16 Jan 2018

Sinopsis Natsume Yuujinchou Chapter 87

Posted by Unknown at 11:11 3 comments



Pengarang: Midorikawa Yuki
Majalah: Lala
Penerbit: Hakusensha
Bulan Terbit: Maret 2017



Sore itu di sekolah, salah satu teman Nishimura memintanya untuk memindahkan beberapa barang ke gudang yang ada di belakang sekolah. Di tengah jalan, ia tiba-tiba melihat Natsume bersama dengan seekor gagak. Gagak itu terlihat terbang di hadapan Natsume sambil mengeluarkan suara khas burung gagak.

“Oh? Natsume, apa yang sedang–” Ucapan Nishimura terhenti saat ia malah melihat Natsume berlari mengejar gagak yang tiba-tiba saja pergi menjauh. Nishimura akhirnya berjalan ke arah tempat dimana Natsume semula berdiri. Laki-laki yang tidak lebih tinggi dari Natsume itu kemudian berjongkok saat melihat sesuatu di atas tanah.

“Hm ... apa ini? Batang kecil? Eh? Tapi ini terlihatseperti ...,” ucap Nishimura sambil memungut benda kurus kecil itu dari tanah.




“JARI?!” pekik Nishimura kaget. “Mungkin ini boneka atau sesuatu yang lain. Menyeramkan ...,” tambahnya. “Ah ... mungkin Natsume yang baru saja menjatuhkannya tadi.”

Tiba-tiba saja ada satu temannya yang berteriak dari lantai dua gedung sekolah. “Hei, Nishimura, Ooki-sensei mencarimu.”

Seketika itu juga Nishimura terkesiap. “Oh iya! Lembar pekerjaan rumahnya!” pekiknya seakan ingat akan tugasnya yang lain.

***

“Aku pulang,” ucap Nishimura begitu sampai di rumahnya. Laki-laki itu segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur. “Hahh ... kenapa hanya aku yang disuruh untuk mengerjakan banyak tugas?” desahnya. “Lelahnya ...”

Tiba-tiba saja ia merasakan sakit di dekat dadanya karena ada sesuatu yang menusuknya. “Ah, ya ampun aku melupakannya,” ucapnya sambil mendudukan diri kemudian mengambil benda seperti jari yang ada di kantong bajunya.

Nishimura menggenggam benda berbentuk jari itu. “Ini menyeramkan, tapi jika ini sesuatu yang dijatuhkan Natsume ... hm, baiklah, aku akan menelponnya.”

Tok! Tok!

“WAHH?” kaget Nishimura karena ada tangan yang tiba-tiba mengetuk jendelanya dari luar.




“Na-Natsume?!”  Nishimura kembali terkaget karena melihat temannyalah yang mengetuk jendelanya.

Nishimura segera membuka jendelanya. “Apa yang kau lakukan? Ini kan lantai dua. Bukannya ini bahaya?”

Sedangkan lawan bicara Nishimura hanya tertawa kecil. “Hehe.”

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Apa ada sesuatu yang mendesak?” tanya Nishimura beruntun. “Ah iya, apa kau menjatuhkan sesuatu di belakang sekolah, Natsume? Karena aku menemukan ini di sana,” tambah Nishimura sambil menunjukkan benda berbentuk jari itu ke arah Natsume.




Wajah Natsume seketika tampak aneh saat melihat benda itu dan membuat Nishimura terdiam sejenak.

“Jadi ini benar-benar punyamu? Apa ini penting?” tanya Nishimura.

“Aa,” sahut Natsume. “Ahh baiklah, sebenarnya ...”

“Hm?”

“Bisakah kau menyimpan benda itu untuk sementara waktu?” tanya Natsume tiba-tiba.

“Eh?”

“Dan tolong jangan beritahu siapapun kalau kau telah memungutnya,” tambah Natsume sambil tersenyum misterius.

Hal itu tentu membuat Nishimura keheranan. “Kenapa?”

Sedangkan Natsume hanya tersenyum kecil. “Bukan apa-apa. Sampai jumpa,” ucap Natsume sambil turun ke bawah. “Ini rahasia antara kita berdua.”

***

Keesokan harinya Nishimura sedang berjalan di koridor sekolah dengan temannya yang berkacamata. ‘Awalnya, Natsume itu sedikit misterius,’ pikirnya. ‘Ketika aku bertemu dengannya tadi malam, dia lagi-lagi menjadi orang yang tidak bisa kubaca.’

“Ada apa, Nishimura?” tanya temannya yang berkacamata.

“Bukan apa-apa. Ada sesuatu yang menarik terjadi kemarin malam,” sahut Nishimura.

“Sesuatu yang menarik?”

Nishimura membekap mulutnya tiba-tiba saat melihat Natsume berjalan ke arahnya. “Ah, bukan apa-apa,” balasnya.

Saat Natsume berpapasan dengannya, Nishimura tersenyum menatapnya sambil memperlihatkan jempolnya yang membuat Natsume menjadi bingung.




“Hehehe ...,” tawa kecil Nishimura.

‘Ah ... mungkin memiliki rahasia adalah sesuatu yang menyenangkan.’

Nantinya saat Nishimura berkumpul dengan Natsume, Tanuma, dan Kinamoto. Nishimura diam-diam memperhatikan Natsume yang bersikap seperti biasanya. ‘Natsume bersikap seperti dirinya yang biasa. Akulah satu-satunya yang gugup,’ pikirnya.

‘Natsume itu ... benar-benar pintar menyembunyikan sesuatu yaa ...’

Malamnya saat Nishimura sedang bersantai di kamarnya.

Tok! Tok!

“Hm?”

Jendelanya kembali diketuk dari luar.

“WAHH? Natsume?!” lagi-lagi Nishimura kaget melihat laki-laki itu muncul di luar jendela kamarnya.

“A-apa?” tanyanya sambil membuka jendela kamarnya.

Natsume tersenyum. “Hehe ... aku datang untuk melihat keadaanmu. Apa benda itu aman?”

“Eh? Iya,” sahut Nishimura kemudian mengambil sebuah kotak. “Aku memasukkannya ke dalam kotak ini.”

“Perlihatkan padaku,” ucap Natsume.

Dari kotak itu Nishimura mengeluarkan benda berbentuk jari dan memperlihatkannya ke arah Natsume. “Lihat? Apa kau akan mengambilnya?”

“Tidak, belum,” sahut Natsume. “Kalau begitu sampai jumpa,” tambahnya sambil tersenyum.

“Natsume?!” panggil Nishimura heran saat melihat laki-laki itu meloncat ke tanah tapi Natsume tidak menghiraukannya dan berjalan menjauhi rumah Nishimura. ‘Ada apa dengannya?’ gumam Nishimura.

