Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

13 May 2017

Cerita Bulan Mei

Posted by Unknown at 11:34 4 comments


“Sarah, besok tanggal 15 Mei, kamu ada meeting dengan klien, kan?”

Gadis berumur 24 tahun yang sejak tadi fokus dengan laptopnya itu tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard. “Ah? Aku hampir lupa. Besok itu tanggal 15 Mei ya? Berarti sekarang 14 Mei?”

Lawan bicara Sarah hanya menganggukkan kepalanya. “Ada yang spesial dengan tanggal 14 Mei?”

“Enggak, kok,” sahutnya. “Sudah, sana, aku masih sibuk.”

“Aku kan mau ngajak kamu ke kantin. Udah jam makan siang, kamu gak laper?”

Ah, mengingat tanggal hari ini membuat rasa lapar Sarah hilang seketika. Dia hanya tersenyum kecil, “Lagi gak selera.”

Temannya itu hanya meringis, “Huh, dasar! Badan udah kurus gitu, sok pake acara diet-diet segala.”

Sarah hanya tertawa kecil mendengar ucapan teman sekantornya itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya sejak tadi ia sudah kelaparan, tapi begitu mengingat tanggal hari ini, laparnya seketika hilang dan tergantikan dengan rasa mual.

Ingatan kejadian yang terjadi 19 tahun lalu kembali berputar di kepalanya bagai sebuah film hitam putih. Saat itu umurnya baru lima tahun dan ia harus kehilangan kakak yang paling dicintainya saat itu.

Andai saja saat itu ia bisa merengek lebih keras agar kakaknya ikut dengan mereka, tapi sayangnya kakaknya terlalu keras kepala. Kakak perempuannya itu lebih mengutamakan kelompoknya daripada keselamatan dirinya sendiri.

***

“Sarah, ayo bangun, ikut sama Ibu sekarang ya?”

Sarah mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum bisa melihat wajah kakaknya dengan jelas. “Emang Sarah sama Ibu mau pergi ke mana?”

Kakaknya tersenyum manis sambil menggendong tubuh Sarah kemudian membawanya ke ruang tamu. “Mau jalan-jalan ke Bali. Sarah suka Bali, kan?”

Anak berumur lima tahun itu seketika bersorak gembira sambil memeluk sang kakak. “Yes, Sarah mau main di Pantai Kuta.”

“Iya, iya, nah sekarang, kamu tunggu supir Bapak sama Ibu ya di sini.”

Sarah dengan cepat turun dari gendongan sang kakak dan duduk di sebelah ibunya. Andai saja saat itu umur Sarah lebih besar beberapa tahun lagi, ia pasti bisa membaca suasana tidak menyenangkan yang ada di ruangan itu. Walau begitu, Sarah masih ingat betul pembicaraan ibu dan kakaknya saat itu.

“Sera, kamu gak sekalian ikut ke Bali dengan Ibu?”

“Sera bakal tetep di Jakarta, Bu. Ada yang harus Sera lakuin di sini. Entar kalau semuanya udah beres, Sera bakal nyusul Ibu ke Bali.”

Ibu dari Sera dan Sarah itu semakin meremas kedua tangannya. “Tapi Ibu lihat di TV, suasana di sana enggak aman. Kamu bisa terluka kalau pergi ke sana. Memang apa untungnya kamu ke sana sebagai aktivis?”

“Ibu, coba lihat Sera,” ucap Sera sambil mendekati sang ibu. “Aku ini pribumi, Bu. Mereka gak akan melukai Sera. Malah seharusnya kita kasihan dengan mereka yang sekarang sedang menjadi pelampiasan massa. Mereka gak salah apa-apa, Bu. Kita harus bisa membantu mereka, paling tidak membawa mereka pergi dari Jakarta.”

“Tapi, ibu tetap khawatir.”

