19 Jan 2018

Sinopsis Natsume Yuujinchou Chapter 91

Posted by Unknown at 23:31 0 comments


Pengarang: Midorikawa Yuki
Majalah: Lala
Penerbit: Hakusensha
Bulan Terbit: Oktober 2017




“Tenjou-san ... Tenjou-san ...,” gumam Ninomiya-sensei sambil berjalan di koridor sekolah dengan salah satu rekan gurunya.

“Ara ... Anda masih memikirkan hal itu?” tanya rekannya itu.

“Yaa ... aku mengingat sesuatu tentang itu,” sahut Ninomiya-sensei kemudian berpikir. “Ah, benar ... dulu sekali aku pernah mendengar rumor dari salah satu murid.”

“Eh?”

Seakan sudah mengingatnya Ninomiya-sensei kembali berbicara dengan yakin. “Ya benar ... rumor mengenai lukisan Tenjou-san ... lukisannya ada tiga. Kalau tidak salah, lukisan itu terkutuk.”

BRAK!

Tiba-tiba terdengar suara berisik dari langit-langit di atas mereka.

“Ya ampun, tikus? Kita harus menyuruh seseorang untuk mencarinya.”

“Iya juga ya ...”

***




Natsume dan kawan-kawannya akhirnya berhenti berlari setelah mereka berada jauh dari rumah laki-laki misterius yang tadi mereka ikuti.

“Itu benar-benar mengejutkanku,” desah Nishimura.

“Seharusnya kita tidak mengikutinya seperti tadi,” sesal Kitamoto.

“Kau benar.”

Sedangkat Natsume terlihat sedang berpikir.

‘Tapi ... apa itu hanya imajinasiku? Orang itu ... sepertinya ingin mengatakan sesuatu pada kita.’

Tanuma mendekati Natsume dan berbisik. “Natsume, apa kau melihat sesuatu?”

“Tidak,” sahut Natsume. “Semuanya bisa melihat orang itu, kan?”

“Yaa ...”

‘Jika ada hal berbeda yang orang lain lihat denganku, paling tidak mungkin aku akan mengerti sesuatu.’

***




Saat sampai di rumah, Natsume segera menceritakan kejadian hari ini pada Nyanko-sensei.

‘Apa lukisan Tenjou-san itu benar-benar lukisan biasa? Atau lukisan itu berhubungan dengan ayakashi yang berbahaya? Apa ini sesuatu yang harus aku jauhkan dari Nishimura dan yang lain?’

“Sensei, bagaimana menurutmu?” tanya Natsume.

“Bahkan ayakashi sehebat aku tidak pernah mendengar nama lukisan itu,” sahut Nyanko-sensei.

‘Namanya  ... kalau dipikir-pikir ...’

***




Saat jam makan siang keesokan harinya, Natsume kemudian mengatakan pendapatnya mengenai lukisan itu.

“Tenjou-san ... apa Tenjou yang dimaksud itu di atas langit dengan Ten dari kanji surga dan Jou dari kanji atas? Atau mungkin maksudnya di atas langit-langit (tenjouura)?” tanya Natsume.

Ketiga temannya yang sedang makan siang menoleh padanya.

“Oh ... sepertinya yang lebih masuk akal itu ‘di atas langit-langit’ kan?”

“Aku juga berpikir seperti itu, tapi ... aku penasaran kenapa lukisan itu disebut Tenjou-san?” balas Natsume.

“Hmm ... bisa saja itu berhubungan dengan apa yang dilukis kan ... atau mungkin tempat dimana lukisan itu diletakkan?” ucap Tanuma

Nishimura sontak melihat langit-langit kelasnya.

BRAK!

Tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari langit-langit yang membuat keempat orang itu kaget.

“Mengejutkanku saja! Aku dengar ada tikus di sana. Tapi ... entah kenapa rasanya agak menyeramkan,” ucap Nishimura.

Kitamoto kemudian kembali membahas mengenai lukisan Tenjou-san itu. “Atau jangan-jangan itu malah berhubungan dengan nama pembuatnya?”

“Dan kenapa lukisan itu ada tiga?” tanya Nishimura ikut berpikir. “Aku ingin tahu di mana letak lukisan yang ada di SMA Futaba dan Misumi.”

Mereka berempat sejenak terdiam sambil berpikir.

“Aku ingin tahu apa ada cara untuk pergi ke langit-langit sekolah ...”

“Oi!”

“Mungkin kita harus bertanya pada Himuro-senpai untuk lebih jelasnya.”

“Atau paling tidak tanyakan berapa jumlah lukisan itu.”

***




Beberapa saat kemudian, Natsume sedang berjalan bersama dengan Tanuma, juga dengan Nyanko-sensei yang berada di pelukan Tanuma. Natsume terlihat sedang berpikir dengan sangat keras sehingga membuat Tanuma tertawa melihatnya.


“Ada apa, Tanuma?” tanya Natsume karena temannya itu tiba-tiba saja tertawa.

“Ah, maaf. Ekspresimu barusan sangat aneh,” sahut Tanuma kalem.

“Biasanya jika aku mendengarkan cerita ayakashi, aku akan menyadari sesuatu ... tapi kali ini ...,” ucap Natsume khawatir. “Memang menyenangkan menyelidikinya bersama-sama seperti ini ... tapi apa benar tidak apa-apa kita bersenang-senang seperti ini? Aku sangat berharap ini bukan sesuatu yang berbahaya dan semoga ini tidak berhubungan dengan ayakashi.”

Tanuma tertegun mendengar perkataan Natsume. “Aku harap begitu.”

“Sama seperti saat kita mendengarkan cerita Himuro-senpai ...,” ucap Natsume menggantung.

“Aku yakin jika mereka berdua ... mereka pasti mendengarkan apa yang kau katakan,” balas Tanuma seakan mengatakan kalau Natsume bisa menceritakan mengenai rahasianya pada Nishimura dan Kitamoto. “Mungkin sekarang ... kau masih ... mungkin sekarang kau masih belum bisa mengatakan hal ini kepada kami ya ...”

Sejenak Tanuma terdiam kemudian menggumam, “Jika aku mengkhawatirkan sesuatu, aku pasti akan langsung mengatakannya ...”

“Eh? Apa?” tanya Natsume.

“Tidak, bukan apa-apa,” sahut Tanuma.