Keesokan harinya di sekolah, Natsume bertingkah seperti biasa.

‘Dia memang cukup sulit dipahami ... dia laki-laki yang misterius.’

Kemudian malam harinya, Natsume kembali mendatangi Nishimura setelah mengetuk jendelanya seperti malam-malam sebelumnya.

“Apa itu aman? Perlihatkan padaku,” ucap Natsume.

Nishimura memperlihatkan benda berbentuk jari itu kepada Natsume. “Lihat? Kalau kau begitu mengkhawatirkannya, kenapa kau tidak membawanya saja?”

“Hehe ... belum saatnya,” sahut Natsume.

“Oh iya, kalau kau akan datang setiap sore kemari, lebih baik kau datang lewat pintu depan. Apa yang sedang kau lakukan ini berbahaya,” saran Nishimura melihat Natsume selalu menaiki atap rumahnya. “Dan jika kau begitu mengkhawatirkan benda ini, aku bisa membawanya diam-diam ke sekolah agar kau bisa melihatnya, kan?”

Natsume menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ia tidak menyetujui usul Nishimura.

“Kau benar-benar aneh. Memangnya ini apa?” tanya Nishimura sambil memperhatikan benda yang ada di tangannya.

“Menurutmu apa?” tanya Natsume balik.

“Ini ... jari boneka?” sahut Nishimura tidak yakin.

“Aa,” balas Natsume tersenyum.

“Ini bahkan memiliki kuku,” ucap Nishimura. “Dan jika aku melihat baik-baik ... ini dingin dan sedikit berat ... ini mungkin sudah lama. Ini tidak terlalu kotor, bahkan terlihat sangat cantik. Aku yakin ini sesuatu yang sangat berharga,” tambah Nishimura panjang lebar.




Natsume hanya memperhatikan benda itu dengan tatapan yang aneh sambil mendengarkan deskripsi Nishimura.

“Yahh ... karena kau sangat memperdulikannya, pasti ini benda yang penting untukmu, Natsume,” ucap Nishimura sambil menoleh ke arah Natsume.

“Begitulah,” sahut Natsume tersenyum. “Sampai jumpa.”

Nishimura segera mendekatkan dirinya ke arah jendela. “Eh? Kau sudah mau pulang?” tanyanya. “Kau tahu ... karena kau sudah susah-susah datang ke sini, kenapa tidak masuk sebentar?”

Natsume segera menggelengkan kepalanya kemudian turun ke bawah.




‘Kejadian ini terus berlangsung selama beberapa hari. Selama itu, aku selalu menghabiskan malam seperti ini dengan Natsume. Tapi apa itu benar-benar terjadi? Ini mulai terasa seperti tiap hari adalah kelanjutan dari mimpi yang sama. Saat itu Natsume rasanya ...’

Seperti malam biasanya, Natsume mendatangi Nishimura. “Apa itu aman? Perlihatkan padaku.”

“Tentu,” sahut Nishimura seperti biasanya. Nishimura sedikit kaget saat Natsume tiba-tiba saja bersenandung.




“Tumben. Kau bersenandung, Natsume,” ucap Nishimura.

“Hehe ... lagu ini sering dinyanyikan untukku,” sahut Natsume.

Nishimura semakin tertarik. “Oleh siapa? Touko-san?”

Natsume menggelengkan kepalanya. “Aku lupa,” sahutnya. “Orang itu terkadang menepuk kepalaku lembut tapi aku sudah lupa, aku yakin orang itu juga ... mereka lupa, karena itulah mereka tidak kembali padaku,” tambah Natsume dengan pandangan menerawang.

Saat itulah Nishimura merasakan sesuatu yang aneh. “Natsume?”

“Siapa namamu?” tanya Natsume tiba-tiba.

“Eh?” pertanyaan itu membuat Nishimura keheranan.

“Ah, bukan apa-apa, sampai jumpa,” ucap Natsume kemudian pergi menjauh dari rumah Nishimura.

“Natsume!” panggil Nishimura.

Natsume menoleh ke arah belakang kemudian melambaikan tangan kanannya yang segera dibalas oleh Nishimura.

‘Ini aneh. Walaupun kami berteman sudah cukup lama. Rasanya seperti ... kami baru saja berteman lagi.’




Keesokan harinya di sekolah, Nishimura terlihat sedang tertidur di atas bangkunya. “... mura, Nishimura,” panggil Kinamoto berusaha membangunkannya. “Dia tertidur lagi. Sepertinya dia tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini.”

Ucapan Kinamoto ini membuat Natsume khawatir, bahkan membuat Nyanko-sensei yang sedang tertidur di dahan pohon di luar membuka matanya.

“... mura, Nishimura,” panggil Natsume.

Nishimura membuka matanya. “Ah, Natsume?”

“Kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Natsume khawatir.

“Hmm ... saat ini siang hari? Jadi itu rahasia, kan?” balas Nishimura.

“Eh?”

Natsume kemudian memperlihatkan tatapan khawatir begitu mendengar ucapan Nishimura.




‘Ah ... aku ingin tahu kenapa, rasanya sudah lama aku tidak melihat Natsume berwajah seperti itu.’

“Untuk apa kau memperlihatkan wajah menyeramkan seperti itu? Sudah kubilang kan kau bisa menyerahkan semuanya padaku,” ucap Nishimura. “Tidak apa-apa, Natsume.”

Senyuman Nishimura semakin membuat Natsume khawatir. Laki-laki itu kemudian memandang Nishimura serius. “Maaf, Nishimura. Aku akan berusaha melakukan sesuatu mengenai hal itu.”

‘Natsume berkata seperti itu. Dan tiba-tiba saja rasanya ia sedang mengintip langsung ke mataku untuk mencari sesuatu. Entah kenapa aku jadi teringat dengan mata Natsume yang terlihat seperti bola kaca saat aku pertama kali bertemu dengannya.’

‘Seiring waktu Natsume menjadi lebih baik ...’

‘Tapi Natsume saat malam ... sekarang kalau kupikir-pikir dia terlihat seperti Natsume bermata kaca. Yahh ... bukannya aku tidak menyukainya juga.’

Malam harinya seperti biasanya Natsume kembali mendatangi Nishimura.

“Sepertinya suasana hatimu sangat baik malam ini,” ucap Nishimura saat melihat Natsume sedang bersenandung.

“Ya ... hei, ayo kita jalan-jalan hari ini,” ajak Natsume. “Dan bawa jari itu.”

“Hahh?”

‘Natsume seperti sedang benar-benar gembira, jadi akhirnya aku pergi dengan berasalan kalau aku akan pergi ke toserba.’




Akhirnya malam itu Nishimura mengikuti Natsume untuk berjalan-jalan di luar. Nishimura mengenakan jaket berwarna putih berkebalikan dengan warna jaket yang dikenakan Natsume. Sepanjang jalan, Natsume masih terus menyenandungkan sebuah lagu.

