10 May 2017

Strobe Edge - Sakisaka Io (Review)

Posted by Unknown at 08:42 0 comments


Judul : Strobe Edge / ストロボ・エッジ
Pengarang : Sakisaka Io
Komikus : Sakisaka Io
Jumlah : 10 Volume (43 Bab)


Sinopsis


Karena tidak memiliki pengalaman dalam percintaan, Ninako dengan bersemangat mengeksplorasi arti dari "cinta" sebenarnya, dan terkejut saat merasakan beragam emosi saat dia semakin dekat dengan Ren yang tenang namun lembut yang kebetulan memiliki hubungan yang cukup lama. Dengan tetap menegakkan kepalanya tingi-tinggi, Ninako bersiap menghadapi rasa sakit hati dari cinta sepihaknya ini sehingga dia bisa menghadapi serangkaian cobaan yang mungkin dapat membuatnya menjadi perempuan yang kuat, atau dapat menghancurkannya, seperti perempuan lainnya.


Saat membaca manga ini, yang pertama kali terlintas itu adalah manga Ao Haru Ride, karena kebetulan pengarannya sama. Dan entah kenapa, di manga ini, saya jauh lebih suka dengan Andou daripada Ren, sama seperti di Ao Haru Ride, saya juga lebih suka Touma daripada Kou. Touma dan Andou itu sama-sama tokoh utama laki-laki kedua yang imut-imut dan yang pasti akan merasakan patah hati di akhir cerita. Kalau Touma itu laki-laki pemalu, Andou lebih terang-terangan dan agak sedikit gila.

Mungkin memang di awal cerita, saya lebih suka pasangan Andou-Ninako apalagi saat laki-laki itu baru sadar akan perasaannya sendiri, setiap bertemu Ninako, dia pasti seperti orang pengidap penyakit jantung. Tapi, semakin mendekati akhir cerita, saya mulai suka dengan pasangan Ren-Ninako, apalagi saat Ren ditolak hingga akhirnya Andou berusaha membuat Ninako sadar akan perasaannya sendiri. Aduh, kasihan sekali si Andou, mungkin dia hanya bisa menangis dalam hati saja pada akhirnya. Eh, tapi Andou-Ren juga cukup menggoda kok.

8 May 2017

Antologi Rasa - Ika Natassa (Review)

Posted by Unknown at 18:57 0 comments


Judul : Antologi Rasa
Pengarang : Ika Natassa
Tebal : 344 halaman
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


KEARA

We're both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe. How can we be so different and feel so much alike, Rul?
Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuat aku jatuh cinta, my dear, dan aku di sini terbaring menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu.
Three years of my wasted life loving you.

RULY

Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa bahwa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, "Pak, istrinya sudah sadar," dan bahwa gue bahkan tidak berniat sedikit pun untuk mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.

HARRIS

Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, "Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love."
That's probably as close as I can get to hearing that she loves me.


Ya sesuai dengan judulnya, novel ini memang penuh rasa.

Semua rasa tercampur aduk di setiap lembar novel ini. Sudut pandang yang terus berubah-ubah semakin membuat kita bisa meresapi semua perasaan karakternya. Ikutan frustasi bareng Harris sama perasaannya ke Keara dan harus rela dicuekin sama cinta matinya itu selama setahun. Ikutan galau bareng Keara sama perasaannya ke Ruly tapi di satu sisi dia punya Panji yang cinta ke dia, belum lagi perang dinginnya ke Harris dan gimana rasa cemburunya dia ke Denise. Dan buat Ruly yang entah kenapa masih cinta mati ke Denise padahal Denise udah punya suami, sampai akhir kayaknya dia gak sadar ya kalau Keara cinta mati ke dia. Walaupun akhirnya Keara sempet pacaran sama Ruly tapi akhirnya mereka putus. Ruly balik lagi ke dunia fantasinya berharap suatu saat nanti Denise bisa ngeliat dia dan Keara gencatan senjata dengan Harris terus memilih liburan ke Singapura, tempat di mana dia memulai perangnya ke Harris.

Nice story, konfliknya terasa nyata banget ^^

Divortiare - Ika Natassa (Review)

Posted by Unknown at 17:37 0 comments


Judul : Divortiare
Pengarang : Ika Natassa
Tebal : 328 halaman
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


"Jadi lebih penting punya Furia baru daripada ngilangin nama mantan lo dari dada lo?"
Pernah nonton Red Dragon? Aku masih ingat satu adegan saat Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins melihat bekas luka perluru di dada detektif Will Graham (Edward Norton), dan berkata, "Our scars have a way to remind us that the past is real."
Tapi kemudian kita tiba di satu titik ketika yang adaa hanya kebencian luar biasa ketika melihat tatto itu, and all you wanna do is det rid of it. So, then you did.
Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar.
Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn't want to.