***

Sama seperti kemarin, mereka berempat kembali berkumpul di kedai teh.

“Aku ingin tahu kapan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Senpai.”




“Jam pulang SMA Misumi itu kira-kira jam berapa?”

Mereka berempat terlihat sedang memakan dango sambil membahas lukisan Tenjou-san.

“Di sinilah pertama kalinya aku bertemu dengan Himuro-senpai. Aku ingin tahu apa ia akan datang lagi ke sini,” ucap Nishimura.

Kitamoto yang sedang memakan dangonya tiba-tiba melihat laki-laki misterius yang kemarin mereka ikuti. “Ah ...”

“Eh?” Natsume juga melihat ke arah laki-laki itu.

Dan tiba-tiba saja laki-laki itu membalik badannya sehingga mereka bisa bertatap muka langsung. Kitamoto meringis mengingat kejadian kemarin, “Ah, selamat siang, yang kemarin itu ...”

“Oya? Kita sering bertemu ya?” ucap lelaki itu. “Kalian yang membicarakan mengenai Tenjou-san di rumah sakit kan?”

Sontak saja ucapan laki-laki itu membuat mereka berempat kaget bukan main.

“Dango di sini benar-benar enak,” ucap laki-laki lagi. “Senang bertemu dengan kalian, Anak-anak, sampai jumpa,” lanjutnya kemudian berbalik pergi.

“TU-TUNGGU SEBENTAR!” teriak keempat anak SMA itu bersamaan.




“Maaf membuat kalian kaget sebelumnya,” ucap laki-laki itu setelah mereka berhasil mencegah laki-laki itu pergi. “Mendengar nama Tenjou-san membuatku mengingat kenangan lama ... ingatan mengenai hal tersebut sedikit kabur dan aku telah melupakannya.”

“Apa kalian ingin mendengarnya?” tanya laki-laki itu. “Cerita ini saat aku masih SMA ... tiga sekolah memiliki lukisan yang sama bernama Tenjou-san. Aku juga dulu bersekolah di SMA Yowake. Saat itu, kami benar-benar tertarik dengan lukisan itu. Aku dan teman-temanku membentuk tim untuk mencarinya,” cerita laki-laki itu.

“Lalu apa kau menemukannya?” tanya Kitamoto.

“Ya, lukisan itu ada di tangga untuk tamu yang jarang digunakan,” sahut laki-laki itu.

“Di gedung sekolah yang lama? Hebat! Ternyata benar-benar ada di sana ya ...,” tanggap Kitamoto.

Natsume kemudian bertanya, “Apa kau dengar ke mana lukisan itu dibawa?”

“Di mana ya ...,” sahut laki-laki itu berpikir. “Sepertinya lukisan itu disimpan di kuil terdekat.”

“Kuil?” ulang Tanuma.

“Sebenarnya itu lukisan apa?” tanya Nishimura bersemangat.

Laki-laki itu berpikir. “Hmm ... itu ... oh aneh, aku tidak bisa mengingatnya.”

Jawaban laki-laki itu membuat Natsume dan Tanuma tertegun.




“Saat itu kami membagi diri menjadi beberapa kelompok dan berhasil menemukannya,” lanjut laki-laki itu bercerita. “Aku yakin kami seharusnya telah melihatnya tapi sinar matahari dari belakang membuat kami tidak bisa melihatnya dengan jelas ... ahh ... saat itu benar-benar menyenangkan.”

Natsume tersenyum kecil melihat laki-laki di depannya yang sedang mengenang masa-masa itu.

Laki-laki itu kemudian menoleh kepada mereka. “Maaf, aku tidak banyak membantu. Sampai jumpa,” ucap laki-laki itu mengakhiri ceritanya.

“Tidak, hanya mengetahui bahwa lukisan itu ada di sana saja sudah sangat membantu. Terima kasih banyak,” ucap Nishimura kegirangan. “Ayo cepat pergi dan kita beritahu Himuro-senpai.”

“Lukisan itu agak misterius ya? Setelah berhasil menemukannya, dia tidak bisa mengingatnya,” komentar Kitamoto saat laki-laki itu berjalan pergi.

“Setelah kupikirkan lagi,” ucap laki-laki itu pelan yang hanya didengarkan oleh Natsume dan Tanuma. “Aku dengar gambar yang ada di lukisan itu adalah gambar tubuh, di SMA Misumi gambar kaki, dan di SMA Futaba adalah gambar kepala.”

“Eh?” kaget Natsume.

Laki-laki yang sudah berjalan cukup jauh itu kemudian menoleh ke arah Natsume. “Ah maaf, itu hanya rumor lama yang samar-samar kuingat. Gambar itu mungkin saja sekarang sudah tidak ada. Selamat tinggal,” ucap laki-laki itu yang membuat Natsume dan Tanuma bingung.

“Hei,” panggil Nishimura tiba-tiba sehingga membuat Natsume dan Tanuma menoleh ke arah dua temannya. “Kuil tua ... apa kau tahu sesuatu mengenai hal itu, Tanuma?”

“Eh? Hmm ... nanti aku bisa menanyakannya pada ayahku,” sahut Tanuma.

“Pendeta di kuil Juuto adalah kenalan kakekku atau begitulah yang kudengar,” ucap Kitamoto.

“Ah!” pekik Nishimura tiba-tiba memotong percakapan mereka. “Sudah waktunya aku berangkat les. Ohh! Aku harus pergi, sampai jumpa.”

Kemudian yang sekarang tersisa hanyalah Natsume, Tanuma, dan Nyanko-sensei.

“Tanuma, apa kau juga mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu?” tanya Natsume.

“Aa ...”

“Tubuh, kaki, dan kepala. Keliatannya itu telah dipotong-potong,” celetuk Nyanko-sensei.

“Dipotong-potong?!” pekik Natsume dan Tanuma bersamaan.

“Apa maksudnya itu?” tanya Natsume. “Kau sedang membicarakan mengenai Tenjou-san, kan?”

“Ya, dan sepertinya itu bukan sesuatu yang bagus,” sahut Nyanko-sensei.

“Aku rasa itu tidak ada di tempatku,” ucap Tanuma. “Tapi ayo coba kita periksa. Apa kau bisa datang besok untuk membantuku mencarinya, Natsume? Sebelum memperlihatkannya pada Nishimura dan Kitamoto, Sensei harus melihatnya terlebih dulu.”