‘Jadi sekarang bulan purnama ya,’ pikir Nishimura menatap langit malam.

“Hei, ayo masuk ke sana,” ajak Natsume.

“Eh?”

Nishimura akhirnya mengikuti ajakan Natsume untuk masuk ke sebuah rumah. “Ini rumah yang besar, tapi sepertinya ditinggalkan,” ucap Nishimura melihat sekelilingnya.

“Jangan khawatir, aku tahu tempat ini dengan baik,” balas Natsume.

“Apa rumah ini milik seseorang yang kau kenal?” tanya Nishimura. Saat melihat Natsume berjalan meninggalkannya, Nishimura memanggilnya. “Hei, tunggu, Natsume!”

Mereka berdua semakin dalam masuk ke rumah tersebut. Nishimura menoleh ke arah belakang sebelum akhirnya mengikuti Natsume naik ke atas tangga. Hingga sampailah ia di sebuah ruangan yang terlihat berantakan. Di ruangan itu terdapat sebuah kursi di pojokan. Jendelanya yang rusak membuat angin menerbangkan gorden yang menutupinya.




“Jendelanya rusak ... dan ada bulu gagak. Mungkin gagak atau semacamnya ada di sini sebelumnya,” ucap Nishimura sambil memperhatikan boneka yang tergeletak tak jauh darinya.

“Apa kau bisa memasangkan jari tengah di tangan kirinya?” tanya Natsume dari arah belakang.

Nishimura memegang tangan kiri boneka tersebut dan memasakan benda berbentuk jari yang sejak tadi ia bawa. Ukurannya pas dan sangat cocok.

“Ahh ... jadi jari ini milik boneka ini?” tanya Nishimura sambil mengangkat boneka tersebut.




Ia kemudian mengusap rambut boneka tersebut dan meletakkan di atas kursi. Ditepuknya pelan kepala boneka itu.

“Tidak apa-apa seperti ini, Natsume?” tanya Nishimura sambil menoleh ke belakang. Tapi Natsume tidak ada di belakangnya. “Eh? Kemana dia pergi?”

“Natsu–”

Kratak! Kratak!

Ucapan Nishimura terhenti saat mendengar suara aneh dari boneka tersebut. Dan tiba-tiba saja boneka itu berdiri kemudian melayang ke arahnya.

“UWAHHHH!” teriak Nishimura berlari menuruni tangga. “Bonekanya bergerak!”

Karena saking takutnya, tanpa sengaja kaki Nishimura terpeleset sehingga membuat ia jatuh dari tangga. “Uwaaa!”

***




“... mura, Nishimura.”

Nishimura seketika terbangun saat mendengar suara Natsume. “Natsume?”

“Syukurlah. Apa kau terluka?” tanya Natsume.

“Eh?”

“Apa yang terjadi?” tanya Natsume lagi.

“... apa itu tadi,” gumam Nishimura. “Aahh kau memintaku untuk berjalan-jalan denganmu kemudian kita masuk ke tempat ini,” terang Nishimura sambil memegang bahu Natsume. “Bonekanya! Apa kau juga melihatnya, Natsume? Aku yakin aku melihat bonekanya bergerak ...”

“Boneka?”

“Uhh ... aku rasa kau benar, boneka tidak mungkin bergerak,” ucap Nishimura setelah berpikir sejenak.

‘Aku pasti tidak melihatnya dengan benar. Sesuatu seperti itu tidak mungkin bergerak dengan sendirinya. Dan juga ... walaupun aku merasa aku terjatuh dari tangga, aku tidak terluka.’

Setelah memperhatikan tubuhnya yang tidak terluka, ia kemudian menatap Natsume dengan saksama. ‘Apa Natsume berpakaian seperti ini tadi?’

‘Entah mengapa semuanya tampak begitu samar, seperti itu hanya mimpi.’

“Nishimura,” panggil Natsume. “Maaf, aku membuatmu terlibat dalam sesuatu yang aneh ... maaf,” tambah Natsume dengan nada menyesal.

“Eh? Kenapa kau meminta maaf, Natsume? Rasanya ini seperti sebuah petualangan seru di tengah malam,” balas Nishimura tertawa kecil.

Ucapan Nishimura membuat Natsume sedikit kaget dan lega sekaligus. “Terima kasih, Nishimura.”

‘Itu mungkin karena tirai yang bergoyang di bawah sinar rembulan sehingga membuat boneka itu terlihat seperti bergerak. Itu benar-benar memalukan, takut karena hantu kemudian jatuh dari tangga. Tidak mungkin aku menceritakan hal ini pada siapapun,’ pikir Nishimura.

Nishimura dan Natsume kemudian keluar dari rumah kosong tersebut. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Nishimura penasaran dengan sesuatu. “Hei Natsume, lagu yang sering kau senandungkan ... bagaimana mulainya?”

“Eh? Aku menyenandungkan sesuatu?” tanya Natsume balik.

“Iya,” sahut Nishimura mantap.




Natsume terdiam sejenak sebelum menjawab, “Entahlah, aku juga ingin tahu.”

Sedangkan Nishimura hanya tertawa kecil mendengar jawaban Natsume.

‘Natsume di sekolah dan Natsume yang hanya datang saat malam hari ... rasanya mereka berbeda.’

“Hehe ... kau benar-benar menarik, Natsume,” ucap Nishimura nyengir. Natsume hanya tersenyum untuk membalas ucapan temannya itu. Mereka berdua kemudian berpisah di tengah jalan.

‘Natsume yang tertawa denganku kembali menjadi Natsume yang biasa ... karena aku memasang jari itu pada tangan kiri boneka itu, setelah ini Natsume akan berhenti datang ke rumahku saat malam. Walaupun aku akan bertemu Natsume di sekolah besok ... rasanya sedikit kesepian. Sekarang kalau kupikir lagi, aku tidak pernah melihat tangan kiri Natsume saat malam hari.’

Nishimura tiba-tiba menatap ke arah bulan. ‘Aku heran kenapa aku melihat bulan nampak kabur dan tidak jelas.’

***
Sedangkan Natsume sedang dalam perjalanan pulang dengan Nyanko-sensei.

“Ya ampun ... boneka itu benar-benar masalah besar,” ucap Nyanko-sensei sambil meregangkan ototnya. “Dia hanya bisa merasakan hawa ‘jari’ itu di malam hari.”