Kembali Sera tersenyum, kali ini dengan memeluk ibunya. “Sera janji akan selamat. Sekarang Sera pergi dulu ya, teman-teman Sera yang lain pasti sudah berkumpul semua. Sebentar lagi, supir Bapak pasti datang.”

Sarah yang sejak tadi kebingungan kemudian bersuara, “Lho? Kakak gak ikut dengan Sarah?”

“Kakak mau pergi nyari Kak Mei dulu, nanti kita sama-sama main di Pantai Kuta ya?”

Sarah kembali berlonjak. “Yei, Sarah juga kangen sama Kak Mei. Sarah punya ejekan baru buat Kak Mei.”

“Apa?” tanya kakaknya jahil.

“Kakak-mata-sipit-pipi-bakpau,” sahut Sarah sambil memicingkan matanya agar serupa dengan mata teman kakaknya itu.

Sera hanya tertawa mendengarnya, “Wah, Kak Mei pasti kesel banget dengernya.”

Diam-diam Ibu Sarah menepuk bahu anak sulungnya itu sambil berbisik. “Semoga Mei dan keluarganya selamat ya.”

Sarah meremas pelan tangan ibunya. “Kemarin Mei telepon Sera, katanya toko mereka dibakar dan sekarang mereka sedang berusaha pergi ke luar negeri. Semoga mereka gak apa-apa, Bu.”

Itu percakapan terakhir yang Sarah ingat. Karena berikutnya ia segera dibawa masuk mobil sopir ayahnya dengan tergesa-gesa. Dalam perjalanan pun, Sarah terus berada di pangkuan ibunya hingga ia tertidur dan tiba-tiba saja dia sudah berada di sebuah hotel di Bali.

***

Sudah hampir sebulan Sarah menetap di Bali dan anak berumur lima tahun itu beberapa kali merengek meminta kakaknya dan ayahnya. Sang ibu berusaha mengalihkan perhatiannya dengan acara kartun di televisi atau mengajaknya bermain petak umpet. Andai saja saat itu, Sarah kecil tahu bahwa ibunya jauh lebih cemas dan khawatir daripada dirinya.

Dan hal yang paling diingat Sarah kala itu adalah saat ayahnya datang menjemput mereka di hotel. Dia ingat bagaimana ibunya segera memeluk sang ayah. “Bapak, gak apa-apa, kan? Ibu takut Bapak kenapa-kenapa.”

“Aku selamat, Bu. Sarah, ayo sini, peluk Bapak.”

Sarah dengan cepat berlari ke arah ayahnya itu. Di belakang Sarah, sang ibu bersuara kembali. “Sera di mana, Pak?”

“Nanti Bapak cerita, biar Sarah tidur dulu.”

Memang benar saat itu sudah jam tidur siang Sarah, anak itu segera tertidur setelah mendengar cerita dongeng dari ayahnya. Tapi, hari itu tidur Sarah tidak nyenyak karena ia terbangun setelah mendengar tangisan ibunya. Diam-diam Sarah mencuri dengar pembicaraan orang tuanya itu, walau ia tidak mengerti mereka membicarakan apa pada saat itu.

“Dari data, ada 85 korban, Bu. Sebagian besar perempuan. Mereka disiksa, dibunuh, bahkan sampai ada yang diperkosa beramai-ramai sebelum akhirnya dibunuh.”

Istrinya tetap terdiam mendengar cerita sang suami.

“Bapak pikir Sera dan teman-temannya ada di dekat situ. Karena mereka aktivis relawan kemanusiaan, tapi gak ada, Bu.”

“Terus Sera kita di mana, Pak?”

“Ibu yang sabar ya, Sera kita gak selamat, Bu. Dia juga menjadi korban.”

Ibu Sera mengernyitkan dahinya. “Maksud Bapak apa? Dia kan pribumi, kenapa bisa menjadi korban?”

