward pun akhirnya meninggal dunia.

Vera Elizabeth Daythorne

Vera Daythorne adalah seorang gadis muda yang bekerja sebagai sekretaris. Dan di hari libur, biasanya ia  menjadi guru bermain di sekolah golongan rendah. Tapi berbeda dengan kali ini, ia mendapat surat dari seseorang yang bernama Una Wancy Owen agar Vera mau menjadi sekretarisnya, dia hanya perlu pergi ke alamat yang ada di surat yaitu Pulau Negro, Sticklehaven, Devon pada tanggal 8 Agustus. Karena gaji yang ditawarkan besar, tentu saja ia langsung mengikuti perintah yang ada di surat.

Vera pernah melakukan kesalahan dengan mengizinkan salah satu muridnya yang bernama Cyril Ogilvie Hamilton untuk berenang ke karang. Tapi ternyata anak itu tenggelam, bahkan setelah Vera berusaha menyelamatkannya, anak itu tetap tidak tertolong. Belakangan diketahui kalau Vera sengaja melakukan hal tersebut dan hal inilah yang selalu menghantuinya setiap saat.

Philip Lombard

Isaac Morris secara pribadi datang menemui Philip Lombard. Ia menawarkan uang yang cukup banyak agar Philip mau pergi ke Pulau Negro selama seminggu untuk melakukan sesuatu di sana. Morris mengatakan bahwa Philip dapat menemui kliennya di Pulau Negro. Karena sudah menerima uang, akhirnya Philip menyetujui pekerjaan yang ditawarkan padanya itu. Philip adalah orang yang akan mengerjakan pekerjaan apa saja, dulu sekali dia pernah mengorbankan dua puluh satu orang suku Afrika Timur untuk menyelamatkan hidupnya.

Emily Caroline Brent

Emily Brent adalah seorang perawan tua yang sangat kaku karena sejak kecil ia dididik sangat disiplin oleh ayahnya yang seorang kolonel. Dia menerima surat dari seseorang yang katanya pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Emily yang memang berkepribadian kaku hanya memiliki sedikit teman, karena itu pada saat menerima surat itu, dia menjadi sangat semangat untuk pergi ke Pulau Negro sesuai permintaan temannya itu di dalam surat. Walau dirinya sendiri tidak begitu ingat siapa temannya itu, tapi dia tetap pergi ke sana karena ia dapat pergi berlibur dengan gratis.

Dulu, Emily pernah memiliki seorang pelayan bernama Beatrice Taylor. Di mata Emily, Beatrice adalah seorang gadis penurut yang sangat rajin tapi ternyata di belakangnya gadis itu bertindah nakal. Sampai akhirnya gadis itu hamil dan Emily mengusirnya dari rumahnya. Beatrice yang putus asa itu mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri ke sungai. Menurut Tuan Owen, Emily adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Beatrice Taylor.

John Gordon Macarthur

Macarthur adalah seorang Jenderal yang menerima surat dari Tuan Owen. Dia tidak ingat apakah ia memiliki teman dengan nama Owen tapi karena undangannya tertuju ke Pulau Negro yang berisi desas-desus mengenai Angkatan Laut yang mengadakan percobaan-percobaan rahasia di sana, ia menjadi tertarik dan segera pergi ke sana.

Macarthur pernah dengan sengaja mengirim salah satu anak buahnya yang bernama Arthur Richmond ke medan perang, padahal ia tahu kalau kemungkin selamatnya sangat kecil. Dan ternyata dia sengaja mengirim Arthur karena Arthur adalah selingkuhan istrinya. Dia berniat membunuh Arthur di medan perang dan ia berhasil.

Edward George Armstrong

Armstrong adalah seorang dokter yang sangat sukses dan sangat terkenal, jam prakteknya biasanya penuh. Di bulan Agustus ini, dia menerima surat dari Tuan Owen yang memintanya untuk memeriksa istrinya yang bermasalah dengan syaraf. Surat itu berisi cek yang sangat besar beserta biaya perjalanan ke Pulau Negro. Tentu saja Dokter Armstrong tidak akan menolak tawaran pekerjaan ini.