“Di sekolah beberapa hari yang lalu, seekor gagak membuat keributan. Ia mencengkram sesuatu di mulutnya, sesuatu yang mengeluarkan hawa aneh. Tapi pada akhirnya burung itu pergi, sehingga aku tidak berpikir kalau itu adalah hal yang perlu diperhatikan. Aku rasa itu mungkin jari boneka yang ada di rumah besar itu. Burung yang membawanya pasti menjatuhkannya di halaman belakang sekolah di mana Nishimura kemudian memungutnya. Boneka itu pasti ingin mencari jari yang telah dicuri oleh si burung,” jelas Natsume.

“Karena Nishimura memungutnya, keinginannya pasti telah mengambil bentuk salah satu dari teman Nishimura untuk mengambil jari itu kembali. Dia menyerupaimu untuk mendekati Nishimura. Yahh ... itu mantra lemah yang hanya bekerja pada malam hari saja,” ucap Nyanko-sensei.

“Akhir-akhir ini aku merasa Nishimura terlihat aneh, aku bersyukur aku mengintainya malam ini. Aku heran kenapa dia menunggu sampai malam ini untuk membawa jari itu ke rumah tempat ia tinggal, bukannya dia bisa membawanya lebih awal?” tanya Natsume.

Nyanko-sensei kemudian menjawab pertanyaan Natsume. “Itu karena sekarang bulan purnama. Itu mungkin karena ayakashi menjadi lebih kuat dengan kekuatan bulan. Dia memakai kesempatan itu untuk memancing seseorang mengembalikan jarinya kembali, dengan kekuatan sinar bulan, dia bahkan bisa memakan atau menculik seseorang jika dia mau.”

“Awalnya aku berpikir itulah tujuannya ... tapi ketika aku masuk ke rumah kosong itu, sesuatu yang mengejar Nishimura adalah ...”




Natsume kembali mengingat kejadian yang terjadi beberapa saat lalu. Saat ia melihat Nishimura hampir jatuh dari tangga, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik kerah bajunya dari arah belakang.

“Nishimura hampir terjatuh tapi ada sesuatu yang menariknya ... aku rasa itu tangan sebuah boneka, benda itu menarik Nishimura ke atas kemudian menghilang dengan cepat. Karena jari itu diambil oleh seekor gagak nakal ... dia mungkin tidak ingin membuat orang lain terluka, dia bahkan menyembunyikan dirinya di dalam rumah kosong itu.”

Natsume terdiam sejenak sambil memperhatikan bulan purnama di langit. Nyanko-sensei sudah naik ke atas bahunya. “Sensei,” panggil Natsume. “Suatu saat aku ingin memberitahu Nishimura ... tapi aku tidak ingin dia berubah. Aku ingin dia tertawa seperti tadi, tanpa beban,” lanjutnya sambil membayangkan tawa Nishimura. “Aku ingin tahu lagu apa yang ia ingin aku senandungkan.”

“Entahlah,” sahut Nyanko-sensei.

***

Sebenarnya ini kerjaan iseng-iseng aja hehe soalnya sampe sekarang belum ada tempat baca manga online yg upload chapter 87 hehe ^^ kalo ada waktu mungkin saya buat sinopsis chapter 88 juga ^^ terima kasih buat EimiJ7 atas translasi Bahasa Inggrisnya ^^


21 Nov 2017

While You Were Sleeping (Review)

Posted by Unknown at 15:10 0 comments


Judul: While You Were Sleeping
Jumlah: 32 Episode
Durasi: 35 Menit per Episode
Pengarang: Park Hye Ryun

Sinopsis:


Seorang perempuan bernama Nam Hong Joo (Bae Suzy) dapat melihat kejadian di masa depan melalui mimpinya. Seorang jaksa, Jung Jae Chan (Lee Jong Suk) berjuang untuk menghentikan mimpi-mimpi buruk itu agar tidak menjadi kenyataan.


Berhubung saya adalah penggemar beratnya Lee Jong Suk, jadi sudah pasti alasan utama saya menonton drama ini karena ada dia wkwk. Saya udah gak peduli lagi sama acting Suzy yang tidak terlalu bagus di drama dia sebelumnya, yang terpenting di drama ini ada Lee Jong Suk dan itu sudah cukup (jangan ditiru ya). Jadi, walau masih sedikit tidak rela karena Lee Jong Suk harus beradu acting dengan Suzy, saya tetep nekad nonton mereka. Oh, saya bukannya gak suka sama Suzy, cuma gak suka sama actingnya aja, jadi agak kasihan sama Jong Suk yang harus pasangan sama dia.

Ehhh ... tapi setelah menonton episode awalnya, rasa was-was saya langsung hilang. Terima kasih banyak buat acting Jong Suk yang selalu menawan dan mampu membangun chemistry kuat di antara dia dan Suzy. Berkat Jong Suk, acting Suzy yang dulu tidak terlalu bagus, sekarang sudah menjadi lebih baik. Tapi, memang masih ada beberapa adegan yang memperlihatkan acting Suzy yang terasa agak kaku, terutama di bagian saat ia kaget, kagetnya kurang menjiwai. Well, secara kesulurahan, acting Suzy di drama ini sudah bagus kok. Kalau soal acting tokoh yang lain sih gak usah dibilang lagi, semuanya bagus banget, cocok kalo dikasi dua jempol, terutama Jong Suk.

Untuk jalan ceritanya sendiri, drama ini mengusung genre misteri yang diperkuat dengan fantasi dan sedikit humor. Waktu awal baca sinopsisnya, memang terasa agak aneh, tapi disitulah letak istimewanya. Oh iya, sinopsis yang saya taruh di atas itu sinopsis versi pendeknya, soalnya kalo naruh sinopsis yang panjang jadi berasa spoiler hehe ... Dan yaa, karena sinopsis versi pendek itu yang membuat saya merasa tertipu di episode awal. Jadi, buat kalian yang belum nonton drama ini, ayo nonton aja dijamin gak akan nyesel. Bukan cuma kasus-kasusnya aja yang keren, tapi humornya juga bagus, gak maksa dan terasa sangat pas. Bagian humornya biasanya terjadi kalo Jong Suk lagi ngumpul sama senior-seniornya di kantor, dijamin deh pasti pengen ngulang-ngulang adegan mereka terus.

Kalo bicara soal tokoh, tokoh yang paling kasihan itu Lee Yoo Beom yang merupakan mantan jaksa yang kemudian menjadi pengacara dan sekaligus merupakan tokoh antagonis di sini. 


Dan yaa, buat kalian yang pernah nonton Signal pasti tahu dia itu siapa hehe... Iya, bener banget, dia itu si pembunuh kantong kresek yang terkenal itu lho ahahaha... Oke, balik lagi ke Lee Yoo Beom. Di episode awal, dia memang terlihat sangat licik dan dia bahkan menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan banyak untung. Tapi, di pertengahan cerita, ternyata terungkap kalo dia itu juga orang baik, dia bahkan gak suka waktu harus membela seorang pembunuh di pengadilan. Andai saja dia punya teman yang selalu ada di sisinya, dia pasti gak akan menjadi orang yang licik. Dia juga kayaknya gak diperhatiin gitu sama orang tuanya, puk-puk Lee Yoo Beom.