“Ada jenazahnya di sana, teman-teman sesama aktivisnya juga sama, Bu. Bapak benar-benar gak habis pikir sama kelakuan para perusuh di sana.”

Mendengar hal itu, sang Ibu hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya. Mereka tidak tahu kalau putri bungsunya mendengar pembicaraan mereka dan menangis dalam diam.
.
.
.
.
.

Fin

10 May 2017

Curhat Si Kembar

Posted by Unknown at 13:23 0 comments


Namaku Riska, anak kedua dalam keluargaku. Umurku dan kakakku hanya berbeda lima menit. Ya, tepat, kami kembar. Tapi tidak identik.

Walau kami tidak identik, terkadang aku bisa merasakan apa yang dirasakan kembaranku. Tapi, aku tidak tahu apa ia merasakan apa yang aku rasakan.

Sejak kecil, kami tidak memiliki sifat yang sama. Bahkan saat semakin dewasa, sifat kami semakin tidak sama. Walau begitu, aku sangat menyayangi suadaraku itu.

Dia menyukai masakan pedas, aku tidak. Aku suka kopi, dia lebih menyukai teh. Aku suka membaca, dia lebih suka melukis. Aku benci menghitung sedangkan bagi saudaraku, berhitung adalah hidupnya. Tidak ada satu pun di dunia ini yang sama-sama kami sukai.

Tapi, tiba-tiba aku menyadari sesuatu saat kami berumur 17 tahun. Ada satu hal di dunia ini yang sama-sama kami sukai. Aku dan saudaraku sama-sama menyukai ketua OSIS kami di sekolah. Aku sangat terpukul saat saudaraku mengakui bahwa ia juga menyukai laki-laki berkacamata itu. Tapi, masalah ini aku simpan sendiri. Aku tidak memberitahu siapapun termasuk orang tua kami.

Padahal selama ini aku sangat menyayangi saudara kembarku itu. Aku selalu berusaha mencari hal yang sama-sama kami sukai. Tapi, saat aku menemukannya, hal itu malah membuat aku membencinya. Dan aku tidak bisa melakukan apa pun.

Seteleh menerima pengakuannya kalau ia juga menyukai ketua OSIS kami, aku hanya bisa terdiam di atas tempat tidurku sambil memandang fotoku dan kembaranku yang sedang berpelukan saat kami lulus SMP. Aku tersenyum menatap kamera dengan rambut panjangku yang tergerai dan saudara kembarku terlihat sangat tampan.

Ah, aku lupa mengatakan kalau aku dan saudara kembarku adalah sepasang kembar pengantin.
.
.
.
.
.
Fin

8 May 2017

Hei Kak, Apa Kau Bahagia Sekarang?

Posted by Unknown at 14:48 0 comments

Suara alarm ponselnya memaksa Laras untuk membuka matanya. Padahal ia baru saja tidur sekitar tiga jam yang lalu. Ya, salahkan tugas-tugasnya yang menumpuk itu. Dia pikir mahasiswa baru seperti dirinya akan diberi keringanan, tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi jurusan psikologi. Ia jadi teringat saat kakaknya menjadi mahasiswa baru, kakaknya itu bahkan terlihat sangat santai seperti pengangguran tapi IP-nya selalu di atas 3,5.

Ya ampun, dia lupa kalau kakaknya itu bisa dibilang jenius sedangkan dia hanya manusia yang berada pada garis rata-rata. Sudah, lupakan saja tugas-tugasnya yang menumpuk itu. Ada perut yang sudah meronta minta diisi.

"Ras, kamu lihat pisau buah Mama?" suara ibunya menyapa Laras saat ia sampai di dapur.

"Hah?" balas Laras sambil menuang jus jeruk ke gelasnya. "Ma, Laras baru pulang kemarin sore dari kos, banyak tugas dari kampus. Coba tanya ke kakak, dia kan di rumah terus."

Sang ibu hanya menghela napas sambil memperhatikan masakannya di atas penggorengan.