Natsume menoleh ke arah Tanuma. “Aa ... tentu.”

‘Apa itu sesuatu yang boleh kami cari? Atau sebaiknya tidak dicari ... ketika semua potongan Tenjou-san ditemukan ...’

***




Sesuai janjinya, keesokannya Natsume berkunjung ke rumah Tanuma dalam keadaan kantung mata yang hitam.

“Pagi,” sapa Natsume.

“Pagi ... kau tidak bisa tidur juga ya?” balas Tanuma

“Aa ...”

“Aku bisa tidur sangat nyenyakkk ...” ucap Nyanko-sensei di tengah-tengah dua pemuda yang kurang tidur itu.

“Aku mendapatkan daftar barang yang ada di kuil tua itu dari ayahku,” ucap Tanuma sambil membuka buku yang ada di tangannya. “Ketika aku mencarinya di sini, aku berhasil menemukannya,” lanjut Tanuma sambil memperlihatkan halaman buku yang mencatat nama lukisan itu.

Lukisan, Tenjou-san (tubuh).

“Di mana itu?!” tanya Natsume.

“Ada di gudang kuil tua yang ada di sebelah barat,” sahut Tanuma. “Jika kita membersihkannya, mungkin kita bisa menemukannya di sana.”

“Ayo pergi.”




Natsume dan Tanuma kemudian memulai pencarian mereka di gudang yang ada di sebuah kuil tua.

“Ah, ini dia.”




Natsume dan Tanuma membiarkan Nyanko-sensei untuk melihat kotak itu tanpa membuka ikatannya.

“Bagaimana, Sensei?” tanya Natsume

Nyanko-sensei hanya memandangi kotak itu dengan serius.

“Sepertinya lukisannya digulung, haruskah kita membuka kotaknya?” tanya Tanuma.

“Jangan,” sahut Natsume. Tiba-tiba saja ia teringat dengan perkataan Himuro. “Jika kau menemukannya, sebaiknya kau tidak melihatnya,” ucap Himuro dulu.

“Himuro-senpai sepertinya tahu mengenai lukisan ini, lebih baik kita membicarakan hal ini padanya terlebih dulu,” lanjut Natsume.

“Yaa ...” balas Tanuma.

Tok! Tok!

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah luar yang membuat Natsume dan Tanuma menoleh ke arah pintu. Mereka dapat melihat ada tangan yang mengetuk kaca di pintu tersebut dan secara mendadak muncul kepala Himuro.

“Uwaahhh!” kaget Natsume dan Tanuma. “Himuro-senpai?!”

Himuro kemudian masuk ke dalam gudang itu. “Maaf, membuat kalian kaget,” ucapnya. “Aku tidak sengaja bertemu Nishimura di depan kedai teh. Aku sudah mendengar situasinya, jadi aku datang kesini. Aku dengar dari pendeta kalau kalian ada di sini.”

Natsume tidak menanggapinya, ia malah berbisik pada Tanuma yang sedang menggendong Nyanko-sensei. “Tanuma, apa dia benar-benar Himuro-senpai?”

“E-eh?” balas Tanuma dengan berbisik juga.

“Jangan khawatir, dia berbau seperti manusia,” sahut Nyanko-sensei berbisik.

Natsume kemudian mengambil kotak berisi lukisan Tenjou-san itu dan menyerahkannya pada Himuro. “Himuro-senpai hmm ... sepertinya ini lukisan Tenjou-san itu.”

“Kalian menemukannya?! Apa kalian melihat isinya?”

Natsume dan Tanuma segera menggelengkan kepalanya.

“Begitu ... baiklah kupikir tidak apa-apa,” ucap Himuro. Laki-laki itu kemudian duduk di bawah sambil membuka kotak di tangannya. Sekarang yang ada di tangannya adalah sebuah gulungan lukisan. “Untuk berjaga-jaga, kalian berdua berdirilah di belakangku dan tutup mata kalian.”

“Ba-baik,” sahut Natsume. Natsume dan Tanuma kemudian menutup mata mereka sedangkan Himuro mulai membuka gulungan lukisan yang ada di tangannya. Saat Himuro sedang membuka lukisan itu, Natsume samar-samar dapat mendengar suara seseorang dari luar.

“Oiii ... oiii ... Tanuma? Natsume?” ucap suara dari luar itu.

“Himuro-senpai datang ...”

“Kami membawa dango, ayo kita cari lukisan itu bersama-sama ...”

Dan pintu gudang itu pun terbuka lebar menampakkan Nishimura dan Kitamoto. Natsume membuka matanya sedikit dan segera berbalik menghadang kedua temannya itu.




“Kalian berdua, tutup mata kalian!!” teriak Natsume kepada dua temannya itu.

Nishimura dan Kitamoto yang kaget segera menutup matanya tanpa banyak bertanya.




Sedangkan Himuro sudah selesai membuka gulungan lukisan di tangannya. “Sudah tidak apa-apa,” ucapnya. “Tidak apa-apa, kalian bisa melihatnya. Inilah lukisan yang bernama Tenjou-san.”

Natsume dan yang lainnya kemudian membuka matanya dan menghadap kepada Himuro. “Eh? Kosong?” ucap mereka saat melihat bahwa kertas yang dipegang Himuro tidak berisi gambar apapun.

“Aa ...” sahut Himuro. “Lukisannya berubah kosong.”

‘Himuro-senpai kemudian menceritakan pada kami bagaimana cerita sebenarnya mengenai Tenjou-san.’

“Tenjou-san diciptakan sudah sangat lama ketika seorang pendeta pengelana menyegel sesuatu. Yang disegel adalah youkai jahat, karena itu aku khawatir jika kalian melihatnya. Youkai itu dibagai menjadi tiga bagian yaitu kepala, tubuh, dan kaki. Karena saking kuatnya, lukisan itu tidak bisa dirobek ataupun dibakar,” cerita Himuro.

“Masing-masing bagian diletakkan di kuil berbeda yang letaknya berjauhan untuk mencegahnya kembali bersatu. Tiga lukisan itu memiliki hawa yang buruk sehingga terus dioper-oper. Entah bagaimana caranya, tanpa ada yang menyadarinya lukisan itu berakhir di masing-masing sekolah,” lanjut Himuro.