Saat pertama kali membaca sinopsinya, sebenarnya merasa agak sedikit malas karena temanya mengenai perceraian, mungkin nanti akan ada terlalu banyak air mata dan melodrama. Tapi tebak apa?

Ternyata novel ini keren banget! Ini terlalu jauh dari melodrama! Sekali masuk ke dalamnya, seakan sudah tidak bisa keluar kembali. Pembawaannya ceritanya juga sangat bagus, kita bahkan bisa merasakan kegundahan yang dirasakan Alexandra saat ia harus memilih antara menikah dengan Denny atau tetap menjadi janda. Memang akhir ceritanya gantung, tapi tenang saja, ada novel lanjutannya ya....

A Very Yuppy Wedding - Ika Natassa (Review)

Posted by Unknown at 15:25 0 comments


Judul : A Very Yuppy Wedding
Pengarang : Ika Natassa
Tebal : 288 halaman
Desain Cover : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


The life of business banker is 24/7, dan bagi Andrea, bankir muda yang tengah meniti tangga karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all. Namun di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So she should be smiling, right?
Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia, ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.


Awal mulai membaca novel ini, saya merasa agak bosan ... mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Alurnya terkesan cepat dan setiap adegannya singkat-singkat, bagusnya setiap adegan langsung to-the-point tapi lama-kelamaan hal itu membuat agak bosan. Alhasil novel ini akhirnya hanya menjadi bahan bacaan sebelum tidur, sehari hanya dibaca 10 halaman, padahal biasanya bisa habis baca dua novel dalam sehari kalau sedang semangat.

Tapi dari halaman 200 (sisanya hanya 82 halaman), barulah mulai ada rasa menggebu-gebu untuk segera menyelesaikan novel ini, mulai terbawa dengan emosi karakternya. Akhirnya mulai suka banget sama hubungannya Andrea dan Adjie. Adegan yang paling greget itu saat Andrea kabur dari rumahnya padahal besok dia akan menikah dengan Adjie. Dan gregetannya semakin menjadi-jadi saat akhirnya Adjie membawa Andrea pulang ditambah dengan percakapan mereka di mobil yang begitu dalam tapi ... CUT!

Tiba-tiba saja dipotong argghh ... rasanya digantungin, lagi seru-serunya terus dipotong dan tidak ada penjelasan lagi. Dan akhirnya mereka bahagia. Tapi secara keseluruhan, novel ini menghibur. Dan harus saya akui kalau di beberapa halaman mendekati akhir, saya nangis membayangkan Andrea yang menderita habis, SAKIT!

Hei Kak, Apa Kau Bahagia Sekarang?

Posted by Unknown at 14:48 0 comments

Suara alarm ponselnya memaksa Laras untuk membuka matanya. Padahal ia baru saja tidur sekitar tiga jam yang lalu. Ya, salahkan tugas-tugasnya yang menumpuk itu. Dia pikir mahasiswa baru seperti dirinya akan diberi keringanan, tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi jurusan psikologi. Ia jadi teringat saat kakaknya menjadi mahasiswa baru, kakaknya itu bahkan terlihat sangat santai seperti pengangguran tapi IP-nya selalu di atas 3,5.

Ya ampun, dia lupa kalau kakaknya itu bisa dibilang jenius sedangkan dia hanya manusia yang berada pada garis rata-rata. Sudah, lupakan saja tugas-tugasnya yang menumpuk itu. Ada perut yang sudah meronta minta diisi.

"Ras, kamu lihat pisau buah Mama?" suara ibunya menyapa Laras saat ia sampai di dapur.

"Hah?" balas Laras sambil menuang jus jeruk ke gelasnya. "Ma, Laras baru pulang kemarin sore dari kos, banyak tugas dari kampus. Coba tanya ke kakak, dia kan di rumah terus."

Sang ibu hanya menghela napas sambil memperhatikan masakannya di atas penggorengan.

"Ini orangnya, Ma," ucap Laras saat melihat kakaknya masuk ke dapur. Mata Laras memperhatikan kakaknya yang sedang membuka lemari pendingin. Mata sayu, rambut acak-acakan, baju lengan panjang, celana panjang ditambah aura menyeramkan. "Kak, lihat pisau buah? Mama yang tanya."

Sang kakak hanya menatap si adik sambil memicingkan matanya sebagai jawaban. Oke, sepertinya suasana hati kakaknya sedang buruk. Sebaiknya jangan diganggu. "Enggak lihat," sahut kakaknya akhirnya dengan suara ketus.

"Kakakmu kayaknya lagi banyak pikiran. Dia ada cerita ke kamu, Ras?"