Armstrong pernah melakukan kesalahan saat mengoperasi seorang pasien bernama Louisa Marv Dees. Sebelum melakukan operasi dia minum-minum, hingga saat melakukan operasi, pengaruh minuman keras itu masih terasa. Karena itulah pasien itu meninggal dunia. Dan tidak ada satu pun orang yang tahu kalau pasien itu meninggal karena dokter yang lalai, semua orang berpikir kalau pasien itu meninggal karena penyakitnya sulit disembuhkan. Perawat yang ikut dalam operasi juga menutup mulutnya sehingga rahasia Armstrong aman.

Antony James Marston

Antony Marston adalah seorang pemuda tampan yang kaya raya. Hari-harinya ia isi dengan bersenang-senang. Tiba-tiba saja menerima surat undangan dari keluarga Owen untuk berlibur di Pulau Negro. Karena ini adalah undangan pesta, tentu saja ia menerimanya dan berharap di sana ia bisa minum-minum sampai puas.

Dulu, Antony pernah menaiki mobil dengan kecepatan tinggi dan tanpa sengaja menabarak dua orang anak bernama John dan Lucy Combes hingga keduanya tewas. Tapi Antony berhasil lolos dari hukuman karena kedua anak itu yang terbukti tiba-tiba berlari ke jalanan.

William Henry Blore

Tuan Blore adalah seorang polisi yang diperintahkan untuk pergi ke Pulau Negro dan mengamati situasi di sana. Di sana, ia menyamar sebagai orang Afrika walaupun akhirnya kedoknya terpaksa dibuka. Dia satu-satunya orang yang tahu semua daftar tamu yang akan datang ke Pulau Negro. Dulu, Blore memenjarakan seseorang bernama Jows Stephen Landor dan orang tersebut membunuh dirinya sendiri.

Thomas Rogers dan Ethel Rogers

Kedua orang ini adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai pelayan. Mereka diperintahkan oleh Tuan Owen untuk bekerja di sebuah vila di Pulau Negro dan melayani semua tamu-tamu yang datang ke sana.

Sebelum dipekerjakan oleh Tuan Owen, pasangan Rogers ini bekerja pada Jennifer Brady. Jennifer Brady memiliki sakit jantung dan kedua pelayanan itu memanfaatkan hal tersebut dan berhasil membunuh Jennifer yang hanya terlihat sebagai akibat dari penyakitnya. Tuan dan Nyonya Rogers melakukan hal itu karena Jennifer meninggalkan warisan untuk mereka.

Isaac Morris

Di akhir cerita barulah terungkap bahwa Isaac Morris adalah salah satu target dari Tuan Owen walaupun Isaac tidak pergi ke Pulau Negro. Isaac adalah orang yang dipekerjakan oleh Tuan Owen dan orang yang menghubungi Philip untuk pergi ke Pulau Negro. Isaac sendiri meninggal karena overdosis obat pada tanggal 8 Agustus, tepat saat keberangkatan tamu Tuan Owen ke Pulau Negro.

Jadi, jika Isaac tidak dihitung, maka sudah ada sepuluh orang yang terisolasi di Pulau Negro.

Sajak Mulai Dilantunkan


Setelah sepuluh orang tersebut sampai di Pulau Negro, mereka terjebak di sana karena badai sehingga mereka tidak bisa mencari perahu untuk menyeberang ke pulau lain. Dan sajak-sajak yang sudah disiapkan Tuan Owen mulai dimainkan bait per bait.

"Sepuluh anak Negro makan malam; Seorang tersedak, tinggal sembilan."

Setelah peristiwa pemutaran kaset yang disiapkan Tuan Owen dan telah membongkar semua kejahatan-kejahatan sepuluh orang itu di masa lalu. Dan setelah membicarakan semua hal-hal aneh yang terjadi terutama perihal nama Owen yang tertera hampir di setiap surat, mereka akhirnya sadar bahwa mereka telah dijebak di sebuah pulau tak berpenghuni.

Setelah mengadakan rapat, mereka kemudian memilih minum sampanye atas usul Antony dan tiba-tiba saja pemuda itu tersedak keras kemudian jatuh. Dokter Arsmstrong menyatakan bahwa pemuda itu sudah meninggal, kemungkinan karena racun sianida.

"Sembilan anak Negro bergadang jauh malam; Seorang ketiduran, tinggal delapan."