“Eh?”

“Itu merupakan salah satu metode lama untuk mengusir setan yaitu dengan cara membagi tubuh mereka. Ketika lukisan itu terkena energi dari anak-anak muda dalam jangka waktu yang lama, youkai itu tetap tersegel di dalam kertas dan secara perlahan mulai termurnikan, begitulah menurutku.”

Himuro menjeda ucapannya sejenak. “Di hari saat pembimbing klubku dipindahkan, dia berkata seperti ini ‘Di sekolah kita ada lukisan putih bersih bernama Tenjou-san. Ada dua lukisan lagi di tempat lain. Aku ingin tahu apa yang tejadi dengan keduanya. Aku ingin mencarinya tapi itu tidak mungkin karena aku akan meninggalkan tempat ini. Akan bagus jika kau bisa menemukannya, Himuro.’”

Himuro tersenyum mengenang ucapan pembimbing klubnya itu.

“Sama seperti SMA Futaba, sebentar lagi SMA Misumi akan ditutup,” lanjut Himuro. “Aku tahu kalau legenda mengenai Tenjou-san hanya takhayul tua, tapi aku ingin mencarinya dan memastikan kalau permuniannya sudah selesai. Jika itu belum selesai, maka akan terjadi bencana ... jadi aku khawatir. Aku tidak peduli jika aku ditertawakan ... aku hanya ingin mencari sisa lukisannya.”

Himuro kemudian tersenyum ke arah Natsume. “Aku tidak berhasil melihat SMA Futaba karena sekolah itu telah ditutup sejak lama. Aku mendengar Tenjou-san dari nenekku yang lulusan sekolah ini. Karena itu aku yakin pasti ada satu Tenjou-san di Yowake juga.”

“Syukurlah,” desah Himuro sambil mengelus lembar lukisan di tangannya. “Semuanya sudah selesai.”

Natsume juga ikut tersenyum. “Syukurlah.”

‘Tenjou-san ... itu hanya sebuah kertas putih ... apa yang kulihat ... apa yang semuanya lihat ... hanyalah selembar kertas tua berharga yang sedikit mengerikan.’




“Maaf, karena aku menyeret kalian pada sesuatu yang aneh,” ucap Himuro begitu mereka keluar dari gudang tersebut.

“Tidak apa-apa, ini menyenangkan.”

“Jadi begitu ... dulu itu mungkin saja ada youkai ya ...”

“Kalau dipikir-pikir, kenapa itu disebut Tenjou-san?” tanya Kitamoto.

“Benar juga ... ketika aku mendengar suara dari langit-langit, itu sedikit mengerikan,” tambah Nishimura.

“Sesuai namanya, itu adalah youkai yang tinggal di langit-langit,” sahut Himuro. “Karena itu menurut legenda, bahkan sampai sekarang masih ada pengikutnya di daerah sini. Mereka masih mencari Tenjou-san di langit-langit.”

“Eh?” pekik Nishimura. “Jadi suara itu ...”

“Itu hanya tikus atau kelelawar,” sahut Kitamoto santai.

Himuro kemudian berjongkok sambil mengusap-ngusap dagu Nyanko-sensei. “Yah ... cerita ini mungkin berasal dari orang-orang yang takut dengan suara dari hewan-hewan kecil yang suka berkeliaran.”

Tanuma sekilas melirik ke arah Natsume sedangkan Natsume hanya tersenyum. “Ya, mungkin saja begitu,” ucapnya.

“Terima kasih banyak,” ucap Himuro kemudian. “Jika kalian memiliki masalah yang tidak bisa kalian tangani, beritahu aku, aku akan membantu kalian.”

“Tentu.”

Himuro kemudian berpamitan pada keempat anak kelas dua SMA itu.

“Ah, Senpai,” panggil Nishimura tiba-tiba. “Bagaimana cara menangkap Tsuchinoko? Aku dengar ada satu di dekat sekolah.”

Himuro segera membalik badannya kembali. “Tolong ceritakan padaku mengenai hal itu.”

“Nishimura!” bentak Kitamoto.

“Ah, tidak, tidak, Senpai. Itu hanya rumor kok,” ucap Nishimura meringis.

‘Begitulah, pencarian mengenai Tenjou-san berakhir aman. Aku penasaran apakah itu benar-benar berhubungan dengan ayakashi. Walaupun aku bisa melihat ayakashi, tapi aku tidak melihat mereka satupun pada kejadian kali ini.’

***




“Ketika paman itu melihat lukisannya, sepertinya saat itu gambarnya sudah menghilang, karena itulah ingatannya tidak jelas. Aku ingin tahu apa Tenjou-san benar-benar ada di sana,” ucap Natsume saat ia sudah di rumah bersama dengan Nyanko-sensei.

‘Walaupun gambarnya telah menghilang ... tapi kita mendapatkan kenangan yang menyenangkan.’

“Entahlah,” sahut Nyanko-sensei.

“Jika itu benar ... menyeramkan sekali jika benda berbahaya seperti itu dipajang. Aku ingin tahu ... di tempat ramai seperti festival apakah mungkin benda-benda jahat bisa dimurnikan dengan cara yang sama?”

“Tidak mungkin akan menghilang sepenuhnya,” sahut Nyanko-sensei. “Tapi jika ada yang memberikan ketenangan, mungkin saja itu bisa dimurnikan,” lanjut Nyanko-sensei sambil menikmati elusan Natsume pada kepalanya.

“Itu benda yang aneh.”

‘... sama seperti manusia dan ayakashi ...’

***

Akhirnya selesaiii jugaa, badan pegel-pegel wkwk xD Seneng banget lihat Natsume sama temen-temennya kayak gini ^^ btw, karakter Himuro ini sedikit menjanjikan, semoga aja dia bakal muncul lagi di chapter-chapter mendatang, abis dia suka sama hal-hal berbau mistis gitu hehe...
Oiya, terima kasih banyak buat nakain atas translasi Bahasa Inggrisnya ^^

18 Jan 2018

Sinopsis Natsume Yuujinchou Chapter 90

Posted by Unknown at 19:28 0 comments


Pengarang: Midorikawa Yuki
Majalah: Lala
Penerbit: Hakusensha
Bulan Terbit: September 2017





“Ini kunci ruang referensi,” ucap seorang laki-laki setengah baya sambil menyerahkan sebuah kunci pada pemuda di hadapannya. “Yah sebenarnya ruangan itu digunakan sebagai gudang sekarang.”