Jadi, intinya buat kalian yang belum nonton, ayo coba nonton drama yang satu ini. Pemainnya ganteng-ganteng dan cantik-cantik, acting yang di atas rata-rata ditambah jalan cerita yang selalu membuat penasaran. Kurang apa lagi coba? Belum lagi banyak cameo-cameo terkenal di sini. 



24 Oct 2017

Detective Conan Movie 21: The Crimson Love Letter (Review)

Posted by Unknown at 20:47 0 comments


Judul: The Crimson Love Letter
Durasi: 1 jam 51 menit
Penulis Screenplay: Takahiro Okura

Sinopsis:

The Crimson Love Letter bercerita tentang kasus pengeboman yang terjadi di Nuchiuri TV Osaka pada saat musim gugur. Padahal di gedung tersebut sedang berlangsung acara Satsuki Cup, yang merupakan acara perebutan mahkota pemenang Hyakunin Isshu (permainan berebut kartu yang berisi puisi klasik Jepang).
Kejadian tersebut menyebabkan keributan dan gedungnya terbakar. Heiji dan Kazuha yang terjebak di dalam gedung kemudian diselamatkan oleh Conan. Identitas dan tujuan pengeboman pun belum diketahui hingga muncul wanita cantik yang mengaku sebagai tunangan Heiji bernama Momiji Ooka yang ternyata Juara Karuta (Hyakunin Isshu) di sekolahnya.
Kazuha yang telah diajari oleh ibu Heiji harus berhadapan dengan Momiji dalam permainan Hyakunin Isshu. Sementara itu, Conan, Heiji dibantu kepolisian Osaka menyelidiki kasus terbunuhnya juara Satsuki Cup sebelumnya dan pengeboman Satsuki Cup yang ke semuanya terhubung dengan Hyakunin Isshu.



Kalau menurut saya pribadi, judul movie dari anime Detective Conan kali ini merupakan judul paling manis dari judul-judul movie lainnya. Dilihat dari posternya, sepertinya movie ini akan mengulas kisah percintaan Heiji dan Kazuha. Apakah kali ini Heiji berhasil mengutarakan perasaannya? Karena di dalam manganya, Heiji sudah berkali-kali gagal. Yah, itu juga karena sikap pasangan ini yang kelewat tsundere hihi...

Oiya, movie ini juga mengusung salah satu permainan kartu Jepang yang bernama Karuta. Awalnya saya sendiri gak tahu Karuta itu apa, tapi begitu menonton sebentar movienya, kita dibuat langsung mengerti dengan cara permainannya. Jadi, intinya Karuta itu adalah permainan kartu di mana di setiap kartu terdapat puisi klasik Jepang. Permainan ini dimainkan oleh dua orang dengan satu orang yang membacakan puisi. Dua pemain itu akan saling berlomba untuk mencari kartu yang berisi lanjutan puisi yang sedang dibacakan, pemenangnya adalah pemain yang berhasil mengumpulkan kartu paling banyak.


Saat movie baru dimulai, kita sudah dihadapkan pada kasus pembunuhan dan disusul dengan kasus pengeboman. Jujur, sebenarnya saya gak terlalu suka dengan adegan-adegan action dari kebanyakan movie Detective Conan, karena terlihat terlalu berlebihan dan agak sulit diterima nalar tapi sebagian orang mungkin memang suka hehe... Contoh salah satu adegan di sini yang gak saya suka itu saat Heiji dan Kazuha terjebak dalam gedung yang sedang terjadi pengeboman, mereka berdua selamat karena Conan. Oke, iya, Conan itu memang Shinichi tapi rasanya agak sulit diterima saja gara-gara Conan itu fisiknya ya tetap fisik anak kecil dan kesannya di sini Heiji terlalu bergantung pada Conan yang seorang anak kecil. Jadi, saya tetep gak suka. Kalau adegan akhir saat Heiji berusaha menyelamatkan Kazuha di gedung terbakar itu saya masih lumayan suka, ya setidaknya Heiji berusaha sendiri tanpa meminta pertolongan Conan.

Untuk kasus dari movie ini saya lumayan suka karena ada sedikit twist di akhirnya. Semua kasus pembunuhan dan pengeboman yang terjadi berhubungan dengan permainan Karuta lima tahun yang lalu. Awal konfliknya adalah kesalahpahaman dan cinta sepihak. Motifnya manis sekali, cocok untuk judul movie kali ini :) Silahkan ditonton aja ya, saya gak mau spoiler hehe...


Khusus untuk Heiji dan Kazuha, rasanya pasangan ini masih menemui jalan buntu. Heiji masih belum menyatakan perasaannya padahal adegan mereka yang tercebur di akhir itu lumayan romantis, kenapa gak dinyatain di saja aja, Heiji? Btw, nonton movie ini, saya jadi inget movie Detective Conan yang ke-7, mungkin gara-gara tokoh utama movienya itu Heiji dan Kazuha ya? Duh jadi pengen nonton lagi.

Bicara soal tokoh, di movie ini ada tokoh baru yang muncul, namanya Momiji Ooka, cewek cantik berambut cokelat sebahu. Ini juga menjadi salah satu konflik untuk pasangan Heiji dan Kazuha karena Momiji tiba-tiba mengatakan Heiji sebagai calon suaminya di masa mendatang. Hal ini karena Heiji berjanji akan menjadikan Momiji sebagai pengantinnya kelak. Janji masa kecil yang kedengarannya manis sekali tapi sayangnya berakhir humor. Jadi sehabis movie ini selesai, jangan langsung distop ya... tonton sampai epilog hehe...


Ah iya, sebenarnya saya agak kecewa nonton movie ini gara-gara tokoh favorit saya cuma keliatan sedikit. Haibara, kok kamu gak ikut jalan-jalan ke Kyoto sih? Tapi, cukup terobati sih soalnya di sini si Conan itu bergantung banget ke Ai. Semua analisa kasusnya diserahin ke Ai, aduh kalian ini bikin shipper kalian berharap banyak aja ... padahal udah pasti kalau di akhir nanti Conan bakal kembali ke Ran, tapi tetep aja saya sukanya kalo Conan sama Ai huhu...