"Ini orangnya, Ma," ucap Laras saat melihat kakaknya masuk ke dapur. Mata Laras memperhatikan kakaknya yang sedang membuka lemari pendingin. Mata sayu, rambut acak-acakan, baju lengan panjang, celana panjang ditambah aura menyeramkan. "Kak, lihat pisau buah? Mama yang tanya."

Sang kakak hanya menatap si adik sambil memicingkan matanya sebagai jawaban. Oke, sepertinya suasana hati kakaknya sedang buruk. Sebaiknya jangan diganggu. "Enggak lihat," sahut kakaknya akhirnya dengan suara ketus.

"Kakakmu kayaknya lagi banyak pikiran. Dia ada cerita ke kamu, Ras?"

"Enggak ada, Ma. Palingan cuma masalah mahasiswa semester tua. Skripsi, skripsi."

Berbeda dengan kakaknya yang tinggal di rumah, Laras lebih memilih untuk menyewa sebuah rumah dengan teman-teman kuliahnya. Jadi, dia hanya di rumah saat hari Sabtu dan Minggu. Karena itu, interaksi dirinya dengan sang kakak banyak berkurang.

***

Akhirnya Laras sampai di rumah setelah berkendara hampir satu jam dari kos-nya. Begitu sampai di kamarnya, ia mendapati kakaknya di atas tempat tidurnya. "Aduh, kakak kenapa di sini? Laras mau istirahat, nanti malam mau buat tugas. Kakak pergi ke kamar sana," hardik Laras sambil meletakkan ransel dan tas berisi baju-bajunya. Hari Jumat sore adalah hari di mana dia bisa pulang ke rumah.

"Hmm ...," gumam kakaknya tidak jelas sambil berguling-guling di atas tempat tidur Laras.

Laras bertolak pinggang sambil memperhatikan tingkah kakaknya. Setelah menunggu selama satu menit, akhirnya sang kakak berdiri. Masih dengan rambut yang acak-acakan, jaket berwarna abu-abu ditambah kantung mata yang hitam.

"Kakak belum tidur?" tanya Laras. Ah, itu pertanyaan retoris. Kadang-kadang, ia jadi penasaran sebanyak apa tugas yang dimiliki mahasiswa teknik seperti kakaknya. Padahal awal-awal kuliah, kakaknya terlihat sangat santai. Ya, hanya kakaknya saja yang tahu.

Bukannya menjawab pertanyaan Laras, sang kakak hanya pergi sambil menghela napas. Dasar!

Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Laras mulai mengerjakan tugasnya. Membuat sebuah laporan mengenai salah satu penyakit kejiwaan. Dan sekarang dirinya sedang terdiam karena bingung bagaimana cara membuat daftar isi otomatis dari tugasnya. Ah, kakaknya pasti tahu.

Sambil membawa laptopnya, ia pergi ke kamarnya kakaknya. "Eh? Dikunci?" Laras memiringkan kepalanya heran. "Kak, bisa minta tolong?"

Tak kurang dari semenit, sang kakak keluar dari kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya kembali. "Kenapa?"

Kemudian Laras menjelaskan masalahnya selama lima menit dan sang kakak menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga menit. Ya, kakaknya memang jenius. Terserah bagaimana orang lain memandang kakaknya, tapi bagi Laras, kakaknya adalah orang paling jenius di dunia dan panutan hidupnya.

***

Hari Kamis adalah hari yang paling melelahkan bagi Laras. Kuliah dari pagi sampai sore. Terima kasih kepada pegawai TU yang sudah membuat jadwal kuliahnya seperti di Neraka. Tinggal satu mata kuliah dan dia bisa tidur di atas kasur empuknya.

Baru saja ia akan masuk ke kelas, ponselnya bergetar. Ah, ayahnya menelepon.

"Ya, kenapa, Pa?"