“Terima kasih banyak,” sahut si pemuda.

“Ngomong-ngomong, kau mengatakan kalau hal ini berhubungan dengan klub penelitian, sebenarnya apa yang sedang kau teliti?”

“Eh? Ahh ... itu ... apa Anda pernah mendengar mitos mengenai tujuh misteri dari SMA Misumi?” tanya pemuda itu.

“Hn?”

“Apa salah satu misteri itu menyebut mengenai hal ini?” tanya pemuda itu lagi.

***




Di tempat lain, terlihat Nishimura yang sedang serius menatap berbagai jenis dango di hadapannya. “Hmm ...”

Tiba-tiba saja dari arah belakangnya muncul Nyanko-sensei. “Meong ...”

Nishimura menoleh ke arah belakang. “Oh, itu kucing buntal milik Natsume,” ucapnya. “Hei, mana rasa dango yang kira-kira disukai oleh pemilikmu?” tanyanya.

Nyanko-sensei kemudian memanjat punggung Nishimura dan berdiam di pundaknya.

“Apapun yang kubawa, orang itu pasti mengatakan kalau itu enak,” ucap Nishimura memikirkan reaksi Natsume.

Di saat Nishimura masih bingung menentukan pilihannya, tiba-tiba saja ada seseorang laki-laki yang menyapanya.




“Permisi,” ucap laki-laki berkacamata itu yang sontak membuat Nishimura dan Nyanko-sensei menoleh ke belakang. “Seragam itu ... apa kau dari SMA Yowake?” tanya laki-laki itu lagi. “Kalau boleh ... bisa kita berbicara sebentar?”

***




“Maaf membuat kalian menunggu ... apa kau baik-baik saja, Kitamoto?” tanya Nishimura berteriak sambil memasuki kamar rawat Kitamoto di rumah sakit. Ia dapat melihat Natsume dan Tanuma yang sudah lebih dulu berada di sana.

“Sstt ... kau jangan berteriak seperti itu di rumah sakit, Nishimura,” ucap Kitamoto.

“Maaf, tapi coba lihat aku membawa sesuatu,” ucap Nishimura sambil menyerahkan bungkusan berisi dango kepada Kitamoto. “Ngomong-ngomong apa yang terjadi? Kau terlihat sangat tidak baik.”

Kitamoto menghela napas. “Aku hanya terpeleset di tangga,” sahutnya.

“Dia mengalami gegar otak ringan. Jadi dokter menyuruhnya untuk tinggal di rumah sakit selama satu malam agar mereka bisa memantaunya,” ucap Natsume.

Kali ini giliran Tanuma yang berbicara. “Lukanya hanya berupa goresan kecil. Jadi sepertinya kita tidak perlu terlalu khawatir.”

“Maaf membuat kalian mengkhawatirkanku, Natsume, Tanuma,” ucap Kitamoto. Ia menghela napas lagi. “Menyuruhku tinggal di rumah sakit seperti ini terlihat terlalu berlebihan. Ibuku dan keluargaku yang lain saja tidak khawatir, jadi mereka sudah pulang sekarang. Apa kalian mau diam di sini sampai sore? Jadi aku tidak akan bosan.”

“Oh! Serahkan pada kami!” sahut Nishimura berteriak.

“Suaramu terlalu keras, Nishimura,” marah Kitamoto.

Sejenak Natsume hanya memandang Kitamoto kemudian menundukkan kepalanya.

‘Ketika aku mendengar kalau Kitamoto dibawa ke rumah sakit, aku benar-benar panik. Syukurlah ternyata itu bukanlah luka yang serius.’

“Apa kau tidak apa-apa, Natsume? Kau terlihat seperti orang yang akan pingsan.”

“Ah, maaf, aku tidak apa-apa kok,” sahut Natsume.

“Haha ... terima kasih, Natsume.”

Mereka berempat kemudian mulai memakan dango yang dibawa Nishimura. Selagi teman-temannya memakan dango, Nishimura mulai bercerita. “Ah iya, tadi di jalan, aku bertemu seseorang bernama Himuro dari SMA Misumi.”

“SMA Misumi?” tanya Natsume.

“Kalian berdua baru pindah kesini, jadi kurasa kalian tidak tahu banyak mengenai hal ini,” ucap Nishimura kepada Natsume dan Tanuma. “Dulu di daerah ini ada tiga SMA yaitu Futaba, Misumi, dan sekolah kita Yowake. Ketiga sekolah itu disebut ‘San Koukou’. SMA Futaba sudah ditutup sejak lama dan sepertinya SMA Misumi juga akan ditutup dalam waktu dekat. Orang bernama Himuro itu anak kelas tiga SMA. Untuk hari kelulusannya, dia sedang meneliti sejarah tentang SMA Futaba dan Misumi,” jelas Nishimura.

“Hehh ...” tanggap Kitamoto sambil mengunyah dango.

“Lalu dia menyadari ada legenda yang sama di SMA Misumi dan Futaba,” lanjut Nishimura.

“Oh, jadi itu artinya ...,” ucapTanuma menggantung.

“Benar, San Koukou!” balas Nishimura bersemangat. “Apa jangan-jangan SMA Yowake juga memiliki legenda yang sama? Sepertinya di SMA Misumi dan Futaba, ada sebuah lukisan bernama Tenjou-san. Jadi dia penasaran apa ia juga bisa menemukan lukisan itu di SMA Yowake. Dan jika lukisan itu ada di sini, dia ingin melihatnya.”

Kitamoto melipat kedua tangannya berpikir. “Kedengarannya menarik.”

“Jadi, bagaimana kalau kita juga ikut mencari lukisan ini untuk membantu Himuro-senpai?” saran Nishimura.

“Boleh, sepertinya ini menyenangkan,” sahut Natsume.

“Ayo kita lakukan,” balas Tanuma.

“Yosha! Kita akan membentuk kumpulan pencari Tenjou-san!” teriak Nishimura bersemangat.

“Oou!” balas ketiga temannya yang lain.

Tanpa sengaja ada seorang perawat yang lewat di dekat kamar inap Kitamoto. Perawat perempuan itu menoleh ke arah mereka dengan tatapan marah. “Hei, jangan berisik.”