Ost untuk movie ini bagus banget. Saya pertama kali denger lagunya di ending anime Detective Conan dan langsung jatuh cinta. Bahkan sampe sekarang masih saya sering denger berulang-ulang hehe... Satu lagi, di akhir movie ada sedikit bocoran untuk movie berikutnya yang akan dirilis tahun 2018 mendatang. Sepertinya sih bakal membahas soal Rei Furuya aka Tooru Amuro aka Bourbon aka Zero. Anak ini punya banyak nama samaran yaa... Semoga di movie selanjutnya, pembahasan tentang Organisasi Hitam lebih diperdalam. Kangen banget sama Gin dkk hehe... Abisnya kalau kalian gak muncul-muncul terus, Detective Conan gak bakal selesai-selesai -.-‘

17 Jul 2017

Ruler: Master of the Mask (Review)

Posted by Unknown at 00:20 1 comments



Judul : Ruler: Master of the Mask
Jumlah : 40 Episode
Durasi : 30 Menit
Pengarang : Park Hye Jin, Jung Hae Ri

Sinopsis:

Pada tahun 1700-an, Putra Mahkota Lee Sun bertarung melawan Pyunsoo-hwe. Pyunsoo-hwe adalah organisasi yang menghimpun kekuatan dan kekayaan dengan menguasai air di seluruh Joseon. Putra Mahkota Lee Sun menjadi harapan bagi orang-orang yang menderita. Ga Eun adalah wanita yang dicintai oleh Putra Mahkota Lee Sun dan ia membantunya menjadi seorang pemimpin.


Alasan paling utama kenapa saya memutuskan mengikuti drama ini adalah karena para pemainnya. Tokoh utama di drama ini diperankan oleh Yoo Seung Ho sebagai Putra Mahkota Lee Sun dan Kim So Hyun sebagai Ga Eun. Karena mereka berdualah yang menjadi tokoh utama, kita tidak perlu takut kecewa dengan akting pemainnya. Belum lagi peran antagonisnya, Dae Mok diperankan oleh Heo Jun Ho, penjiwaannya bagus banget.

Bukan hanya pemainnya, tapi jalan ceritanya juga cukup menarik. Cerita ini mengambil setting di zaman Joseon di mana kita akan dimanjakan dengan keindahan bangunan kuno dan kecantikan pakaian serta perhiasannya. Awalnya saya berpikir kalau cerita drama ini akan ada hubungannya dengan sejarah Joseon, tapi ternyata cerita di drama ini adalah fantasi bahkan silsilah kerajaannya juga fiksi.

Seiring dengan perkembangan cerita, ada dua tokoh yang kepribadiannya menarik perhatian saya. Yang pertama itu adalah Kim Hwa Gun, gadis yang merupakan cucu dari antagonis utama. Dia adalah penerus sah dari organisasi Pyunsoo-hwe tapi sayangnya dia jatuh cinta dengan Putra Mahkota. Karena alasan itulah, ia rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan Putra Mahkota. Ia rela mengkhianati kakeknya sendiri, melakukan segala hal demi membantu Putra Mahkota, bahkan ia rela perasaannya tidak dibalas asalkan Putra Mahkota bahagia.

“Jeoha, tujuanku bukanlah menjadi Ratu ataupun wanitamu. Jeoha bisa menjadikan perempuan manapun duduk di sampingmu. Aku hanya perlu menjadi Dae Mok selanjutnya dan memberikan Pyunsoo-hwe pada Jeoha.” –Hwa Gun.

Tokoh selanjutnya itu adalah Gon, pengawal setia Hwa Gun. Laki-laki yang lebih banyak bertindak daripada berbicara. Ia akan melakukan apapun demi Hwa Gun, bahkan ia tidak melapor ke Dae Mok mengenai semua hal yang dilakukan Hwa Gun. Saat Hwa Gun menyuruhnya melindungi Putra Mahkota, ia menurutinya padahal ia tahun nyawa Nona-nya berada dalam bahaya. Adegan paling mengharukan itu saat Gon melihat tubuh Nona-nya yang sudah tidak bernyawa. Demi membuat Hwa Gun bahagia, akhirnya ia memilih memihak Putra Mahkota dan mengkhianati Dae Mok.

“Sebagaimana kepadaku, lindungi juga Jeoha. Dengan begitu, aku bisa hidup. Mengerti?” –Hwa Gun.
“Saya akan mematuhi perintah Aghassi sampai saya mati.” –Gon.

Pemain yang aktingnya di luar bayangan saya itu adalah akting L yang menjadi Lee Sun (orang biasa). Agak tidak menyangka bahwa idol seperti dia bisa bermain sebagus itu. Dia benar-benar bisa membuat kita sangat membencinya karena penjiwaannya saat berperan menjadi Lee Sun.

Terlepas dari berbagai kelebihannya, drama ini juga punya sedikit kekurangannya. Menurut saya, akhir cerita ini kurang bagus karena misteri organisasi Pyunsoo-hwe belum terungkap sepenuhnya. Ada tokoh-tokoh bertopeng yang belum terbongkar, mereka sepertinya adalah atasan Dae Mok. Itu berarti walaupun Dae Mok sudah dikalahkan, organisasi ini akan tetap ada.

Dari sekian banyak adegan di drama ini, adegan yang paling cantik itu adalah adegan akhir saat Ga Eun diangkat menjadi Ratu Joseon, cantik banget. Semuanya serba cantik. Suasananya, nuansanya, pemandangannya, pakaiannya, serta semua pemainnya. Direkomendasi banget buat nonton drama ini bagi pecinta saeguk seperti saya.


20 Jun 2017

Death Note: Light Up the New World (Review)

Posted by Unknown at 02:27 0 comments


Judul : Death Note: Light Up the New World
Durasi : 135 menit

Sinopsis

Sepuluh tahun telah berlalu semenjak konfrontasi antara Kira dan L. Sekali lagi, shinigami (dewa kematian) menjatuhkan Death Note ke dunia manusia dan membuat kekacauan. Tsukuru Mishima adalah anggota Divisi Khusus Death Note dengan enam petugas lainnya termasuk Matsuda yang mengalami kasus Kira sepuluh tahun yang lalu.

Pembunuhan massal yang disebabkan oleh Death Note terjadi di Wall Street di Amerika Serikat, Shibuya di Jepang, dan di tempat-tempat lainnya. Detektif swasta terkenal, Ryuzaki yang merupakan penerus sah L juga menyelidiki pembunuhan massal tersebut. Mereka menemukan bahwa enam Death Note ada di dunia manusia. Sebuah virus komputer yang disebut Kira menyebar di dunia. Sebuah pesan dalam virus Kira mengatakan untuk menyerah keenam Death Note tersebut.

Seseorang yang memiliki keenam Death Note menguasai dunia. Konfrontasi dimulai antara seseorang yang menginginkan kebangkitan Kira dengan orang-orang yang ingin menghentikannya.


Akhirnya yaaa~ berhasil juga nonton film ini. Memang sih filmnya sudah satu tahun yang lalu dan hype-nya udah lewat lama banget. Sebelum kita bicara soal film ini, mungkin lebih baik kita flashback ke masa kejayaan Light Yagami dulu.