Cukup lama ayahnya terdiam sebelum menjawab pertanyaan Laras. Suara ayahnya terdengar serak seperti orang yang sedang sakit. "Papa sakit?"

Akhirnya setelah berbasa-basi, ayahnya menjelaskan sesuatu padanya. Sesuatu yang membuat mata Laras membesar dengan air mata yang ingin tumpah saat itu juga. Jantungnya berdetak kencang mendengar semua penjelasan ayahnya. Ah, ini tidak mungkin! Kakaknya tidak mungkin berbuat seperti itu!

***

Langkah kaki Laras menggema di lorong rumah sakit. Ia berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan kamar mayat. Tidak ada ayah dan ibunya di sana. Yang ada hanya pamannya yang kebetulan adalah seorang dokter forensik. "Kamu sudah datang, Ras."

"Paman, kakakku di mana?" Suara Laras bergetar. Laras pikir awalnya ia tidak akan menangis lagi karena sepanjang perjalanan ia sudah menangis terus. Tapi saat matanya melihat tubuh sang kakak, air matanya kembali tumpah. "Kak? Kak?"

Kakaknya sudah pergi meninggalkannya selama-lamanya.

"Kakakmu hilang sejak hari Selasa, Ras. Tadi pagi, ada yang menemukan tubuhnya di sungai dalam keadaan meninggal," terang Pamannya.

Laras tidak tahan melihat tubuh kakaknya yang membiru dan penuh sayatan itu. Dengan langkah gontai, Laras keluar dari ruangan itu dan pergi ke taman rumah sakit. Dia hanya berdiri diam sambil menatap langit.

Ah, kakaknya yang malang. Sebenarnya masalah apa yang dimilikinya sampai ia berani mengambil jalan pintas seperti ini? Semua perilaku aneh kakaknya akhir-akhir ini membuat Laras tertegun.

Laras sangat menyukai psikologis manusia karena itu ia mengambil kuliah di jurusan yang mempelajari seluk beluk kejiwaan manusia itu. Tapi, dia gagal menyadari perilaku aneh kakaknya. Kakaknya benci dengan baju lengan panjang, tapi kenapa akhir-akhir ini dia selalu memakai jaket? Dan kakaknya tidak pernah mengunci kamarnya.

Laras tersenyum kecut saat ia sadar apa yang disembunyikan kakaknya di dalam kamarnya. Ya, pisau buah milik ibunya. Memangnya apa lagi yang kakaknya sembunyikan di balik jaketnya selain luka sayatan di kedua lengannya itu?

'Self-harm.'

Mungkin luka-luka itu tidak bisa mengalihkan luka jiwa kakaknya sehingga ia lebih memilih pergi dari dunia fana ini. Kembali air mata jatuh dari matanya. Kenapa ia bisa tidak menyadarinya selama ini?


"Kak, apa Kakak bahagia sekarang? Terserah apa yang dikatakan orang lain terhadapmu. Bagiku, Kakak akan selalu menjadi panutanku dan kakak terhebat yang pernah kumiliki," bisiknya di sela tangisnya.
.
.
.
.
.
Fin

Curang

Posted by Unknown at 02:29 0 comments


Sejak tadi, gadis itu hanya termenung sambil meratapi sang surya yang mulai menghilang dari cakrawala. Cahaya merah keemasan menyinari wajahnya yang berkulit pucat. Walau begitu, dia tetap bertahan di posisinya.

"Hei, Gadis Kecil, sejak tadi aku perhatikan kau melamun terus. Sedang memikirkan apa?"

Muncul kerutan di dahi sang gadis saat melihat ada seorang laki-laki gelandangan yang menyapanya. Baju gelandangan yang compang camping dan penuh lumpur itu membuatnya sedikit risih.

Melihat si gadis yang sepertinya tidak akan menjawab pertanyaannya, laki-laki itu tersenyum kecil, "Kau sedang memikirkan hidupmu?" tebaknya.