"Enggak ada, Ma. Palingan cuma masalah mahasiswa semester tua. Skripsi, skripsi."

Berbeda dengan kakaknya yang tinggal di rumah, Laras lebih memilih untuk menyewa sebuah rumah dengan teman-teman kuliahnya. Jadi, dia hanya di rumah saat hari Sabtu dan Minggu. Karena itu, interaksi dirinya dengan sang kakak banyak berkurang.

***

Akhirnya Laras sampai di rumah setelah berkendara hampir satu jam dari kos-nya. Begitu sampai di kamarnya, ia mendapati kakaknya di atas tempat tidurnya. "Aduh, kakak kenapa di sini? Laras mau istirahat, nanti malam mau buat tugas. Kakak pergi ke kamar sana," hardik Laras sambil meletakkan ransel dan tas berisi baju-bajunya. Hari Jumat sore adalah hari di mana dia bisa pulang ke rumah.

"Hmm ...," gumam kakaknya tidak jelas sambil berguling-guling di atas tempat tidur Laras.

Laras bertolak pinggang sambil memperhatikan tingkah kakaknya. Setelah menunggu selama satu menit, akhirnya sang kakak berdiri. Masih dengan rambut yang acak-acakan, jaket berwarna abu-abu ditambah kantung mata yang hitam.

"Kakak belum tidur?" tanya Laras. Ah, itu pertanyaan retoris. Kadang-kadang, ia jadi penasaran sebanyak apa tugas yang dimiliki mahasiswa teknik seperti kakaknya. Padahal awal-awal kuliah, kakaknya terlihat sangat santai. Ya, hanya kakaknya saja yang tahu.

Bukannya menjawab pertanyaan Laras, sang kakak hanya pergi sambil menghela napas. Dasar!

Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Laras mulai mengerjakan tugasnya. Membuat sebuah laporan mengenai salah satu penyakit kejiwaan. Dan sekarang dirinya sedang terdiam karena bingung bagaimana cara membuat daftar isi otomatis dari tugasnya. Ah, kakaknya pasti tahu.

Sambil membawa laptopnya, ia pergi ke kamarnya kakaknya. "Eh? Dikunci?" Laras memiringkan kepalanya heran. "Kak, bisa minta tolong?"

Tak kurang dari semenit, sang kakak keluar dari kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya kembali. "Kenapa?"

Kemudian Laras menjelaskan masalahnya selama lima menit dan sang kakak menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga menit. Ya, kakaknya memang jenius. Terserah bagaimana orang lain memandang kakaknya, tapi bagi Laras, kakaknya adalah orang paling jenius di dunia dan panutan hidupnya.

***

Hari Kamis adalah hari yang paling melelahkan bagi Laras. Kuliah dari pagi sampai sore. Terima kasih kepada pegawai TU yang sudah membuat jadwal kuliahnya seperti di Neraka. Tinggal satu mata kuliah dan dia bisa tidur di atas kasur empuknya.

Baru saja ia akan masuk ke kelas, ponselnya bergetar. Ah, ayahnya menelepon.

"Ya, kenapa, Pa?"

Cukup lama ayahnya terdiam sebelum menjawab pertanyaan Laras. Suara ayahnya terdengar serak seperti orang yang sedang sakit. "Papa sakit?"

Akhirnya setelah berbasa-basi, ayahnya menjelaskan sesuatu padanya. Sesuatu yang membuat mata Laras membesar dengan air mata yang ingin tumpah saat itu juga. Jantungnya berdetak kencang mendengar semua penjelasan ayahnya. Ah, ini tidak mungkin! Kakaknya tidak mungkin berbuat seperti itu!

***

Langkah kaki Laras menggema di lorong rumah sakit. Ia berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan kamar mayat. Tidak ada ayah dan ibunya di sana. Yang ada hanya pamannya yang kebetulan adalah seorang dokter forensik. "Kamu sudah datang, Ras."

"Paman, kakakku di mana?" Suara Laras bergetar. Laras pikir awalnya ia tidak akan menangis lagi karena sepanjang perjalanan ia sudah menangis terus. Tapi saat matanya melihat tubuh sang kakak, air matanya kembali tumpah. "Kak? Kak?"

Kakaknya sudah pergi meninggalkannya selama-lamanya.

"Kakakmu hilang sejak hari Selasa, Ras. Tadi pagi, ada yang menemukan tubuhnya di sungai dalam keadaan meninggal," terang Pamannya.

Laras tidak tahan melihat tubuh kakaknya yang membiru dan penuh sayatan itu. Dengan langkah gontai, Laras keluar dari ruangan itu dan pergi ke taman rumah sakit. Dia hanya berdiri diam sambil menatap langit.