Nishimura menoleh pada pintu kamar inap Kitamoto yang memang sejak tadi terbuka. “Ah, maafkan aku.”

“Pembicaraan hari ini sampai di sini saja, sampai jumpa besok.”

Setelah itu, Natsume, Tanuma, dan Nishimura pun berpamitan pada Kitamoto. Mereka bertiga berjalan beriringan di koridor rumah sakit.

‘Lukisan yang ada di kedua sekolah ... ini cukup menarik,’ pikir Natsume.

“Tapi aku tidak pernah mendengar mengenai Tenjou-san sebelumnya,” ucap Tanuma.

“Aku juga,” balas Nishimura. “Aku akan menanyakan hal ini pada kakakku begitu sampai di rumah.”




Tiba-tiba saja Natsume merasakan ada seseorang yang mengawasi mereka dari jauh. Saat Natsume menoleh, ternyata di sana tidak ada siapapun.

“Ada apa, Natsume?” tanya Tanuma.

“Aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kita,” sahut Natsume.

“Ayakashi?”

“Tidak, sepertinya itu hanya imajinasiku.”

‘Jika aku melihat sesuatu, itu bisa saja manusia, bisa juga ayakashi atau bisa juga itu hanya imajinasiku.’

***

Saat sampai di rumah, Natsume segera menceritakan mengenai hal itu pada Nyanko-sensei.




“Yah ... jika Tanuma baik-baik saja, mungkin saja yang kau lihat adalah orang,” ucap Nyanko-sensei.

“Aku harap juga begitu,” balas Natsume. “Apa kau pernah mendengar mengenai Tenjou-san?”

“Dasar bodoh! Bagaimana mungkin ayakashi sehebat aku tahu mengenai legenda dan gosip anak sekolahan,” sahut Nyanko-sensei sambil memakan dango.

“Kurasa kau benar.”

‘Mitos mengenai lukisan tua dari dua sekolah ... aku penasaran kira-kira lukisannya seperti apa ...’

***




Sedangkan di rumah sakit saat Kitamoto membeli minuman dari mesin penjual minuman otomatis, dia merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya. Tapi saat ia menoleh, di sana tidak ada siapapun.

“Pasti itu hanya imajinasiku saja,” ucapnya.

***




Setelah Kitamoto keluar dari rumah sakit dan kembali bersekolah, siangnya keempat sahabat itu terlihat berjalan pulang bersama.

“Kakakku mengatakan kalau dia tidak pernah mendengar apapun mengenai lukisan itu,” ucap Nishimura.

“Aku juga menanyakannya pada ibuku ketika dia menjemputku tadi pagi, dia juga tidak tahu mengenai hal itu,” balas Kitamoto. “Kurasa ... lukisan itu tidak ada di sini,” putus Kitamoto setelah berpikir sejenak.

“Apa?!” pekik Nishimura. “Kita harus mencobanya terus.”

“Ngomong-ngomong, Nishimura, Tenjou-san itu sebenarnya lukisan apa?” tanya Tanuma.

“Hmm ... sebenarnya aku tidak menanyakan mengenai hal itu,” sahut Nishimura kalem.

“EHH?!”

Kitamoto memandang sahabatnya itu dengan tatapan frustasi.

“Kami hanya berbicara sebentar,” ucap Nishimura. “Tapi dia sangat serius menyelidiki hal ini. Jadi aku berpikir kita bisa membantunya sedikit,” lanjutnya dengan tatapan serius.

Natsume tersenyum melihat sikap Nishimura. “Benar-benar tipikal dirimu, Nishimura. Aku juga tertarik dengan hal ini, ayo kita mencarinya dengan serius.”

Tanuma dan Kitamoto tersenyum menyetujui.

“Apa menurut kalian itu adalah lukisan dari alumni?”

“Apa mungkin seseorang mendonasikan lukisan yang sama pada setiap sekolah?”

“Bagaimana kalau kita membagi diri kita menjadi dua grup. Satu grup bertanya berkeliling dan satu grup lagi mencari lukisannya?”

“Baiklah,” sahut Kitamoto. “Aku dan Nishimura akan menanyakannya pada guru dan juga kakak kelas.”

“Natsume dan aku yang akan mencarinya di gudang, mungkin saja kita menemukan sesuatu di sana,” ucap Tanuma.

Akhirnya mereka berempat membagi diri mereka menjadi dua kelompok.

‘Tentu saja yang sedang kami cari itu ...’

Natsume terlihat berpikir. “Bagaimana cara kita mencarinya kalau yang kita tahu hanya namanya saja?”

“Hmm ... mencari barang tua di gedung sekolah ini ...,” ucap Tanuma menggantung.

Natsume kembali berpikir.

‘Gedung sekolah yang kami gunakan saat ini adalah gedung baru. Beberapa waktu yang lalu ada banyak ayakashi yang tinggal di gedung yang lama, tapi sekarang mereka sudah pergi karena gedung itu telah dihancurkan.’

“Mereka mungkin saja memindahkan barang-barang berharga dari gedung lama. Kenapa kita tidak memeriksanya ke sana, Natsume?” tanya Tanuma.

“Boleh.”

‘Mungkin jika gedung sekolah yang lama masih ada ... kita bisa menanyakan hal ini pada ayakashi yang tinggal di sana.’

Akhirnya Natsume dan Tanuma pun berjalan ke tempat gedung sekolah mereka yang lama berada.

“Kurasa di sekitar ini,” ucap Tanuma.

“Ya, sudah dekat.”

Tiba-tiba saja dari semak-semak dekat mereka muncul Nyanko-sensei. “Kalian benar-benar menggunakan waktu kalian untuk mencarinya. Aku akan ikut juga.”

“Nyanko-sensei!” pekik Natsume kaget.

“Aku sedang tidak ada pekerjaan, jadi aku akan membantu kalian mencari lukisan berhantu ini. Sebagai imbalannya kau bisa memberikanku dango yang aku lihat di kedai teh.”

Natsume mendekati Nyanko-sensei. “Sepertinya hal ini tidak ada hubungannya dengan yokai, jadi kau tidak perlu membantu kami, Sensei.”

“APAA?!”

Tanuma kemudian menggendong Nyanko-sensei yang sedang terlihat kesal.