Sang surya sudah sepenuhnya tenggelam saat si gadis akhirnya menoleh ke arah laki-laki gelandangan. "Kenapa Paman menggangguku, hah?" hardiknya. Ia kembali menatap depan, "Paman tidak tahu apa-apa tentangku. Jadi enyahlah dari sini!" tambahnya dengan nada suara yang naik satu oktaf.

Orang-orang sudah tidak ada yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Yang ada hanya si gadis kecil dan lelaki gelandangan ditemani langit yang mulai menghitam. "Tidak baik berbuat curang, Gadis Kecil."

Si gadis menggigit bibir bawahnya sambil berusaha menahan amarahnya saat mendengar kata-kata 'sok bijak' dari si gelandangan. "Aku ... aku ingin merobek selembar halaman buku, tapi ... tidak bisa. Kau dengar itu, Paman?! TIDAK BISA!"

"Jadi kau memilih untuk membakar buku itu?"

Kedua tangan sang gadis terkepal. "Itu jauh lebih mudah," bisiknya.

"Tapi, Nak, itu namanya curang. Kau berusaha memindahkan rasa sakitmu kepada orang-orang terdekatmu."

Si gadis mendecih saat ia sadar kalau yang dikatakan oleh laki-laki itu benar. "Aku tidak peduli! Yang terpenting aku tidak merasakan sakit lagi."

"Tidak baik bermain cura-"

"Iya, iya, aku tahu, aku bermain curang!" bentak si gadis sambil memotong ucapan lawan bicaranya. "Memangnya aku tidak boleh bermain curang?! Dunia ini sering berbuat curang padaku! Kau dengar itu, Paman?! Sekarang lebih baik kau pergi dari sini!"

Sang gelandangan menghela napas. "Kau tidak berpikir jernih, Nak. Coba kau lihat diriku ini. Hidup juga selalu mencurangiku tapi aku mencoba untuk selalu berbuat adil. Aku mensyuku-"

"AAHHH! Cukup! Cukup! Aku tidak mau dengar lagi! Sekarang Paman pergi saja!" teriaknya sambil menutupi kedua telinganya.

Laki-laki setengah baya itu hanya bisa menghela napas. "Padahal kau itu masih muda, Nak," gumamnya kemudian pergi.

Setelah melihat sang penggangu pergi, si gadis kecil kembali menatap depan. Dengan perlahan, ia menaikkan kakinya ke pembatas jembatan kemudian berdiri di atasnya. Angin malam berhembus pelan dan menerpa wajahnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat aliran air di bawahnya.

"Lihat ini, Tuhan! Aku tidak akan membiarkan-Mu memecatku. Aku sendirilah yang memilih untuk keluar!" teriaknya sebelum tubuhnya menghantam air.


BYUR!
.
.
.
-Fin-

3 Mar 2014

Panggil Aku Risa

Posted by Unknown at 18:16 1 comments
"Ris, jangan ngelamun terus. Makan dulu."

Aku sempat terdiam saat ibu memanggil namaku. Mereka bilang namaku Risa. Mahasiswi tahun akhir di fakultas ekonomi. Anak kedua dari dua bersaudara. Tapi aku benar-benar tidak bisa mencari semua penjelasan tentang diriku tersebut di dalam otakku.

Dokter bilang aku mengalami gegar otak ringan karena kecelakaan sebulan yang lalu. Aku berhasil selamat tapi Rina tidak. Kata orang tuaku, Rina adalah kakakku dan juga saudara kembarku. Kami kembar identik.

Walau kembar, kami berbeda. Rina adalah gadis pendiam yang lebih suka mengurung diri di kamar dengan berbagai macam cerita yang ia buat. Ibu bilang, Rina adalah seorang penulis di umurnya yang masih muda. Sedangkan Risa adalah gadis ceria yang lebih suka keluar dengan teman-temannya.