Setelah memindahkan tubuh Antony ke kamarnya, kesembilan orang lainnya memilih istirahat ke kamarnya masing-masing. Nyonya Rogers sudah dibawa ke kamarnya terlebih dulu karena ia sempat pingsan. Dokter Arsmstrong bahkan sempat memeriksa kondisinya. Dan keesokan harinya, tiba-tiba saja Ethel Rogers ditemukan meninggal dunia karena overdosis obat.

"Delapan anak Negro berkeliling Devon; Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh."

Setelah berita kematian Nyonya Rogers, ketujuh orang lainnya mulai berpikir dan memulai penyelidikan di seluruh Devon. Ada yang pergi berkeliling berkelompok, ada yang lebih memilih diam di vila sambil memikirkan semua kejadian ini. Tujuan mereka sama yaitu mencari orang di belakang semua kejadian ini. Hingga sore tiba pun, mereka semua tidak memperolah petunjuk satu pun dan lebih memilih kembali ke vila untuk menikmati teh yang disiapkan Rogers. Tapi ada satu orang yang belum kembali yaitu Macarthur. Hingga akhirnya ia ditemukan tewas di dekat pantai akibat pukulan keras di kepalanya.

"Tujuh anak Negro mengapak kayu; Seorang terkapak, tinggal enam."

Keesokan paginya, lima orang tamu terbangun dari tidurnya dan pergi ke ruang makan tapi mereka tidak melihat sarapan di meja makan. Mereka berlima kemudian berkeliling mencari Rogers di seluruh vila. Akhirnya mereka menemukan Rogers bersimbah darah karena kepalanya terkapak. Dia sepertinya dibunuh saat sedang mengapak kayu bakar.

"Enam anak Negro bermain sarang lebah; Seorang tersengat, tinggal lima."

Setelah mayat Rogers dipindahkan, para perempuan mulai menyiapkan sarapan seadanya. Tapi sikap Emily membuat semua orang curiga kepadanya bahwa dialah Tuan Owen karena perempuan itu bersikap terlalu tenang dan tak acuh. Saat empat orang yang lain mulai mencurigainya, tiba-tiba saja ia ditemukan meninggal dalam posisi terduduk di kursi tempatnya merajut. Di lehernya terdapat tanda seperti tanda sengatan binatang. Tapi Dokter Arsmstrong mengatakan bahwa itu adalah bekas jarum suntik, sepertinya seseorang sudah menyuntikkan racun kepada Emily.

"Lima anak Negro ke pengadilan; Seorang ke kedutaan, tinggal empat."

Sekarang yang tersisa hanya lima orang. Wargrave, Vera, Philip, Arsmstrong dan Blore. Mereka berlima sepakat untuk selalu bersama, tapi ada satu insiden terjadi yaitu hilangnya pistol yang dibawa Philip. Setelah mencari bersama-sama, mereka belum juga menemukan pistol tersebut hingga akhirnya mereka berdiam diri di ruang makan. Vera memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri. Karena insiden yang terjadi, jiwa Vera sedikit terguncang ditambah dengan traumanya tentang kematian muridnya dulu. Saat ia tiba di kamar, ada seseorang yang sengaja meletakkan ganggang di langit-langit kamarnya dan membuat Vera menjerit histeris.

Keempat pria yang lain bergegas naik ke lantai dua dan pergi ke kamar Vera. Dan saat itulah mereka tersadar, Wargrave tidak ada bersama mereka. Mereka berempat kemudian kembali ke ruang makan dan menemukan Wargrave duduk di sana dengan diselimuti kain beludru merah, kepalanya dihiasi benang wol berwarna abu-abu milik Emily, persis seperti seorang hakim. Dokter Arsmstrong memeriksa keadaannya, ada bekas tembakan peluru di kepalanya dan Arsmstrong menyatakan bahwa pria itu telah meninggal dunia.

"Empat anak Negro pergi ke laut; Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga."

Empat orang yang lain kemudian memilih berdiam diri di kamar masing-masing tapi tak ada satu pun dari mereka yang tidur. Philip menemukan pistolnya kembali di dalam laci kamarnya. Sedangkan Blore tiba-tiba saja mendengar suara langkah kaki di koridor kamarnya. Dengan berusaha mengumpulkan keberaniannya, dia keluar dari kamarnya dan mengikuti orang tersebut tapi orang tersebut sudah terlebih dulu berlari dalam kegelapan malam, Blore sangat yakin dialah dalang dari semua ini. Merasa mengejar orang tersebut adalah pekerjaan yang sia-sia, Blore lebih memilih naik ke lantai dua dan memeriksa kamar siapa yang kosong. Dokter Arsmstronglah yang menghilang.