“Kau hanya datang sambil menangis padaku ketika kau kesulitan! Apa hadiah dango terlalu sulit untukmu?” marah Nyanko-sensei sambil memukul lengan Tanuma yang menggendongnya.

“Bukan itu yang kumaksud,” ucap Natsume. “Tenanglah, Sensei.”

Di tengah suara omelan Nyanko-sensei, Tanuma tiba-tiba melihat seorang laki-laki berdiri di dekat reruntuhan gedung sekolah yang lama.

“Huh? Ada seseorang di sana, Natsume,” ucap Tanuma.

“Eh?”

“Dia berdiri dekat reruntuhan gedung sekolah yang lama.”




“Seragam itu ... dari SMA Misumi.”

Natsume dan Tanuma kemudian mendekati laki-laki itu. “Hmm ... permisi, jangan-jangan kau Himuro-senpai dari SMA Misumi?”

Laki-laki itu menoleh. “Ya, benar,” sahutnya. Matanya kemudian melihat kucing yang berada di pelukan Tanuma. “Ah, kucing buntal itu ...,” gumamnya. “Apa kalian temannya Nishimura-kun?”

“Ya, aku Tanuma.”

“Namaku Natsume dan ini Nyanko-sensei.”

Mereka bertiga kemudian berbincang dan menjelaskan hal yang sedang mereka lakukan.

“Jadi begitu ... Nishimura-kun dan kalian sedang mencari benda itu,” ucap Himuro.

“Ya, tapi kami tidak bisa menemukan apapun yang berhubungan dengan lukisan itu.”

“Tidak apa-apa. Aku senang,” balas Himuro kemudian menundukkan wajahnya. “Jadi ternyata dia memikirkan ucapanku dengan serius.”

Natsume menatap laki-laki itu.

“Ah maaf, sebenarnya aku adalah satu-satunya anggota klub penelitian, aku sangat senang dengan pembimbing klubku, tapi dia harus pindah kerja karena masalah di rumahnya. Walaupun aku sendiri, aku tidak bisa keluar dari klub itu. Aku selalu mencari hal-hal aneh, sehingga aku tidak bisa menemukan orang yang tahan denganku. Karena itulah ... tindakan kalian benar-benar membuatku senang,” cerita Himuro panjang lebar.

Natsume dan Tanuma tertegun mendengar ucapan Himuro kemudian mereka tersenyum.

“Kalau kau ingin berterimakasih, berterimakasihlah pada Nishimura. Aku yakin dia pasti senang,” ucap Natsume.

‘Setelah mendengarkan apa yang dia katakan ... ternyata dia adalah orang yang meyakinkan.’

“Ah, sebentar lagi busku datang,” ucap Himuro. “Hari ini aku datang hanya untuk melihat tempat ini. Lain kali aku akan meminta surat izin agar bisa berkeliling di dalamnya.”

“Itu bagus. Oh iya, sebenarnya Tenjou-san itu lukisan apa?” tanya Tanuma.

“Eh?” Himuro sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. “Ah yaa ... aku tidak pernah berpikir akan ada orang yang membantuku untuk mencarinya, tapi ... jika kau menemukan sesuatu yang mungkin saja itu Tenjou-san, akan lebih baik kalau kau tidak melihatnya.”

Jawaban serius Himuro itu membuat Natsume tertegun, “Eh?”

“Tapi jika itu benar-benar ada, itu adalah sesuatu yang harus aku temukan ... maaf, tapi aku harus pulang sekarang.” Himuro kemudian segera pergi dan tak menghiraukan panggilan Natsume. Sedangkan Natsume dan Tanuma hanya bisa berdiri dengan wajah bingung.

‘Tenjou-san.’

‘Itu harus ditemukan ... tapi mungkin kami tidak boleh melihatnya?’

***




Sedangkan Nishimura dan Kitamoto berada di ruang guru untuk mencari informasi mengenai Tenjou-san.

“Jadi apa Bapak pernah mendengar mengenai lukisan Tenjou-san?”

“Hmm ... aku tidak tahu apapun mengenai lukisan itu,” sahut sang guru. “Pasti itu sesuatu yang sudah sangat tua. Mungkin saja itu berasal dari gedung sekolah yang lama, sebuah lukisan tua ya hmm ...”

“Ah, tapi aku pernah mendengar mengenai lukisan terkutuk,” celetuk salah satu guru perempuan yang ada di sana.

Nishimura dan Kitamoto segera menoleh. “APA?! Terkutuk?!”

“Ahh ... bukannya itu lukisan Mozart yang ada di ruang musik,” ucap guru perempuan yang lain. “Jika kau melihatnya saat malam, aku dengar terkadang dagunya bergerak dan mulutnya terbuka.”

Cerita guru itu sontak membuat Nishimura dan Kitamoto ketakutan. “Apa?! Menyeramkan! Apa itu lukisan yang ada di ruang musik saat ini?”

Guru perempuan pertama terlihat berpikir. “Hmm ... apa yang itu ya? Jika hal seperti itu yang ingin kalian dengar ... dua puluh tahun yang lalu, aku dengar kepala sekolah pernah melihat Tsuchinoko di dekat kuil yang ada di bukit belakang.” (Tsuchinoko : mitos mengenai makhluk berbentuk seperti ular)

“Oh, aku juga pernah mendengar mengenai hal itu,” balas guru perempuan kedua. “Katanya wakil kepala sekolah saat itu juga melihatnya ... hal itu benar-benar membuat gempar.”

Karena tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai Tenjou-san, akhirnya dua orang sahabat itu keluar dari ruangan guru. Mereka kemudian berjalan di koridor sekolah.

“Tsuchinoko,” gumam Nishimura masih merasa takut.

“Lupakan mengenai Tsuchinoko ... lupakan itu sekarang,” balas Kitamoto. “Aku ingin tahu apa Natsume dan Tanuma menemukan sesuatu.”

***

“Tanuma, bagaimana menurutmu mengenai cerita dari Himuro-senpai?” tanya Natsume.

“Hmm ... jika deskripsinya seperti itu, Tenjou-san sepertinya bukan sesuatu yang baik,” sahut Tanuma.

‘Jika itu adalah sesuatu yang berbahaya ... apakah akan baik-baik saja jika kami mencarinya seperti ini?’




“Tidak mungkin kan jika Himuro-senpai itu ayakashi?” tanya Natsume tiba-tiba.