Sekali lagi, itu adalah hal yang ibuku katakan. Dan mereka bilang aku adalah Risa karena kalung berliontin Risa ada di leherku. Tapi aku benar-benar tak ingat kalau dulu aku dipanggil Risa.

"Sebentar lagi, kamu juga pasti ingat semuanya," kata ayahku. Aku tersenyum dan mulai menyuap makananku. "Diingatnya pelan-pelan saja," lanjut ayahku.

"Kamu ke kampus hari ini bareng sama Eka, kan?"

Aku mengangguk pelan. "Iya, Bu. Kak Eka yang minta," sahutku.

Laki-laki berkacamata yang merupakan seorang arsitek itu bernama Eka. Begitu aku menyelesaikan sarapanku, dia sudah berada di depan rumahku. Dia menyapaku ramah dan segera merangkul pundakku.

"Kami berangkat dulu." Dia berpamitan kepada orang tuaku. Sedangkan aku hanya bisa mengikutinya karena ia menarik lembut kedua pundakku.

"Jangan malu-malu, Ris," ucapnya saat aku sudah ada di dalam mobilnya. "Aku ini tunanganmu. Nanti kalau kamu sudah ingat semuanya, aku berniat melamarmu. Gak apa-apa, kan?" tanyanya sambil tersenyum ke arahku.

Aku terpaku sejenak saat menatapnya kemudian mengangguk pelan. "Iya." Berikutnya, aku dapat merasakan tangannya yang mengelus lembut rambutku.

Aku benar-benar tidak bisa percaya kalau memiliki tunangan sebaik ini. Karena aku tidak memiliki ingatan tentangnya sedikit pun di dalam kepalaku.

****

Akhirnya aku sampai di depan kampusku. Kak Eka janji mau menjemputku setelah kuliah selesai. Dia bahkan sempat mencium dahiku sebelum aku keluar dari mobilnya. Dia terlihat biasa melakukan hal itu tapi aku begitu canggung. Kalau Risa yang dulu akan bersikap seperti apa?

"RISA!"

Aku segera menengok saat seseorang memeluk pundakku dari belakang.

"Kamu Risa, kan? Ya ampun, aku pikir kamu gak bakal masuk kuliah lagi," orang itu tertawa pelan. Aku tidak tahu siapa dia. Dia perempuan tinggi berambut pendek dengan gaya yang sedikit tomboi. Matanya mengecil saat tertawa. Lucu sekali.

"Kamu siapa?"

Gadis itu menepuk dahinya kemudian. "Aduh, bodohnya aku. Aku dengar kamu lupa ingatan ya? Tapi bukannya ringan ya? Masa kamu gak inget sama aku?" tanyanya bertubi-tubi.

Aku mengangguk.

"Namaku Pratiwi," sahutnya. Aku sempat tertegun saat ia mengucapkan namanya. Namanya terdengar sangat feminim, berbanding terbalik dengan perawakannya yang sangat tomboi. "Oh iya, gimana kalo kita ke kantin dulu, nanti aku kenalin semua anak-anak angkatan kita ke kamu. Biar ingatanmu bisa kembali lagi ya?"

"Boleh, makasih banyak, Pratiwi."

Dia merangkul pundakku cepat. "Ya ampun, panggil Tiwi aja kali. Kayak biasanya." Dia tertawa lagi. Gadis ini benar-benar periang dan sangat lucu menurutku. Apa Risa yang dulu memiliki teman seperti ini?

****

"Gimana kuliahnya?" Kak Eka sudah berdiri di tempat parkir saat aku baru saja mau meneleponnya.

"Hm, lumayan," sahutku.

Aku melirik jam tanganku saat aku dan Kak Eka sudah di dalam mobil. Sudah jam tiga sore. Kak Eka juga sudah menyalakan mesim mobil. "Mau makan dulu?" tawarnya.