Tiga orang yang tersisa sepakat bahwa Arsmstrong adalah tersangka dari semua pembunuhan ini. Tapi setelah berkeliling pulau, mereka tidak juga menemukan Arsmstrong.

"Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang; Seorang diterkam beruang, tinggal dua."

Merasa berada di dalam vila tidaklah aman, Vera, Philip dan Blore memutuskan untuk berdiam diri di luar vila. Karena Arsmstrong belum juga ditemukan, mereka tetap waspada sampai akhirnya siang datang. Blore yang sudah kelaparan tidak mau berdiam diri di luar lagi, ia akhirnya pergi ke dalam vila untuk mencari makanan kaleng sedangkan Vera dan Philip tetap di luar karena merasa di dalam vila tidak aman.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara teriakan dari arah vila. Ketika Vera dan Philip sampai di sana, mereka menemukan mayat Blore dengan kepala yang retak tertimpa sebuah jam berbentuk beruang yang sebelumnya ada di kamar Vera.

"Dua anak Negro duduk berjemur; Seorang hangus, tinggal satu."

Vera dan Philip kemudian memutuskan berdiam diri di pantai, menunggu jika ada perahu yang lewat di sana. Tapi beberapa saat kemudian mereka melihat ada sesosok tubuh yang mengapung di dekat mereka. Setelah mengangkat tubuh itu ke tepi, mereka sadar bahwa itu adalah Arsmstrong. Segera saja keduanya langsung mencurigai satu sama lain. Vera dengan cepat mengambil pistol milik Philip dan menembak lelaki itu tepat di jantungnya.

"Seorang anak Negro yang sendirian; Menggantung diri, habislah sudah."

Vera yang merasa sudah berhasil membunuh sang Tuan Owen akhirnya masuk kembali ke vila. Jiwanya yang sejak awal sudah terguncang karena semua peristiwa ini semakin terguncang saat ia mengingat muridnya yang meninggal dulu.  Dengan tubuh terhuyung-huyung, gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan saat melihat tali tergantung di langit-langit kamarnya dan sebuah kursi di bawah tali tersebut, dia dengan tanpa pikir panjang segera menggantung dirinya sendiri dan akhirnya meninggal dunia.

Identitas Tuan Owen


Polisi yang menyelidiki kasus ini tidak berhasil menemukan pelaku sebenarnya dari semua pembunuhan yang terjadi di Pulau Negro. Sampai akhirnya suatu hari ada sebuah surat-dalam-botol yang ditemukan di tengah laut. Di surat tersebut, sang pelaku mengaku melakukan semua ini demi menegakkan keadilan di dunia ini. Dia sengaja memilih orang-orang yang sudah melakukan kejahatan dimana hukum tidak bisa menyentuh kejahatan mereka. Dan dirinya sebagai Tuan Owen lah yang telah mengeksekusi semua orang tersebut.

Tuan Owen yang sebenarnya adalah Tuan hakim yang baru saja mengakhiri masa kerjanya yaitu Tuan Wargrave. Dialah dalang dari semua pembunuhan di Pulau Negro. Kematiannya pun hanyalah sebuah sandiwara saja dengan bantuan Arsmstrong, sebagai seorang dokter, dia ternyata sangat polos dan dengan mudah ditipu oleh Wargrave. Setelah memastikan Vera menggantung dirinya, barulah ia membunuh dirinya sendiri dengan menggunakan pistol.

...

Saya sendiri gak nyangka kalau ternyata Tuan Owen itu si Wargrave wkwk... Padahal saya sudah dikasi spoiler sama seseorang sebelum baca novel ini kalau pelaku itu salah satu orang yang pura-pura mati, tapi tetep aja gak bisa nebak kalau yang pura mati-mati itu si Wargrave hehe... Pokoknya novelnya Agatha Christie memang keren :3

Awal baca novel ini, yang sulit itu menghapal semua tokoh-tokohnya, karena salah satu dari mereka adalah si tersangka, jadi harus bisa nebak dong, walaupun akhirnya saya gak bisa nebak wkwk xD Padahal sudut pandang yang digunakan di sini itu sudut pandang orang ketiga dan hebatnya ini tetap berhasil menipu saya...

 

My Rosemary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review