“Eh?”

“Ah, maaf ... sepertinya aku memikirkannya terlalu berlebihan.”

“Ada banyak hal di duniamu yang tidak jelas, kan? Terkadang ...  aku ingin sekali bisa melihat dunia yang sama denganmu, tapi karena apa yang kita lihat berbeda ... ada beberapa hal yang mungkin bisa aku pastikan padamu. Hmm ... aku tidak terlalu pintar menjelaskannya,” ucap Tanuma seakan menjelaskan pada Natsume kalau Himuro itu manusia karena Tanuma bisa melihatnya dengan jelas.

Natsume menatap Tanuma. “Terima kasih, Tanuma.”

***




Sedangkan Nishimura dan Kitamoto kembali mencari informasi dengan bertanya pada guru yang lain.

“Tidak, aku tidak pernah mendengarnya,” sahut guru perempuan yang mereka temui di koridor sekolah.

“Ahh ... ternyata ibu juga tidak tahu. Apa ibu tahu siapa kira-kira yang memiliki informasi mengenai hal ini?” tanya Nishimura.

“Kalau itu ...”

Tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari langit-langit di atas mereka sehingga membuat mereka bertiga melihat ke atas.

“Hmm ... suara apa itu?”

Sang guru mendesah. “Oh, jangan lagi. Sepertinya itu tikus ... akhir-akhir ini sering terdengar suara aneh.”

“Hehh ...”

***

Pada akhirnya, empat orang laki-laki itu kembali berkumpul bersama untuk melaporkan apa yang sudah mereka dapatkan mengenai Tenjou-san.

“Kami sudah mencari di sekeliling gudang tapi tidak berhasil menemukan sesuatu yang kelihatannya seperti Tenjou-san.”

“Kami juga tidak berhasil mendapatkan petunjuk apapun.”




“Tapi sepertinya ada Tsuchinoko di sekitar sekolah,” ucap Nishimura yang membuat Natsume dan Takuma kaget sekaligus membuat mata Nyanko-sensei berbinar. “Selain itu kami tidak mendapatkan apapun.”

“Kebanyakan barang-barang lama dibuang atau didonasikan,” ucap Kitamoto. “Aku rasa ... bahkan jika barang itu ada di sini dulu ... pasti sekarang sudah–”

Ucapan Kitamoto tiba-tiba saja terputus karena ia merasa sedang diperhatikan. Ia kemudian menoleh ke belakang dan melihat seseorang yang mencurigakan. Tanpa menghiraukan teman-temannya, Kitamoto berlari mengejar orang itu.

“Ah ... hei, Kitamoto?” panggil Tanuma. Langsung saja, ketiga temannya itu mengikuti arah lari Kitamoto.




Kitamoto kemudian masuk ke dalam semak-semak untuk bersembunyi dan menyuruh teman-temannya untuk melakukan hal yang sama. “Sstt ...,” ucapnya agar teman-temannya itu tidak berisik.

“Ada apa ini?” tanya Nishimura berbisik.

Mereka berempat kemudian bersembunyi di dalam semak-semak. “Mungkin ini hanya imajinasiku saja, tapi ...,” ucap Kitamoto mulai bercerita. “Saat di rumah sakit, beberapa kali aku merasakan kalau aku sedang diawasi.”

“Eh?”

“Saat itu ketika aku melihat sekeliling, aku pasti selalu melihat bapak-bapak yang sama,” lanjut Kitamoto. “Aku baru saja melihat orang itu di sana.”

“Apa? Apa orang itu menguntitmu?” tanya Nishimura.

“Sepertinya tidak sampai seperti itu, tapi bukankah orang itu membuat perasaanmu tidak enak?” balas Kitamoto.

“Aku ingin tahu siapa orang itu,” ungkap Natsume dengan Nyanko-sensei yang berada di pelukannya.

Tiba-tiba saja Tanuma menoleh dan melihat punggung seseorang.




“Ah! Apa orang itu yang kau katakan?” bisik Tanuma. “Lihat, dia pergi sekarang.”

“Eh?”

“A-apa yang harus kita lakukan?”

“Apa menurutmu kita harus berbicara dengannya? Dia mungkin saja punya urusan dengan Kitamoto.”

“Aku tidak akan mau memanggilnya. Aku juga tidak mau bertanya kenapa dia mengikutiku,” sahut Kitamoto.

“Lalu mungkin kita harus mengikutinya sebentar?”

Dan pada akhirnya mereka berempat diam-diam mulai mengikuti orang misterius itu.

“Hei, bukannya kita terlihat lebih menyeramkan daripada orang itu?” bisik Nishimura.

“Ah ... ummm ...,”

“Dia masuk ke rumah itu.”




Natsume sejenak tertegun melihat rumah itu.

“Wah ... benar-benar rumah yang besar.”

“Kurasa itu hanya imajinasiku saja,” putus Kitamoto. “Tidak mungkin aku punya kenalan yang tinggal di rumah besar ini.”

“Kita pergi sekarang?” ajak Tanuma.

Tiba-tiba saja pintu di hadapan mereka terbuka dan menampakkan wajah orang yang mereka ikuti tadi. “Oh halo kalian yang di sana,” sapa orang itu.




“Kalian anak sekolahan yang mengobrol dengan riang di rumah sakit itu, kan?” tanyanya.

Pertanyaan itu sontak membuat mereka berempat kaget.

“Ini pasti takdir atau semacamnya. Kenapa kalian tidak masuk sebentar untuk minum teh?” tawar orang itu.

Nishimura cepat mengatasi situasi tidak mengenakan ini. “Terima kasih, tapi kami harus pergi les sekarang ... selamat tinggal,” ucapnya sambil mendorong Natsume dan Tanuma pergi.

Kitamoto tertawa meringis di sebelahnya. “Permisi,” ucapnya.

Mereka berempat kemudian pergi dari rumah itu dengan berlari.




Sedangkan orang misterius itu masih terus mengawasi kepergian empat orang anak SMA itu. “Oya ... oya ...,” ucapnya.

***

Yak, chapter ini berisi petualangan Natsume dkk dan ceritanya berlanjut di chapter selanjutnya.
Oiya, terima kasih banyak untuk EimiJ7 atas translasi Bahasa Inggrisnya ^^


 

My Rosemary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review