"Hmm ... Kak, bisa anterin aku ke makam Rina sebentar? Aku belum pernah ke sana," ucapku tiba-tiba. Aku dapat melihat ekspresi kaget dari wajah Kak Eka walau sekilas. Dia kemudian tersenyum lembut dan mengacak-ngacak rambutku.

"Iya, aku anterin kok," jawabnya. Aku lihat dia mulai memutar di parkiran dan keluar dari kawasan kampusku. "Aku lupa kalau kamu belum ke sana sepulang dari rumah sakit."

Kak Eka memutar lagu-lagu yang bernuansa lembut di dalam mobilnya. Aku benar-benar merasa nyaman di sini. Kuliah tadi benar-benar melelahkan dengan segala pelajaran yang bahkan tidak terlalu kumengerti. Aku heran, kenapa Risa yang dulu begitu suka dengan pelajaran seperti itu?

Aku menutup mataku dan bersandar di kursi. Dan ingatan itu kembali lagi. Saat itu, aku duduk di kursi penumpang seperti ini. Aku dan saudaraku berniat pergi ke toko buku saat itu, bahkan kami sengaja memakai baju yang sama karena kami jarang keluar berdua.

Suasana saat itu benar-benar menyenangkan. Sampai akhirnya, ada sebuah truk besar yang melaju ke arah kami. Kami benar-benar panik dan beberapa saat kemudian yang aku rasakan adalah sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Aku menoleh ke kursi pengemudi. Saudaraku penuh dengan darah, aku bahkan dapat merasakan nyawanya sedang berada dalam bahaya.

Ingin rasanya aku berteriak tapi aku tidak bisa karena semua sakit pada tubuhku. Hal yang terakhir yang kuingat adalah permintaan terakhir dari saudara kembarku itu.

"Ayo turun, Ris."

Aku segera membuka mataku saat Kak Eka mengguncang pelan bahuku.

"Ketiduran ya?" tanyanya kemudian membantuku melepas sabuk pengamanku.

"Enggak kok," sahutku. "Cuma tutup mata aja."

Seakan tak percaya, dia menyentil dahiku. "Iya, iya. Kamu selalu aja kayak gitu. Pacarnya dibiarin nyetir sendiri, gak ada yang diajak ngobrol."

"Bener kok, aku gak tidur," balasku sewot.

Kak Eka kemudian tertawa. "Aku kangen sekali sama wajahmu yang ini. Marah tapi ngegemesin." Aku hanya bisa ikut tertawa dan sejenak melupakan kenangan buruk yang terjadi kepadaku dan saudaraku.

Kami sampai di kompleks pemakaman. Kak Eka membawaku semakin ke dalam dan berhenti tepat di depan sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama lengkap Rina di sana. Aku tertegun sejenak saat memandangnya. Aku bahkan tak bisa menahan air mataku yang keluar begitu saja dari mataku.

Sebenarnya aku sudah ingat dengan semua hal di dunia ini semenjak seminggu yang lalu. Tapi aku tidak mengatakannya kepada siapa pun karena aku harus memenuhi permintaan terakhir saudaraku yang terkubur di sana.

"To-tolong aku. Ka-kamu harus jadi aku. Bu-buat ibu, ayah, dan kak E-Eka bahagia. A-aku yakin kamu bisa, Rina. Aku mohon."

Aku hanya bisa terdiam saat itu, bahkan tanpa sadar aku segera menukar kalung yang kami kenakan.

Sudah kukatakan sebelumnya, aku tak memiliki kenangan sebagai Risa. Karena sejak awal, aku adalah Rina. Nama yang mati di atas makam di sana.



Selesai

Satu cerpen dari saya untuk hari ini :) Pendek ya ceritanya? Niat awal saya, pengen buat twist yang gak ketebak aja dengan sebuah cerita yang sangat klise, tapi gak tau berhasil apa enggak hehe XD menurut kalian gimana??
 

My Rosemary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review