Ah, kakaknya yang malang. Sebenarnya masalah apa yang dimilikinya sampai ia berani mengambil jalan pintas seperti ini? Semua perilaku aneh kakaknya akhir-akhir ini membuat Laras tertegun.

Laras sangat menyukai psikologis manusia karena itu ia mengambil kuliah di jurusan yang mempelajari seluk beluk kejiwaan manusia itu. Tapi, dia gagal menyadari perilaku aneh kakaknya. Kakaknya benci dengan baju lengan panjang, tapi kenapa akhir-akhir ini dia selalu memakai jaket? Dan kakaknya tidak pernah mengunci kamarnya.

Laras tersenyum kecut saat ia sadar apa yang disembunyikan kakaknya di dalam kamarnya. Ya, pisau buah milik ibunya. Memangnya apa lagi yang kakaknya sembunyikan di balik jaketnya selain luka sayatan di kedua lengannya itu?

'Self-harm.'

Mungkin luka-luka itu tidak bisa mengalihkan luka jiwa kakaknya sehingga ia lebih memilih pergi dari dunia fana ini. Kembali air mata jatuh dari matanya. Kenapa ia bisa tidak menyadarinya selama ini?


"Kak, apa Kakak bahagia sekarang? Terserah apa yang dikatakan orang lain terhadapmu. Bagiku, Kakak akan selalu menjadi panutanku dan kakak terhebat yang pernah kumiliki," bisiknya di sela tangisnya.
.
.
.
.
.
Fin

Girls in the Dark - Akiyoshi Rikako (Review)

Posted by Unknown at 14:41 0 comments


Judul : Girls in the Dark / Ankoku Joshi
Pengarang : Akiyoshi Rikako
Tebal : 279 halaman
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Nona Aubree
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : Kana Otsuki
Ilustrator : @teguhra
Penerbit di Indonesia : Penerbit Haru


Sinopsis


Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi ....

Bagi yang ingin mengganti suasana hati dari bacaan novel romansa atau remaja lainnya, mungkin novel bertema misteri ini cocok untuk dibaca. Misterinya tidak seberat novel misteri karya Agatha Christie, tapi efeknya lumayan membekas. Pembawaan novel ini juga berbeda dari novel-novel pada umumnya, rasanya seperti kita dibawa ikut masuk ke ruangan, tempat 'para tokoh' ini berkumpul.

Dari awal membaca, saya sendiri sudah curiga kalau yang 'rusak' itu Itsumi sendiri. Berhubung dia bersekolah di sekolah perempuan dari kecil, kecurigaan saya bertambah. Dan saya sendiri agak sedikit kaget saat tahu kalau laki-laki yang 'dekat' dengan Itsumi ti guru sastranya sendiri ... belum lagi sahabatnya yang ternyata jauh lebih serem daripada Itsumi.

N or M? - Agatha Christie (Review)

Posted by Unknown at 11:36 0 comments


Judul : N or M? / N atau M?
Pengarang : Agatha Christie
Tebal : 280 halaman
Alih Bahasa : Mareta
Desain & Ilustrasi Sampul : Satya Utama Jadi
Penerbit di Indonedia : PT Gramedia Pustaka Utama


Sinopsis


Sebagai mata-mata terkenal, Tommy dan Tuppence Beresford terlibat dalam salah satu kasus mereka yang paling membingungkan di tengah ketegangan awal Perang Dunia II.
Dua agen Hitler yang paling dipercaya berada di Inggris. N adalah laki-laki ... M adalah wanita. Keduanya pakar yang hebat dalam penipuan ... dan pembunuhan.
Di pondokan terpencil di tepi pantai, dengan penghuni-penghuni yang kelihatan tak berdosa, Tommy dan Tuppence mencium jejak rencana jahat yang melibatkan spionase, penculikan, dan pembunuhan.

Kali ini bukan Hercule Poirot atau Miss Marple yang akan menjadi detektif tapi ada Tommy dan Tuppence, pasangan mata-mata yang sangat romantis.

Aduh, mungkin karena tema buku yang berisi perang ditambah mata-mata, penyadapan, penculikan dan lain sebagainya, rasanya agak sedikit sulit ditangkap. Ceritanya seperti kita sedang bermain petak umpet tapi entah siapa yang sedang diajak bermain, intinya sulit. 

Dan akhir cerita ini menjadi kurang greget karena saya sudah berhasil menebak siapa mata-mata Jerman di sini. Kedoknya mudak ditebak karena di Indonesia sudah banyak yang berkedok seperti itu, tapi masalahnya tidak sebesar menjadi mata-mata ... hanya masalah pengemis yang memang suka 'membawa anak orang lain' untuk menjadi kedoknya.


 

My Rosemary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review