Jadi, sepuluh tahun yang lalu, Ryuk si Shinigami yang udah bosen hidup di dunia Shinigami akhirnya memutuskan iseng mencuri Death Note punyanya Raja Shinigami dan iseng juga ngejatuhin buku itu ke dunia manusia. Ajaibnya buku itu diambil sama anak terjenius di Jepang yang juga lagi bosen sama kehidupan di dunia. Cocok, kan mereka? Iya, jodoh enggak akan ke mana kok. Nama anak itu Light Yagami. Cowok yang paling ganteng menurut Misa Amane.

Light Yagami yang ingin membersihkan dunia dengan menggunakan Death Note hampir dihentikan oleh L. Kalau dari manga-nya, L berhasil dibunuh oleh Light lewat perantara Rem, kemudian Light berhasil dikalahkan oleh Near. Nah, kalo versi film Death Note: The Last Name, Light berhasil dikalahkan L dengan cara menulis namanya sendiri di Death Note sehingga ia tidak bisa dibunuh oleh Light, tapi akhirnya ia meninggal sesuai dengan tanggal kematian yang ia tulis di Death Note. Sedangkan Misa sendiri kehilangan hak kepemilikan Death Note-nya, ingatannya hilang, dia tidak dihukum tapi diawasi ketat oleh pihak kepolisian terus menerus.

Sekarang, kita review film ini. Sebelum menonton film-nya, mungkin lebih baik menonton tiga episode mini-dramanya dulu, karena di sana dijabarkan siapa saja ketiga tokoh utama di film ini. Yang pertama itu Mishima, anggota kepolisian yang berada di Divisi Khusus Death Note. Dia adalah laki-laki didikan Soichiro Yagami. Kemudian ada Ryuzaki alias penerus L. Yang terakhir adalah Shien, laki-laki yang merupakan teroris dunia maya dan tiba-tiba dihadiahi Death Note oleh Ryuk.

Pemain sudah siap semua, tirai mulai dibuka, dan dimulailah pertunjukkan memperebutkan Death Note ini.

Jadi, saat pihak kepolisian berhasil mendapatkan satu Death Note, mereka bertemu dengan Shinigami bernama Bepo yang memberitahu mereka kalau di dunia manusia setidaknya ada 6 Death Note, karena kalau jumlah Death Note lebih dari itu, maka yang ketujuh tidak bisa digunakan. Mengetahui hal tersebut, Mishima mempunyai ide untuk mengumpulkan keenam Death Note kemudian menyegelnya, maka kejadian pembunuhan massal tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.

Dari semua plot di sini, yang paling saya suka itu adalah kemunculan Misa Amane, gak nyangka aja kalau orangnya bener-bener terlibat dalam cerita. Sepuluh tahun berlalu, Misa udah gak bisa dibodoh-bodohin lagi, tapi karena rasa cintanya ke Light masih sama, dia akhirnya rela melakukan hal yang disuruh Shien hingga akhirnya memutuskan membunuh dirinya sendiri dengan kertas Death Note.

Oke, kembali lagi ke panggung utama. Akhirnya setelah berbagai macam trik-trik yang sudah digunakan oleh ketiga tokoh utama, mereka kemudian bertemu di bagian akhir cerita. Shien sudah berhasil mengumpulkan keenam Death Note dan bersiap membunuh Kira yang selama ini memberinya perintah, Kira yang juga telah memberinya Death Note dan video Light Yagami.

Kejadian di sana terasa sangat cepat dan semua cerita ini berputar arah. Shien yang selama ini kita pikir sebagai Kira berubah menjadi tokoh yang hanya dimanfaatkan oleh Kira asli. Ryuzaki yang merupakan penerus L yang sudah berjanji tidak akan menggunakan cara mati yang sama dengan L lama akhirnya mendapati namanya telah ditulis Kira di Death Note. Dan ternyata Kira yang selama ini kita kejar-kejar adalah Mishima. Dialah yang mengambil Death Note dari tangan anak Light Yagami beserta video yang berisi pesan lengkap milik Light. Masih enggak rela kalo Light punya anak, ibunya siapa, Light? Sekali lagi anak didik Soichiro yang berulah ya? Dulu Light Yagami, sekarang Mishima. Aduhh ... semoga Anda tenang di sana.

Mishima berhasil menjebak semua orang dengan menghilangkan hak kepemilikannya, bahkan ia menulis nama asli Ryuzaki sebelum menghilangkan hak kepemilikannya. Setelah pertunjukan pembongkaran identitas Kira ini, semua kejadian mulai kacau balau. Shien meninggal di tempat dan menyerahkan keenam Death Note ke tangan dua orang yang tadi masih menjadi musuhnya. Ryuzaki mati-matian melindungi Mishima, kamu enggak lupa kalo dia Kira, kan? Duh! Dan berakhir dengan Mishima yang masuk penjara. Tapi, akhirnya dia dibebaskan dan digantikan dengan Ryuzaki di hari kematiannya. Mishima dibebaskan. Ryuzaki percaya kalau Mishima akan bisa mengumpulkan keenam Death Note. Yah, karena Death Note berhasil dicuri orang saat pengirimannya ke ICPO.

Akhirnya film ini selesai dengan senyuman dari Mishima. Eits! Ini belum selesai, masih ada pesan-pesan dari Light.

“Semua sesuai rencana.” –Light.

Jadi, semua kejadian ini sudah diprediksi oleh Light bahkan direncanakan oleh dia sendiri. Ternyata ini masih tetap menjadi panggung keemasan miliknya karena Light adalah Kira yang sesungguhnya.

17 Jun 2017

Towards Zero - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 16:14 0 comments


Judul : Towards Zero / Menuju Titik Nol
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 304 halaman
Alih Bahasa : Windrati Selby
Sampul : Staven  Andersen
Penerbit di Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Apa hubungan antara percobaan bunuh diri yang gagal, tuduhan pencurian yang keliru terhadap siswi sekolah, dan kisah romantis seorang petenis terkenal? 
Untuk pengamat biasa, mungkin memang tak ada hubungan apa-apa. Hingga kemeriahan pesta yang diadakan di rumah seorang janda tua di Gull’s Point berakhir dengan kematian. 
Dan tampaknya, semua itu bagian dari rencana pembunuhan yang rapi.



“Saya suka cerita detektif yang bagus. Tetapi, mereka selalu mulai di tempat yang salah! Mereka mulai dengan pembunuhannya. Padahal pembunuhan itu merupakan akhirnya. Cerita itu dimulai jauh sebelumnya, kadang-kadang bertahun-tahun sebelumnya dengan segala macam sebab dan peristiwa yang membawa orang-orang tertentu, ke suatu tempat tertentu, pada suatu waktu tertentu, di suatu hari tertentu” –Mr. Treves.

Novel karangan Agatha Christie ini benar-benar sesuai dengan penjabaran dari Mr. Treves. Cerita dimulai berbulan-bulan sebelum pembunuhan terjadi. Jika pembunuhan terjadi di musim panas September maka awalnya dimulai sejak musim dingin Januari.

Sesuai dengan sinopsisnya, cerita dimulai dengan percobaan bunuh diri dari Andrew MacWhirter yang sayangnya berhasil digagalkan oleh sebatang pohon yang tumbuh di tebing, tempat ia menjatuhkan dirinya. Dia digambarkan sebagai laki-laki yang kehilangan banyak hal karena ia hidup terlalu jujur. Tapi kata perawat yang selalu menceramahinya di rumah sakit, orang yang pernah mencoba bunuh diri tidak akan melakukannya lagi. Dan sepertinya itu benar, karena pada akhirnya ia dapat bangkit dan dapat memberikan anugerah pada Inspektur Battle di kemudian hari.

Cerita kali ini memang tidak menampilkan tokoh detektif Hercule Poirot atau Miss Marple. Yang ada hanyalah Inspektur Battle, salah satu sahabat Poirot di Scotland Yard. Awalnya ia harus menyelesaikan urusan anak bungsunya yang dituduh melakukan pencurian. Malangnya, anaknya itu memang memiliki kekurangan yaitu dirinya akan merasa kalau dialah pelakunya jika ditekan terus menerus. Tapi, sebagai seorang polisi, dia tahu anaknya tidak bersalah. Dan berkat tingkah anaknya jugalah, ia pada akhirnya dapat menangkap pelaku pembunuhan yang gilanya bukan main.

Tak lengkap rasanya jika tidak ada kisah romansa di novel karangan Agatha Christie. Dan kali ini, ia memberikan kisah cinta sebagai dasar sebuah pembunuhan. Kisah ini berpusat pada Nevile Strange, petenis tampan yang digilai banyak wanita. Dia diceraikan istri pertamanya, Audrey Strange, kemudian menikahi wanita yang lebih muda 10 tahun darinya, Kay Strange. Jika Audrey adalah wanita yang tenang, lemah lembut, dan penuh sopan santun, maka Kay Strange adalah kebalikannya, kecantikannya dan vitalitasnya yang membuat Nevile mencintainya.

Tiba-tiba saja Nevile mempunyai sebuah gagasan untuk mempertemukan istri pertama dan keduanya di rumah ibu asuhnya sekaligus berlibur di sana. Rumah yang biasanya tenang itu harus menerima ketegangan dari dua wanita itu hampir selama dua minggu. Bukan hanya Nevile yang dicintai oleh dua istrinya yang berlibur di sana. Ada Thomas Royde yang sangat mencintai Audrey sejak kecil, rela pulang dari Malaya dan berniat melamar gadis pujaannya itu. Kay yang memang sangat cantik memiliki seorang teman laki-laki yang akan mengikutinya kemana pun ia pergi yaitu Ted Latimer, laki-laki itu menginap di hotel dekat rumah ibu asuh Nevile, bahkan terkadang ia ikut makan malam dan makan siang di sana.

Hingga akhirnya pembunuhan itu terjadi. Si korban adalah sang tuan rumah alias ibu angkat Nevile yang bernama Camillia Tressilian. Selama hampir 12 tahun lebih, ia tinggal dengan sepupu jauhnya, Mary Aldin ditemani pelayan-pelayannya yang setia. Inspektur Battle yang kebetulan ada di sana yang menangani kasus ini bersama dengan keponakannya yang merupakan inspektur di daerah itu.

Sejak awal, semua tuduhan dan bukti-bukti mengarah ke satu orang yaitu Nevile, dimulai dari sidik jari di tongkat golf hingga bercak darah di jasnya. Tapi, belajar dari pengalamam membaca buku karangan Agatha, semua bukti-bukti itu pasti hanya tipuan untuk pembaca. Akhirnya kita akan mencari-cari tersangka yang lain, dimulai dari semua orang yang menginap di rumah itu dengan menyingkirkan Nevile sendiri, yaitu Audrey, Kay, Aldin, Thomas, hingga Ted.

Mungkin kita akan berpikir bahwa Audrey-lah si pelaku. Karena sejak awal cerita, dia digambarkan sebagai wanita pendendam yang menggunakan topeng malaikat di wajahnya. Satu-satunya motif yang terpikirkan mengenai pembunuhan ini adalah warisan tapi tak ada satupun dari mereka yang kekurangan uang. Hingga akhirnya motif kebencian itu mulai terlihat. Pembunuhan ini diperlukan untuk membuat Nevile menjadi tersangka kemudian ditambah bukti-bukti lain yang bermunculan, semuanya mengarah pada Audrey.

Saat Battle akan menangkap Audrey, dia mulai ragu karena ia merasa melihat ekspresi anak bungsunya di wajah Audrey, wajah orang yang mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Kemudian datanglah Tuan MacWhirter membawa sebuah anugerah kepada Battle ditambah sebuah kebenaran yang diungkapkan Thomas kepada Battle. Kebenaran mengenai kisah dibalik perceraian Nevile dan Audrey.

Perceraian itu terjadi bukan karena Nevile yang mencintai Kay, tapi terjadi karena Audrey berselingkuh dengan Adrian. Semua itu ditutupi dengan rapi oleh Nevile. Jadi, sudah terlihat jelas bukan Audrey yang menyimpan dendam pada Nevile melainkan sebaliknya.

“Pembunuhan itu sendiri merupakan akhir dari ceritanya. Itulah Titik Nol-nya. Kematian Lady Tressilian kecil artinya dibandingkan dengan tujuan pokok pembunuhnya. Pembunuhan yang saya maksudkan adalah pembunuhan Audrey Strange.” –Inspektur Battle.

Wah, hebat sekali kan rencana pembunuhannya. Dengan meninggalkan bukti-bukti palsu mengenai dirinya sendiri, ia hampir berhasil mengirim mantan istrinya ke tiang gantungan. Tapi rencananya berhasil digagalkan berkat kesaksian MacWhirter walaupun sesungguhnya kesaksian itu bohong, untuk pertama kali dalam hidupnya, MacWhiter berbohong demi menyelamatkan seseorang.

Yahhh ... terima kasih untuk Nevile, berkat dirimu semua kisah cinta ini mulai melihat titik terang. Audrey akhirnya menikah dengan penyelamatnya, Andrew MacWhirter. Thomas akhirnya sadar bahwa ia lebih mencintai Aldin daripada Audrey. Dan mungkin saja Kay dapat melupakan suaminya yang hanya memanfaatkannya itu dan mulai membuka hatinya pada Ted yang selalu setia dengannya.



 

My Rosemary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review